Berlahan pintu kamar remaja itu terbuka, menampilkan sosok pemuda dengan raut wajah kacau. Xiaoshan tersenyum, ia bersyukur karena setidaknya Jonatan mau mendengarkan dirinya. “Kau, ok?” tanyanya, sembari menyingkap rambut basah remaja di hadapannya. “Em.” Hanya anggukan pelan yang Jonatan ucapkan. Selanjutnya Xiaoshan mengajak Jonatan untuk memasuki kamarnya, menyuruh anak itu untuk menceritakan semua perihat apa yang tengah terjadi padanya. “Kenapa kemu marah dengan mama. Hm? Kasihan mama dia sekarang bersedih.” Jonatan terdiam, ia sendiri tidak tau kenapa begitu emosional sekali, ia bahkan tak bisa mengontrol dirinya sendiri, yang ada di dalam otaknya hanyalah marah dan marah. Maklumlah ... masa remaja, masih dalam mode labil. “Maafkan aku, Om.” Lirihnya. “Minta maaf pada mama,

