Ibu guru Alice begitu lihai dalam memberikan pertolongan pada Daren, tangan ibu guru Alice yang kecil itu bisa menyembuhkan luka memar dengan sihir pemulihannya. Setelah memastikan Daren telah diobati, Ibu guru Alice juga mengecek keadaan tubuh Ryder, lalu keluar dari ruang rawat. Ryder meraih buku yang ada di meja kecil dekat tempat tidurnya, setelah beberapa jam membaca buku sihir kuno, Daren sadar dari tidurnya dan menatap Ryder dengan sinis.
"Kau, apa yang kau lakukan disini?" tanya Daren.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau seperti pecundang yang kalah dari medang perang," jawab Ryder.
"Ini semua karena Freya, dia terlalu sombong dengan kekuatannya," balas Daren kesal.
"Bukankah kau yang memulai perkelahian?" tanya Ryder.
"Diamlah, aku sedang kesal!!" bentak Daren.
"Kenapa kau kesal? Apa karena kau dikalahkan oleh perempuan," ucap Ryder.
"Tidak, aku hanya ingin menguji kekuatanku, tapi ternyata aku dikalahkan begitu cepat," ungkap Daren.
"Daren, kekuatan itu ada untuk membantumu menjadi kuat tapi tidak digunakan hanya untuk menyombongkan diri," tutur Ryder.
Daren tampak terdiam beberapa saat, lalu tidur kembali karena tidak ingin mendengar ucapan Ryder.
Ibu guru Alice masuk, Ryder yang sedang duduk pun membalas senyuman ibu guru Alice. Waktu makan siang pun tiba, Ryder berjalan bersama Daren menuju kantin asrama. Mereka berdua seperti anak kecil yang sedang bermusuhan, tidak ada yang saling berbicara bahkan jarak mereka begitu jauh. Mata Daren menatap punggung Ryder begitu tajam, sesekali Ryder melirik Daren lalu menghela nafas pelan.
"Punggungku bisa berlubang dengan tatapanmu," ucap Ryder.
Daren terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, Ryder terkekeh kecil dan masuk ke kantin asrama. Dari jauh Natalia melambaikan tangan pada Ryder, dengan cepat Natalia menghampiri Ryder di kantin untuk makan bersama. Saat Ryder memilih makanan, Freya masuk ke kantin, mata mereka saling bertatapan namun dengan cepat Freya mengalihkan pandangannya ke arah Natalia yang berdiri di samping Ryder.
"Aku ingin bertemu Freya dulu, nanti kita makan bersama yah," ucap Natalia pergi meninggalkan Ryder.
Mata Freya mengikuti pergerakan Natalia, mereka berdua berdiri di depan kantin sambil membawa masing-masing kotak makanannya.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu," ucap Natalia.
"Apa yang kau ingin tanyakan?" tanya Freya dingin.
Natalia mendekatkan badannya, lalu tersenyum tipis.
"Apa kau cemburu padaku tuan putri?" tanya Natalia.
Freya menarik leher baju Natalia dengan kasar, kedua perempuan itu saling menatap begitu tajam. Freya yang sadar dengan tingkahnya yang keterlaluan pada Natalia, segera mundur dan menjauh.
"Melihat tingkahmu sejak kemarin lalu, aku paham dengan apa yang kamu rasakan. Tapi, Ryder adalah bonekaku dan kau tidak boleh memilikinya," ungkap Natalia.
"Ryder hanya manusia biasa dan dia tidak bodoh," tekan Freya.
"Terserahlah, aku tidak peduli, aku permisi dulu," pamit Natalia.
Freya hanya bisa diam, karena kenyataanya Ryder sepertinya sangat akrab dengan Natalia, tidak ada cela untuknya dalam kehidupan Ryder. Perasaan peduli pada seorang pria yang baru dia kenal, membuat Freya kasihan pada Ryder.
"Aku akan berusaha mendekatinya nanti," gumam Freya.
"Mendekati siapa?" tanya Laila.
Freya terlonjak dari tempatnya, lalu mencubit pipi laila kesal karena membuatnya terkejut.
"Kamu sejak tadi berdiri disini, jadi aku menghampirimu," tutur Laila.
"Kamu memang yang terbaik lailaku, ayo kita makan," ajak Freya.
Ryder menunggu Natalia kembali duduk, mereka berdua bisa makan bersama lagi. Perasaan bahagia terpancar di wajah Ryder sejak tadi, biasanya Ryder selalu sendiri namun sekarang Natalia menemaninya makan bersama.
"Makanlah yang banyak," ucap Natalia.
"Kamu juga, makan yang banyak," sahut Ryder.
"Setelah makan kamu ingin kemana?" tanya Natalia.
"Aku harus ke ruang kesehatan lagi, Ibu Alice memintaku istirahat selama seminggu," jawab Ryder.
"Jadi kamu tidak masuk kelas hari ini? Freya memang jahat, padahal kamu sudah membantunya sadar, tapi dia malah memberimu racun mematikan," balas Natalia.
"Aku juga tidak menyangka itu akan terjadi, tapi ini juga bukan salah Freya. Akulah yang berinisiatif sendiri untuk membantunya," terang Ryder.
Natalia mendengus kesal, mendengar Ryder membela Freya di hadapannya.
"Tapi-"
"Aku tau kamu khawatir, tapi tenang saja aku sudah sehat kembali sekarang, lanjutkan makanmu lalu kembali ke kelas," sela Ryder.
Natalia mengangguk pasrah, dia tidak bisa terus menerus menjelek-jelekan Freya. Seluruh murid menatap Ryder dan Natalia heran, karena kedekatan mereka yang tidak pernah nampak di lingkungan akademi.
Freya berdiri dari tempat duduknya, membawa piring kosong menuju tempat pencucian. Tiba-tiba Freya tertabrak hingga badannya terhuyung kebelakang dan piring yang di pegangnnya jatuh. Freya berdiri tegap dengan cepat untuk menyeimbangkan badannya, lalu menatap wajah Ryder kesal. Ternyata yang menabrak Freya hingga jatuh adalah Ryder, mata mereka bertemu dan hanya ada tatapan kekesalan diantara mereka berdua. Natalia menepuk punggung Ryder, membuat Ryder tersadar. Freya membuang muka dan mengambil kembali piringnya yang terjatuh namun Natalia menendang piring itu hingga bergerak menjauh dari tangan Freya. Natalia terkekeh kecil, lalu menggandeng tangan Ryder di depan Freya. Nafas Freya semakin memburu, jika bukan karena Ryder pasti Freya telah menampar wajah perempuan itu dengan keras.
Sedangkan Ryder hanya menatap Freya datar, dan tidak mengatakan apapun.
"Freya, aku akan membawanya untukmu," sahut Evan.
Seketika senyum terukir indah di wajah Freya, sifat Evan yang baik memang sangat membantunya. d**a Ryder terasa berdenyut sakit membuat Ryder berdeham keras, lalu berjalan dengan cepat melewati Freya tanpa menatapnya sedikitpun.
"Dasar pengecut," lirih Natalia melewati Freya yang sedang menatapnya tajam.
Melihat Freya begitu kesal, Laila datang dan menenangkannya.
Ryder memegang dadanya yang terasa aneh, Natalia yang telah pergi ke kelas membuatnya bingung sendiru dengan apa yang dirasakannya. Ibu Alice yang melihat tingkah Ryder, mendatangi tempat tidur Ryder.
"Ryder, apa kamu merasa ada yang sakit?" tanya Ibu Alice.
"Aku hanya merasa dadaku sakit saat di kantin tadi bu," jawab Ryder.
"Kau terlalu rakus saat makan mungkin," celetuk Daren.
Sejak Ryder dan Daren berpisah di kantin, Daren hanya mengambil makanan lalu membawanya ke ruang kesehatan. Daren hanya ingin sendiri, namun melihat Ryder bertingkah aneh membuat Daren penasaran.
"Bukan, dasar bodoh," sinis Ryder.
"Daren, kamu tenang dulu yah," pinta Ibu Alice.
Daren segera mengangguk patuh, dan menutup mulutanya rapat-rapat, hanya menatap Ryder malas.
"Coba ibu cek," ucap Ibu Alice.
Sihir pendeteksi Ibu Alice Aktif, memindai tubuh Ryder dengan cepat.
"Kamu baik-baik saja, mungkin itu efek samping obat saja, jadi sekarang beristirahatlah," tutur Ibu Alice.
"Baik bu," balas Ryder.
Setelah memeriksa keadaan Ryder dan Daren, Ibu Alice pun keluar dari ruang kesehatan menyisakan dua pria yang sedang sibuk dengan pikiran mereka sendiri.