Adara ... datanglah. Aku menunggumu. Sepanjang perjalanan Adara memandang kertas kecil ditangannya dalam diam. Sementara kepalanya terus bekerja, berpikir, mencari petunjuk akan pengirim bunga yang memintanya datang ini. Siapa yang memintanya datang? Mengapa ia merasa dia begitu memohon dan menginginkannya datang untuk bertemu? Hatinya di selimuti ketakutan dan kekhawatiran, akan tetapi hatinya mengatakan ia harus pergi, ia harus menemui orang ini sekalipun ia tak tahu akan tujuannya. “Miss Adara, silahkan turun, sudah sampai.” Adara mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya, ia mendongak menatap sebuah villa mewah yang ada dihadapannya. Adara tak kunjung beranjak, ia masih diam di tempat seraya memandangi tempat asing ini. Ketakutan semakin menguasainya, keraguan

