“Aku tahu semuanya.”
Suara Alya tenang. Tapi di balik ketenangan itu, Reyhan bisa melihat matanya bergetar, seperti permukaan air yang baru saja dilempar batu kecil. Tangannya gemetar, namun tetap menggenggam flashdisk yang masih terpasang di laptop.
Reyhan menatap layar. Cuplikan video terakhir masih terbuka. Wajahnya sendiri tampak di sana—berbicara dengan pria paruh baya, Pak Harun, orang kepercayaan ayahnya. Suara mereka terdengar jelas: rencana awal perjodohan, pilihan Reyhan untuk ‘mencari istri dari rakyat biasa’, dan… permintaan agar Alya tidak mengetahui alasan sebenarnya mereka bertemu.
“Kau datang ke warung waktu itu bukan karena takdir,” kata Alya. “Tapi karena rencana.”
Reyhan mendekat, mencoba meraih tangannya. Tapi Alya mundur.
“Biarkan aku menjelaskan.”
“Jelaskan apa, Reyhan?” Suaranya mulai naik. “Bahwa sejak awal hidupku ini sudah seperti panggung sandiwara? Bahwa setiap senyummu… setiap kata-katamu… sudah kamu susun? Bahkan mungkin kamu tahu makanan kesukaanku dari laporan orangmu?”
“Alya, dengar dulu. Ya, awalnya memang seperti itu. Tapi semuanya berubah—aku berubah!”
Alya memeluk dirinya sendiri, seperti ingin meredam perih yang mulai menyeruak dari d**a.
“Aku pikir... kau mencintaiku karena aku. Karena Alya yang polos, yang sederhana. Tapi ternyata aku hanya alat. Objek eksperimen. Barang yang kau pilih karena… kau butuh istri yang ‘gak berbahaya’ untuk bisnis keluargamu.”
Reyhan berjalan ke jendela. Ia menatap kota Jakarta yang masih gemerlap. Tapi hatinya gelap.
Ia menarik napas panjang.
“Alya… saat aku pertama kali bertemu kamu, ya, aku memang niatkan untuk memilihmu jadi istri karena alasan keluarga. Tapi… sejak malam kita duduk bareng di warung dan kamu cerita soal hidupmu, soal impianmu... aku jatuh cinta.”
Alya hanya menatapnya. Kosong.
“Kalau kau benar mencintaiku, kenapa tak bilang dari awal?” tanyanya pelan.
“Karena aku takut,” jawab Reyhan jujur. “Takut kehilanganmu sebelum aku punya kesempatan membuktikan kalau rasa ini nyata.”
---
Malam itu, Alya tak tidur di kamar. Ia mengambil bantal dan tidur di sofa ruang tamu. Reyhan membiarkannya. Ia tahu, tak ada kata maaf yang cukup untuk menyembuhkan luka yang dihasilkan oleh kebohongan.
Pagi harinya, saat Reyhan bangun, Alya sudah tidak ada.
Di atas meja, hanya ada secarik kertas:
> Aku butuh waktu untuk sendiri. Jangan cari aku. Alya.
---
♢
Alya naik bus ke kota kecil di pinggiran Bogor, tempat sahabat lamanya, Nisa, tinggal bersama suaminya.
Saat melihat Alya berdiri di depan pintu dengan wajah lelah dan mata sembab, Nisa langsung memeluknya.
“Kamu kenapa? Ada apa?”
Alya menangis dalam pelukannya.
Di malam itu, Alya menceritakan segalanya. Dari awal hingga akhir.
Nisa mendengarkan, menahan emosi.
“Reyhan memang salah karena nggak jujur. Tapi aku lihat cara dia mandang kamu di media sosial... Alya, cowok itu jatuh cinta. Beneran.”
Alya menggeleng. “Tapi luka yang dia buat terlalu dalam, Nis. Aku bahkan gak tahu lagi siapa dia. Mungkin semua yang dia lakukan selama ini cuma akting.”
“Kalau dia akting, dia aktor terbaik sedunia,” Nisa menimpali. “Karena cuma cinta yang bisa bikin pria kaya rela tidur di warung, bantu ngelap meja, dan pura-pura gak punya apa-apa hanya buat dekatin kamu.”
---
Di sisi lain, Reyhan frustasi. Ia mencari Alya ke semua tempat yang mungkin ia datangi: rumah pamannya, tempat kerja lamanya, hingga ke stasiun. Tapi nihil.
Karina kembali muncul, seolah menjadi penyelamat di waktu yang salah.
“Sudahlah, Rey,” ucap Karina di kantornya. “Dia pergi karena dia tahu dia gak cocok hidup di duniamu.”
Reyhan memejamkan mata. “Kamu salah. Justru dia yang paling layak. Karena dia gak pernah berpura-pura.”
Karina mendesis. “Berhentilah menipu dirimu sendiri. Alya tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari keluarga Mahendra. Dan ayahmu sudah bersiap mencabut semua hakmu jika kamu terus menolak rencana perjodohan dengan Clara.”
“Biarkan dia cabut,” kata Reyhan tegas. “Aku lebih rela kehilangan semuanya daripada kehilangan Alya.”
---
♢
Tiga hari kemudian, Alya berdiri di pinggir danau kecil dekat rumah Nisa. Angin sore membelai rambutnya.
Pikirannya campur aduk. Ia rindu Reyhan. Senyumnya. Pelukannya. Ketika ia menatap mata pria itu, ia tahu—di balik kebohongan itu, ada cinta yang tumbuh. Tapi luka di hatinya belum sembuh.
Tiba-tiba, seseorang berdiri di sampingnya.
Reyhan.
Alya terdiam.
“Aku tahu kamu di sini,” ucapnya pelan. “Nisa kirim pesan ke aku.”
Alya tak menoleh.
Reyhan melanjutkan, “Kalau kamu masih ingin pergi setelah ini, aku gak akan mengejarmu lagi. Tapi izinkan aku bicara satu kali saja.”
Alya menunduk.
“Aku memang datang ke warung kamu dengan rencana. Tapi aku tidak pernah merencanakan jatuh cinta. Semua itu terjadi begitu saja. Cara kamu tertawa, cara kamu membela kejujuran, cara kamu melihat hidup... semua itu bukan bagian dari rencanaku. Tapi sekarang, kamu adalah satu-satunya yang aku mau dalam hidupku.”
Ia mengeluarkan cincin dari sakunya.
“Dulu aku gak sempat kasih ini. Karena kita menikah dengan tergesa-gesa. Tapi hari ini… aku ingin ngelamar kamu lagi. Bukan sebagai Reyhan pewaris Mahendra, tapi Reyhan, pria biasa yang cinta mati sama kamu.”
Alya menatap cincin itu. Air mata mengalir pelan.
“Apakah kamu akan mempercayaiku lagi?”
Alya mendekat. Menatap matanya dalam-dalam.
“Aku bukan perempuan yang mudah percaya. Tapi aku juga bukan perempuan yang mudah menyerah.”
Lalu ia tersenyum, meski air matanya belum kering.
“Aku pulang bersamamu. Tapi kali ini, kita mulai dari awal. Tanpa rahasia.”
Reyhan tersenyum lega.
Dan di tengah senja yang mulai turun, keduanya berjalan bersama kembali ke mobil. Cinta mereka mungkin pernah retak, tapi sekarang, mereka akan membangun ulang dari dasar. Lebih kuat. Lebih jujur. Lebih nyata.
---