Adara melipat kedua tangan di d**a, menatap ke arah rintik hujan yang mendadak turun membasahi bumi. Tatapan matanya kosong, wajahnya tak memberikan ekspresi apapun yang berarti. Hanya wajah datar, hanya ekspresi tak terbaca yang perempuan itu keluarkan. Sepulang dari café pikirannya begitu berkecamuk. Banyak sekali hal-hal yang membuatnya bingung dan semakin kalut. Ia tak berbohong hatinya serasa berbunga, cahaya serasa masuk menerangi hatinya yang gelap. Tapi tetap saja ia tak mendapatkan ketenangan apapun. Ia tak merasakan kelegaan apapun. . . . “Lalu sekarang ... bagaimana? Kau sudah bertemu dengan Gabriel? Apa Gabriel sudah menemuimu?” Bukannya menjawab, Adelia justru menyeringai kecil, menatapnya tajam sebelum mengalihkan pandangan ke arah lain. “Apa yang sedang be

