Bab 8 – Panggung dan Kebenaran

1021 Kata
“Bukan karena nama, tapi karena keberaniannya menjadi diri sendiri.” Kalimat itu keluar dari bibir Alya seperti kilatan petir yang membelah malam. Ruangan yang sebelumnya riuh dengan tepuk tangan kini berubah menjadi sunyi, hanya tersisa degup jantung yang menggema di telinga Alya sendiri. Lampu sorot masih menyorot wajahnya, menciptakan bayangan tegas yang memperjelas garis-garis kepercayaan diri di matanya. Dia berdiri tegak, meski kakinya sedikit gemetar. Tangannya yang memegang mikrofon kini menggenggam lebih erat. Alya menarik napas dalam-dalam. Di hadapannya, ratusan pasang mata menatap dengan berbagai ekspresi: terkesima, bingung, kagum, bahkan… iri. Tapi dia tahu, ini adalah saatnya. Waktu di mana dia tidak lagi sembunyi di balik bayangan Reyhan. Ini adalah panggungnya, dan dia memilih untuk berdiri di atasnya sebagai Alya—bukan istri dari Reyhan Al-Fahreza, bukan penulis viral, tapi dirinya sendiri. "Aku... aku tidak pernah membayangkan akan berada di sini," lanjutnya. Suaranya tenang namun penuh getaran emosi. "Bertemu kalian semua, berbagi cerita yang aku tulis dari kamar kecil di rumah kontrakan dulu. Semua ini, bukan karena aku ingin terkenal. Tapi karena aku ingin kalian tahu, kita semua punya cerita. Dan setiap cerita layak untuk didengar." Tepuk tangan kembali pecah. Kali ini lebih hangat, lebih jujur. Dari barisan kursi VIP, Reyhan berdiri. Sorot matanya lembut, bangga, dan… penuh cinta. Ia tahu, panggung itu bukan lagi tentang dirinya yang kaya, atau tentang status mereka sebagai pasangan. Ini tentang Alya. Tentang seorang perempuan yang bertumbuh, yang kini berdiri di atas panggung kehidupannya sendiri. Setelah selesai, Alya menunduk hormat. Saat dia melangkah turun dari panggung, manajer acara segera mendekatinya. “Luar biasa, Mbak Alya. Ini bukan cuma peluncuran buku, ini peluncuran semangat hidup,” ucapnya dengan senyum lebar. Alya hanya tersenyum kecil, matanya mencari satu sosok di antara kerumunan. Dan ketika pandangan mereka bertemu—mata hangat Reyhan yang memandanginya seperti dunia hanya terdiri dari satu orang—Alya merasa semua ini memang pantas diperjuangkan. --- Setelah Acara Di belakang panggung, suasana sedikit lebih tenang. Alya duduk di sofa kecil sambil memijat kakinya yang pegal karena heels. Reyhan datang membawa segelas air mineral, duduk di sampingnya. “Kamu luar biasa,” katanya pelan. Alya tersenyum, tapi kemudian tatapannya berubah serius. "Tapi tetap saja... aku takut." "Takut kenapa?" "Takut aku tidak bisa jadi cukup untukmu. Dunia kamu terlalu jauh dari aku. Lihat tadi, semua orang berebut foto, wawancara, undangan acara. Aku cuma perempuan biasa." Reyhan meraih tangannya. "Kamu bukan perempuan biasa, Alya. Kamu adalah satu-satunya yang bisa membuatku merasa... pulang." Alya memalingkan wajah, menahan air mata. --- Keesokan Paginya Judul berita mulai tersebar: “Alya, Penulis Viral Ternyata Istri Reyhan Al-Fahreza!” “Cinderella Modern: Dari Penulis w*****d ke Dunia Konglomerat” “Apakah Buku Alya Hanya Populer Karena Reyhan?” Berita-berita itu menyebar seperti api di musim kemarau. Tak butuh waktu lama, akun media sosial Alya dibanjiri komentar. Beberapa mendukung: "Akhirnya, perempuan cerdas yang bisa bersinar meski suaminya tajir!" "Alya inspirasi banget!" Namun tidak sedikit juga yang merendahkan: "Jelas aja laku, ada suaminya yang support!" "Cuma nebeng nama besar Reyhan!" Alya terpaku di depan layar, jari-jarinya gemetar saat membaca komentar demi komentar. Ia ingin membalas, ingin menjelaskan, tapi Reyhan menutup laptopnya pelan. “Mereka tidak tahu apa yang kamu perjuangkan. Kamu tidak harus menjelaskan semuanya.” “Tapi mereka menyakiti aku…” Reyhan memeluk Alya dari belakang. "Aku tahu. Dan aku juga sakit saat melihat kamu seperti ini. Tapi kita bisa lewati ini, asal kamu tetap jadi dirimu." Alya terdiam. Di balik pelukannya, dia tahu… perjalanan ini belum selesai. --- Hari-Hari Setelahnya Alya mulai sibuk dengan tawaran wawancara, undangan ke podcast, dan banyak media yang ingin meliputnya. Tapi semua itu menjadi beban saat komentar negatif terus mengalir. Sampai suatu hari, Alya memutuskan untuk kembali ke tempat yang selalu jadi pelariannya: rumah ibu. Di sana, dia duduk di dapur, menikmati teh hangat buatan ibunya. “Bu… kenapa orang jahat itu lebih cepat percaya hal buruk daripada hal baik?” tanyanya lirih. Ibunya tersenyum. “Karena orang yang tak bahagia, akan selalu mencari alasan untuk menyalahkan orang yang bahagia.” “Jadi aku harus apa?” “Bahagia. Lebih keras. Biar mereka lelah sendiri.” Kata-kata itu menampar batinnya dengan lembut. Sejak saat itu, Alya mulai menulis lagi. Tapi kali ini, bukan untuk pembaca. Untuk dirinya sendiri. Untuk mengingatkan dirinya bahwa dia berhak berdiri di panggung, bukan karena Reyhan, tapi karena dirinya. --- Dunia Mereka yang Berbeda Namun masalah belum selesai. Reyhan mulai ditekan oleh keluarga besarnya. Sebuah rapat keluarga besar diadakan—dengan nada yang lebih mirip interogasi daripada diskusi. “Reyhan, kamu itu pewaris utama keluarga. Kamu tidak bisa sembarangan menikah tanpa memberitahu kami!” ucap pamannya. “Bahkan tanpa restu keluarga besar,” timpal bibinya. “Bagaimana kalau image keluarga tercoreng?” Reyhan berdiri. Tegas. “Image keluarga? Maaf, tapi aku tidak menikahi Alya untuk image. Aku menikahinya karena dia adalah satu-satunya yang membuat aku merasa hidup.” Ruang itu hening. Reyhan tahu, dia sedang melawan bukan hanya tradisi, tapi juga ekspektasi yang dibangun sejak ia kecil. Tapi dia juga tahu satu hal: dia lebih memilih kehilangan warisan daripada kehilangan Alya. --- Alya Mengetahui Tekanan Itu Reyhan tidak pernah menceritakan semuanya. Tapi Alya tahu. Dia melihat mata Reyhan yang mulai lelah setiap malam. Dia melihat ponsel Reyhan yang sering berdering dan tak dijawab. Dia tahu, semua ini bukan hanya tentang cinta mereka—ini tentang dunia yang belum siap menerima mereka. Malam itu, di balkon rumah, Alya memeluk Reyhan dari belakang. “Kamu tahu kan, kalau aku juga bisa pergi kalau itu membuat hidupmu lebih tenang?” Reyhan menoleh, menatapnya dalam. “Jangan pernah bicara begitu lagi.” “Tapi—” “Kalau kamu pergi, aku juga akan pergi dari semua ini. Keluarga, bisnis, nama besar. Tanpa kamu, semua itu tidak ada artinya.” Dan malam itu, di bawah cahaya bulan, mereka berjanji. Untuk saling menggenggam, sekuat apa pun badai yang datang. --- Penutup Bab 8 Alya kini tahu, mencintai Reyhan bukan hanya tentang membangun rumah bersama. Tapi juga tentang menantang dunia, mempertahankan jati diri, dan menerima luka yang datang bersamanya. Panggung itu bukan hanya miliknya, tapi milik mereka berdua. Dan mereka akan terus berdiri di atasnya, hingga akhir cerita. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN