“Rosalina. Papaku Tommy. Papaku terlalu meratapi kesedihannya karena kehilangan kakakku, Vincent. Dia meninggal dalam kecelakaan tragis bersama kekasihnya. Meninggal di tempat secara bersamaan. Papaku dituntut ganti rugi oleh keluarga Keira karena terdapat banyak tanda-tanda kepemilikan di tubuh Keira.
“Ya. Mereka mati dalam keadaan setelah bercinta. Entahlah! Keira divisum di bagian alat vitalnya. Terdapat m**i sisa pergulatan itu. Orang tua Keira mencuri kesempatan itu dengan meminta ganti rugi.”
Kayla manggut-manggut lagi. “Aku paham, Jason. Kematian kakakmu terlalu janggal. Hingga kini, belum tau … penyebab kematiannya? Tidak melihat dari rekaman CCTV yang ada di mobil?”
Jason mengendikan bahunya. “I don’t know. Mamaku tidak mau mengusutnya lagi. Papa hanya menurut. Tapi, hingga kini, papaku masih terlihat murung.”
Kayla tidak bisa banyak komentar. Kemudian mengusapi lengan pria itu sembari mengulas senyumnya.
“Kasih adalah adiknya mamaku. Berapa lama, kamu menjalin cinta dengan bibiku?”
Jason terperangah mendengar pernyataan Kayla. “Bibimu?” tanyanya sembari menganga.
Kayla mengangguk. “Sama seperti aku saat tahu jika kamu merupakan mantan kekasih bibiku yang telah berhasil merenggut nyawanya.”
“Ma—maksud kamu? Kasih, meninggal?”
Lagi, Jason tak tahu menahu jika Kasih sudah pergi di sepuluh tahun yang lalu. “Aku dan Kasih baru menjalin hubungan kurang lebih enam bulanan. Tidak lebih dari itu. Aku tidak pernah sempat berkenalan dengan keluarganya yang katanya berada di Ambon, Palembang dan Padang. Hanya ada dia di sini. Itu pun, karena dia sedang melanjutkan studi S-3 di sini.”
“Oh! Lantas, mamaku tahu dari mana? Mungkin, saat itu mamaku sedang ikut dinas dengan Papa di Palembang. Cukup lama. Mereka ke Jakarta karena mendengar kabar kematian Aunty Kasih.”
Jason kembali mengendikan bahunya. “Kasih hanya masa laluku. Dia sudah tergantikan oleh Miranda. Dan kini, sudah tergantikan pula oleh kamu. Yang sudah berhasil mendobrak pertahanan aku untuk tidak terhasut oleh rayuan mautmu itu.”
Kayla tersenyum miring. “Jangan salahkan aku, Jason. Aku hanya menawarkan. Jika tidak minat, kamu tidak akan pernah membelinya. Karena kamu tertarik dan berminat, itu salahmu.” Kayla tak mau kalah.
Pria itu lantas meraup bibir Kayla karena gemas. “Kamu selalu pintar memutar balikan fakta, Honey. Merugilah, pria yang sudah meninggalkanmu itu. Jadilah milikku. Aku akan memberimu bahagia sampai nanti kita benar-benar bisa bersama.”
Jason menarik tubuh Kayla. Rasanya tak bisa untuk tidak menyentuh wanitanya itu. Akhirnya, pergulatan menjelang pagi hari pun dilaksanakan. Sebab Kayla yang sudah terkontaminasi oleh permainan Jason, ia menginginkan lagi dan lagi sentuhan yang diberikan oleh Jason kepadanya.
**
Pagi hari tiba.
Sarapan telah siap untuk disantap. Layaknya seorang istri yang menyiapkan sarapan untuk suaminya. Itulah yang sedang dilakukan Kayla di pagi hari ini.
“Morning!” sapanya sembari memeluk Kayla dari belakang. Kemudian menghidu aroma parfum yang dipakai Kayla di bagian lehernya. Semakin membuat Jason terpikat atas tubuh wangi dan menantang itu.
“Sarapan dulu, Jason. Nanti terlambat. Sudah jam setengah delapan,” kata Kayla kemudian melepaskan tangan kekar Jason yang melingkar di pinggang rampingnya.
“Honey!” panggil Jason kemudian.
“Ya?” sahutnya kemudian melahap sandwich miliknya.
“Bisakah kita seperti ini, selamanya?”
Kayla bingung. Ia benar-benar belum bisa mencintai pria itu lantaran niatnya bukan untuk menaruh hati kepadanya.
“Kamu … benar-benar mencintaiku?” tanya Kayla memastikan.
Jason mengangguk. Ia mengakui jika dirinya sangat mencintai Kayla. “Kamu adalah perempuan yang cocok dalam segala hal.”
“Jason! Kamu selalu membandingkan aku dengan istrimu. Seolah kamu menyesal karena sudah menikah dengannya. Tapi, kamu selalu bilang kalau kamu tidak pernah berniat untuk mengkhianatinya. Ada denganmu, Jason? Kamu tahu, karena ucapanmu itu membuatku tak yakin untuk menaruh hati padamu!” tegas Kayla memberi tahu.
Jason mendesah kasar. “Karena ada anak-anak yang membutuhkan Miranda, Kayla. Dan aku membutuhkanmu. Bukan semata-mata karena aku hanya menginginkan Miranda seoran—“
“Dan kamu sedang meruntuhkan rumah tanggamu sendiri dengan menaruh hati padaku,” sarkas Kayla memotong ucapan Jason. “Maaf! Untuk saat ini aku hanya memerankan peranku. Menjadi pemuas nafsumu. Itu saja.”
Bahkan, perempuan itu terus menerus mengingatkan posisinya pada Jason. Hanya pemuas nafsu, bukan untuk ia jadikan sebagai tempat untuk menaruh hatinya.
‘Niat awalku hanya untuk menghancurkan Miranda dan adiknya. Menyimpan namamu di hatiku rasanya tidak mungkin. Bualan kamu membuatku tak percaya jika kamu hanya akan mencintaiku. Bukan bahagia yang aku dapat, melainkan penderitaan.’
“Kayla. Bukankah kamu juga menikmati sentuhanku?”
“Jason! Hubungan itu bukan hanya di ranjang. Tapi, kesepakatan antar dua hati. Aku tidak percaya padamu karena mulutmu sendiri. Yang dengan mudahnya mengatakan cinta padaku, menggodaku, berniat ingin ada di sampingku selamanya. Tapi, kamu masih menginginkan Miranda dengan alasan anak-anak. Apa yang bisa aku percaya padamu?”
Kayla terlihat emosi. Akhirnya Jason hanya bisa menelan saliva dengan pelan. Ia mengangguk sembari menatap Kayla dengan dalam.
“Bisma … adalah pria yang sudah meninggalkanmu, kan?”