Belanja bersama Syasya

1317 Kata
Freya tersenyum ketika melihat Agam yang masih duduk diam di tempat makan mereka. Makanan dan minuman yang tadi Syasya pesan sudah berada di atas meja. Tetapi Agam masih belum menyentuh makanan miliknya. Freya dan Syasya pun berjalan menuju meja tersebut. "Kenapa belum lo makan makanan lo?" tanya Freya kepada Agam. Agam menatap Freya dan Syasya yang sudah kembali. "Lama bener kalian ke kamar mandi. Buang air kecil atau Mandi di sana?" Tanya Agam. Ia sudah sedikit bosan menunggu kedatangan Freya dan Syasya. Freya dan Syasya saling pandang dan tersenyum menanggapi perkataan Agam. Mereka pun langsung duduk di kursi mereka. "Urusan wanita. Pria yang boleh tau." Balas Freya lagi. Agam hanya menggelengkan kepalanya. "Selamat menikmati." Ucap Syasya kepada Freya dan Agam. Freya dan Agam hanya tersenyum. Mereka pun menikmati makanan mereka dengan nyaman. Canda tawa juga tercipta diantara mereka bertiga. Freya merasa sangat baikan dengan berbincang dengan Syasya tadi. ia merasa sangat bahagia malam ini. Makan malam dan juga orang-orang yang ada di sekitarnya ini membuat Freya merasa seperti di kelilingi orang yang menyayangi dirinya. Setelah acara dinner malam mereka, Freya, Agam dan Syasya langsung melanjutkan menuju supermarket untuk berbelanja. Freya sangat ingin membeli beberapa cemilan untuk dirinya. Semenjak ia hamil ini, ia sangat sering lapar ditengah malam. Untung saja jarak dari restauran tempat mereka makan tadi ke supermarket yang ingin mereka kunjungi tidak terlalu jauh. hanya membutuhkan waktu sepuluh menit menggunakan mobil. Freya mengambil satu troli untuk dirinya sendiri. Sedangkan Agam, ia juga membawa satu Troli. Syasya hanya mengikuti mereka berdua. Freya memulai belanja di bagian berbagai macam cemilan ringan. Ia langsung mengambil beberapa cemilan tanpa berpikir. Ia juga mengambil beberapa coklat yang ia sukai. Freya menoleh ke samping. Ia baru menyadari jika Syasya tidak mengambil satu pun jajanan di sini. "Kamu kok gak ambil trolinya? Kamu gak mau belanja?" tanya Freya kepada Syasya. "Enggak, Mbak. Saya nemanin mbak sama pak Agam saja." Balas Syasya. "Gak boleh gitu. Kamu juga harus beli. Ambil apapun yang kamu mau dan taruh di troli ini. Oke?" Ucap Freya. Syasya pun hanya menganggukkan kepalanya. Ia pun mulai memilih apa yang hendak ia beli. Freya yang melihat itu langsung tersenyum. Freya baru menyadari jika Agam tidak berada di sampingnya lagi. Freya mencoba untuk menyusuri pandangan nya. Ia masih belum dapat melihat keberadaan Agam. "Sya.. kita cari Agam yuk. Dia kok gak ada ya. Nanti dia nyasar lagi." Tutur Freya. Syasya pun meletakkan makanannya di dalam troli Freya dan langsung menganggukkan kepalanya. mereka pun berjalan menyusuri rak-rak makanan ini untuk mencari keberadaan Agam. Tidak lama mencari, Syasya dapat melihat Agam yang sedang berjalan menuju ke arah mereka. Syasya melambaikan tangannya. "itu Pak Agam, Mbak." Tutur Syasya menunjuk ke arah Agam. Freya menghela napas panjang melihat isi troli dari Agam. Setelah Agam sudah berada di depannya ia menatap tajam Agam. Sedangkan Agam, ia malah tersenyum tanpa dosa. "Kenapa Frey?" tanya Agam tanpa dosa. "Lo sengaja banget kan?" Tanya Freya balik. Agam tertawa melihat raut wajah Freya. Syasya hanya tersenyum. Ia tidak mengerti arah pembicaraan Freya dan Agam. "Frey sayuran bagus untuk kesehatan. Apalagi lo lagi hamil gini. Jadi kita harus konsumsi sayuran dan buah yang banyak." Tutur Agam. "Iya gue tau bagus. Tapi gak usah sampai setengah troli gini lo beli sayurannya. Entah sayuran apa aja lagi itu. Lo tau rasa sayuran itu kayak rumput. Gak enak!" Ucap Freya. "Biar sehat, Freya.." Balas Agam lagi. Freya menggelengkan kepalanya. Ia hendak berjalan lagi menuju makanan yang hendak ia ambil. "Frey.. kita harus beli s**u lo dulu." Ucap Agam. "s**u untuk apaan? Gue gak suka minum s**u. Minum teh manis aja nanti." Balas Freya. "Ck.. gimana sih lo. s**u untuk ibu hamil lah. Biar anak lo sehat. Ayo kita beli!" Ajak Agam. Freya mau tidak mau pun berjalan mengikuti Agam. Syasya tersenyum canggung melihat interaksi antara Freya dan Agam. "Mbak emang harus minum s**u. Biar bayinya sehat. Nanti juga kalau mbak ke dokter pasti di suruh. Mbak nanti juga pasti akan disuruh minum banyak vitamin. Biar sehat kandungan nya." Jelas Syasya kepada Freya. "Males banget minum-minum vitamin begituan. Hamil emang merepotkan, ya." Balas Freya. "Jangan bilang gitu, mbak. Keadaan yang sekarang ada di mbak ini, selalu diharapkan oleh beberapa orang. Jangan pernah menyia-nyiakan apa yang udah di kasih sama Tuhan." Balas Syasya dengan lembut. Freya selalu merasa kagum dengan kata-kata yang diberikan oleh Syasya. Syasya terlihat sangat dewasa dengan kata-kata nya yang selalu benar dan memotivasi. Mereka akhirnya sampai di depan rak bagian persusuan. Agam dengan semangat melihat-lihat s**u yang akan ia beli untuk Freya. "Frey rasa Coklat aja kan? lo gak suka Vanila kan?" tanya Agam. Freya pun langsung menganggukkan kepalanya. "Beli berapa. Lima kotak?" tanya Agam. "Gak dong Agam.. itu kebanyakan. Satu aja dulu." Balas Freya. "Oke." Ucap Agam. Tetapi bukan satu kotak yang ia letakkan. Tetapi tiga kotak s**u. Freya menghela napas melihat kelakuan dari Agam. "Satu Agam." Tutur Freya ketika melihat Agam meletakkan tiga kotak s**u tersebut di dalam Troli. "Nanti cepat habisnya kalau satu. Kita harus punya stok. Jadi kita ambil tiga. Atau ambil Empat aja ya?" Tanya Agam lagi. Freya yang mendengar itu langsung menggelengkan kepalanya. "Tiga aja udah lebih dari cukup kok. Ayo kita cari yang lain." Tutur Freya. Mereka pun berjalan untuk mencari keperluan yang lain. Freya mengambil beberapa bungkus pembalut ke dalam trolinya. Agam yang melihat itu langsung menghampiri Freya. "Lo ngapain ngambil pembalut?" tanya Agam kepada Freya. "Masa harus gue jelasin lagi sih Agammm.. ya ini untuk gue pakai. Gue ini kan wanita tulen. Jadi gue harus punya pembalut. Ngerti gak sih? Padahal dari SD udah diajarin tentang beginian." Tutur Freya. Agam terdiam sesaat. "Iya gue tau Freya.. Tapi kan lo lagi hamil. Lo gak akan menstruasi selama beberapa bulan ke depan. Jadi ngapain lo beli beginian.." Balas Agam. "Oh iyya. ngapain gue beli ini. Lo bener ternyata." Balas Freya. Ia pun kembali meletakkan pembalut yang sudah ia letakan di troli, ke rak seperti semula. Agam hanya tersenyum melihat tingkah Freya yang seperti ini. Bisa-Bisanya ia lupa akan hal sepele seperti ini. "Enak banget ya jadi gak usah beli pembalut-pembalut lagi. Hemat uang jadinya." Tutur Freya lagi. "Jadi lo mau hamil terus gitu?" Tanya Agam. "Yakali. Gak lah!" sahut Freya. Syasya tertawa melihat Freya. "Udah selesai belanjanya?" tanya Agam kepada Freya dan Syasya. Mereka berdua pun langsung menganggukkan kepalanya. Akhirnya mereka pun berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaan yang mereka ambil. Freya hendak mengeluarkan kartu nya ketika berada di depan kasir. Tetapi dengan cepat Agam langsung menghentikan nya. "Gue yang bayar." Balas Agam. "Gak usah. Gue masih ada uang kok." Tutur Freya. "Gue yang bayar Freya. lo sama Syasya tunggu di sana aja." Ucap Agam sambil menunjukkan kursi yang tersedia. Freya pun mengalah. Ia dan Syasya pun berjalan meninggalkan Agam dan menunggu Agam. "Pak Agam baik banget ya, Mbak." Ucap Freya ketika mereka berdua sedang duduk sambil melihat ke arah Agam. "Iya. Dia emang gitu orang nya. Sangat baik." Balas Freya. Freya tersenyum menatap ke arah Agam. "Beruntung banget wanita yang akan dapatin Pak Agam." Balas Syasya. Freya menganggukkan kepalanya. Ia sangat setuju dengan perkataan Syasya. "Kamu gak ada niat untuk dekatin Agam? Mana tau dia tertarik sama kamu." Balas Freya. Syasya langsung tertawa mendengar tawaran Freya untuk mendekatkan diri kepada Agam. "Gak mungkin lah mbak. Saya tau diri kalau soal beginian. Lagian se- penglihatan saya, pak Agam seperti nya sudah memiliki seseorang di hati nya. Terlihat sangat jelas." Balas Syasya. Freya yang mendengar itu langsung menoleh kearah Syasya. "oh ya? Kamu yakin akan hal itu?" Tanya Freya dengan semangat. "Yakin banget saya." Balas Syasya. "Wah.. senang banget saya kalau gini. Tapi siapa ya kira-kira yang Agam suka. Kok dia gak pernah bicarain tentang hal ini." Tutur Freya. Syasya tersenyum mendengar hal itu. Padahal terlihat sangat jelas semuanya. Tetapi Freya masih belum menyadarinya. Syasya menatap Freya. Freya sangat beruntung bisa dicintai oleh seseorang seperti Agam. Syasya sangat menyayangkan jika Freya tidak menyadari semua hal ini. Bahkan ia sebagai orang baru saja, bisa langsung menyadari semuanya. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN