Bab 10 Jejak yang Ditinggalkan Cinta

919 Kata
“Mungkin… aku salah menilainya.” Kalimat lirih itu bergema di ruang keluarga besar rumah keluarga Reyhan. Bu Ratna duduk dengan tenang di kursi empuk berwarna krem muda, matanya tak berkedip menatap layar televisi yang menayangkan siaran langsung penampilan Alya di panggung talkshow terkenal malam itu. Bukan hanya kata-kata Alya yang menggetarkan hatinya, tapi ketulusan yang terpancar dari mata menantunya. Ia mengingat kembali tatapan pertama saat Alya datang memperkenalkan diri, tampak canggung, sederhana, dan begitu "biasa" menurut standar keluarga mereka yang aristokrat. Namun, malam itu, kata-kata Alya menghantam tembok prasangka yang telah ia bangun bertahun-tahun. Di studio, Reyhan masih duduk di balik kamera. Ia tidak peduli bahwa banyak kru sudah mulai sibuk membongkar peralatan. Pandangannya hanya tertuju pada satu sosok: Alya. Istrinya. Perempuan yang berhasil membuka mata banyak orang, termasuk ibunya sendiri. Ia berdiri perlahan dan berjalan menghampiri Alya yang masih dikerumuni beberapa penonton dan host acara. “Permisi,” ujarnya sopan sambil tersenyum. Alya menoleh, matanya langsung melembut begitu melihat wajah suaminya. “Kamu luar biasa,” ucap Reyhan singkat namun penuh makna. Alya tersenyum kecil. “Aku hanya bicara dari hati.” “Dan itu yang membuatmu menyentuh hati banyak orang.” Reyhan menggenggam tangan istrinya. Hangat. Penuh keyakinan. Mereka melangkah keluar dari studio diiringi tepuk tangan dari beberapa kru dan penonton. Udara malam menyambut mereka dengan sejuk, berbeda dari malam-malam sebelumnya. Ada sesuatu yang terasa lebih ringan di d**a Alya. --- Keesokan harinya, berita tentang penampilan Alya menyebar luas di media sosial. Potongan video saat ia berkata “Yang membuat seseorang istimewa, bukan nama atau kekayaan. Tapi keberaniannya menjadi diri sendiri,” menjadi viral. Banyak netizen menulis komentar penuh kekaguman, memuji keberanian Alya yang berbicara jujur di tengah tekanan status sosial. Namun, pujian bukan satu-satunya yang datang. Beberapa akun gosip mulai mengorek latar belakang keluarga Alya. Beberapa orang yang iri atau tidak suka mulai menulis komentar sinis. Di ruang makan rumah keluarga Reyhan, Bu Ratna menatap layar ponsel sambil menyeruput teh hangat. Ia membaca satu komentar negatif yang menyinggung asal-usul Alya. Tapi entah kenapa, kali ini ia tidak marah, tidak khawatir. Ia malah membuka aplikasi pesan dan mengetikkan sesuatu. --- [Chat dari Bu Ratna – ke Alya] "Nak, kalau sempat… mampirlah makan siang ke rumah. Ibu ingin bicara baik-baik." Alya terdiam saat membaca pesan itu. Reyhan, yang melihat perubahan ekspresi istrinya, langsung bertanya, “Ada apa?” Alya memperlihatkan layar ponsel. Reyhan membaca pesan ibunya dan tersenyum. “Sepertinya Ibu mulai membuka hatinya.” Alya mengangguk pelan. “Tapi aku takut… semua ini cuma sementara.” “Tak ada yang pasti, kecuali keberanianmu untuk tetap jadi dirimu sendiri.” Reyhan menyentuh pipinya lembut. “Dan itu, yang tidak akan pernah bisa diambil siapa pun darimu.” --- Siang itu, mereka berdua tiba di rumah keluarga Reyhan. Rumah mewah dengan arsitektur Eropa klasik itu masih membuat Alya merasa kecil setiap kali menginjakkan kaki di halamannya. Tapi hari ini, langkahnya lebih mantap. Bu Ratna menyambut mereka di ruang makan dengan meja yang telah ditata rapi. Makanan favorit Alya disajikan di atas meja—nasi goreng kampung buatan chef istana keluarga, tumis kangkung, dan ayam goreng tepung. Hal sederhana tapi penuh makna. “Duduklah,” ujar Bu Ratna dengan nada lebih lembut dari biasanya. Alya dan Reyhan duduk, saling melirik. Setelah beberapa detik hening, Bu Ratna akhirnya bicara. “Aku menontonmu semalam, Alya.” Alya hanya mengangguk. “Aku... mengira kamu hanya gadis biasa yang tidak tahu dunia kami. Tapi ternyata, kamu lebih kuat dari yang kubayangkan.” Alya menelan ludah. “Saya hanya berusaha menjadi diri sendiri, Bu.” “Itulah yang membuatmu istimewa.” Bu Ratna menatap mata Alya dalam-dalam. “Mungkin selama ini aku terlalu keras... terlalu takut Reyhan akan terluka jika menikah dengan orang yang salah. Tapi kamu bukan orang yang salah. Kamu orang yang tepat.” Ucapan itu membuat mata Alya berkaca-kaca. Ini adalah pengakuan yang selama ini ia harapkan. “Ibu…” Reyhan ikut terharu. “Jangan terlalu terharu, Reyhan,” ujar Bu Ratna setengah bercanda. “Aku belum menyerahkan kendali perusahaan padamu.” Ia tersenyum kecil, membuat suasana cair. Alya tertawa pelan, lalu menyeka air mata. “Terima kasih, Bu.” --- Hari-hari berikutnya berjalan cepat. Tawaran wawancara dan undangan menjadi pembicara di berbagai acara membanjiri email Alya. Beberapa bahkan menawarkan kerja sama penulisan buku. Alya memilih untuk menulis memoar singkat—bukan tentang kekayaan suaminya, tetapi tentang perjuangannya sebagai perempuan biasa yang masuk ke dunia yang asing, dan bagaimana ia tetap menjadi dirinya sendiri. Judul bukunya? "Bukan Karena Nama." Buku itu laris dalam hitungan minggu. Banyak perempuan muda merasa terinspirasi dan merasa tidak sendirian. Kisah Alya menyentuh mereka yang merasa tidak cukup, tidak layak, atau tak terlihat di dunia yang terlalu mengagungkan nama dan uang. Namun, di balik kesuksesan itu, Alya dan Reyhan sadar bahwa dunia luar tidak selalu bisa mereka kendalikan. Yang bisa mereka pegang hanya cinta dan kepercayaan satu sama lain. --- Suatu malam, setelah mereka selesai menonton ulang tayangan pertama Alya di TV, Reyhan menatap istrinya yang duduk bersandar di sofa. “Kamu tahu…” Reyhan mulai bicara. “Apa?” tanya Alya sambil menguap kecil. “Dulu aku pikir, aku yang akan menyelamatkanmu dari dunia yang kejam ini. Tapi ternyata, kamulah yang menyelamatkanku.” Alya tersenyum, matanya menghangat. “Kita saling menyelamatkan, Reyhan.” Mereka berpelukan, dan dalam diam, tahu bahwa apa pun yang akan datang… mereka akan menghadapinya bersama. Dan di luar sana, dunia masih berputar. Tapi bagi Alya, tak ada lagi rasa takut. Karena kini, ia tahu siapa dirinya, dan ia tak lagi sendiri. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN