“Seharusnya kau membangunkanku lebih pagi Paula. Bagaimana jika dosen umumnya killer? Oh ... jangan sampai aku tidak di masukkan ke dalam ruangan. Ini pertarungan terakhirku demi lulus untuk mengerjakan tugas akhir.”
Seorang gadis mungil tak hentinya menggerutu sepanjang perjalanan pada seorang gadis lain yang lebih tinggi darinya. Bibirnya terus saja bergerak dengan cepat, tak kalah cepat dengan langkah kakinya yang diburu waktu. Gadis mungil itu, Kyra. Gadis yang hanya setinggi pundak teman-temannya. Gadis yang selalu tampak sederhana dengan pakaian-pakaian yang juga tampak sederhana. Sementara itu di sampingnya adalah Paula, sahabatnya yang ia temui semenjak kuliah. Seorang gadis yang berpenampilan jauh lebih mewah dari Kyra.
“Berhentilah mengeluh Kyra! Kita masih memiliki waktu lima menit sebelum dosen datang.”
“Kalau aku dalam masalah. Ini salahmu.”
“Ya! Kenapa menyalahkanku? Salahmu sendiri mengapa semalam mengajakku clubbing?”
“Kyra! Paula!”
Kedua gadis itu mengalihkan pandangan pada seorang lelaki yang sudah duduk di barisan tengah ruangan itu. “Gabriel!” Seru Kyra lalu mendudukkan diri di samping lelaki itu. Ia menghela nafas pelan. “Syukurlah ... dosennya belum datang.”
“Lagipula kenapa datang di waktu mepet? Tak biasanya.”
“Kyra mengajakku clubbing semalam, jadi kami bangun kesiangan. Tapi sejak di perjalanan Kyra terus saja mengomeliku padahal itu kesalahannya. Salah sendiri clubbing di saat penting begini.”
Kyra mendesis. “Aku sudah katakan padamu, aku sedang membutuhkan ide-ide cemerlang, aku sedang membutuhkan inspirasi untuk tugas akhirku dan kau tahu sendiri, mabuk adalah jalan ninjaku.”
“Lalu ... kau mendapatkan idenya?” kali ini Gabriel yang bertanya.
Paula melongos mendengar pertanyaan itu. “Tentu saja, seharusnya dapat. Kau tau Gab? Semalam Kyra mabuk berat gara-gara Rich and Rare, lalu di tambah lagi dengan Grey Goose yang sangat mahal dan kadar alkohol yang tinggi. Akan sangat sia-sia dia meminum Grey Goose jika tidak mendapatkan hasil apapun.”
“Tentu saja aku mendapatkannya. Lihat saja nanti, karyaku akan menjadi karya termahal. Lebih mahal daripada Grey Goose yang aku minum. Tapi ... sungguh ... Pau, Gab. Grey Goose benar-benar seenak itu, rasanya terasa sedikit membakar. Sekalipun aku sudah mabuk, aku masih bisa merasakannya dengan jelas bagaimana minuman itu mengalir di tenggorokanku.”
Paula menggelengkan kepalanya mendengar kalimat itu. Sementara lelaki itu ... Gabriel, sahabat Kyra dan Paula sejak dua tahun belakangan ini, mengerutkan keningnya. Lelaki yang tiga tahun lebih tua dari mereka berdua itu kemudian menatap Kyra penuh selidik. Seharusnya Kyra tidak sepayah itu dalam minum, biasanya dia akan kuat minum jika hanya satu atau dua gelas. Jadi ... menengar Kyra yang mabuk berat, rasanya terasa janggal. Baru saja Gabriel hendak membuka mulutnya untuk bertanya, suara langkah kaki menggema, membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu terdiam, sunyi seraya mengalihkan pandangan pada sumber suara. Termasuk Gabriel.
Keheningan ... membuat langkah kaki itu terdengar semakin menggema ... penuh intimidasi.
Setelah menyiapkan alat tulis, Kyra mengalihkan pandangan pada Paula yang membulatkan mata ketika menatap ke arah dosen untuk kuliah umum mereka. Ia menatap ke arah dosen itu sesaat lalu menatap ke arah Paula lagi lalu mendesis. “Tutup mulutmu Paula, sebelum lalat masuk.”
“Lagipula berlebihan sekali. Dia memang tampan, tapi ... tidak menarik. Ah! Aku lupa, karena dia terlihat kaya ya? Type-mu sekali.”
Paula mendelik. “Kau serius tak ingat dia? Sama sekali tak mengingatnya? Sedikitpun tak mengingatnya?” tanya Paula yang hanya di hadiahi tiga gelengan berturut-turut.
“Demi Neptunus! Kyra! Dia itu ... lelaki yang minumannya kau rebut semalam.”
“APA?!”
Seketika semua pandangan tertuju pada Kyra. Termasuk lelaki yang berada di podium. Mata kira mengerjap beberapa saat kemudian bergumam maaf sebanyak tiga kali sebelum menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangan di atas meja.
Kyra menendang kaki Paula, yang di balas dengan tendangan juga hingga sukses membuatnya meringis sakit. Malu ia sungguh malu. Semoga saja lelaki itu tidak mengenalinya, semoga lelaki itu sudah lupa dengan wajahnya dan semoga saja ia tidak di pertemukan lagi dengan lelaki itu. Ya ... semoga. Karena jika ia di pertemukan lagi dengan lelaki itu dan dia mengenalinya, itu bisa jadi bencana, ia tak tahu akan menaruh muka dimana.
Sepanjang kuliah umum Kyra tidak mengangkat wajahnya sama sekali, ia hanya mencatat dari yang ia dengar dengan sesekali mengintip ke arah layar. Tidak ... ia tidak menatap lelaki itu, ia tidak menatapnya sama sekali karena ia sudah cukup malu, ia sudah cukup tahu malu di depan lelaki itu. Ia tak ingin membuat lelaki itu mengingatnya dan membuatnya semakin malu. Tidak. Ia tidak mau.
.
.
.
Selesai kuliah Kyra segera melangkahkan kakinya keluar ruangan, meninggalkan Paula dan Gabriel yang masih mengobrol di dalam ruangan itu. Ia ingin segera pergi dari ruangan itu, sebelum lelaki itu keluar dari ruangan yang sama dan memergokinya. Sungguh ... ia sangat malu. Setelah semalam dengan tak tahu malunya merebut minuman mahal lelaki itu, lalu tadi membuat kegaduhan di kelas, ia tak mau menanggung malu lagi seandainya berpapasan dengan lelaki itu.
Duk!
“Ah!” Kyra meringis, ia memegangi keningnya yang serasa menabrak dinding keras. “Sial ... K ... uhuk!” Kyra terbatuk, suaranya tercekat, nafasnya tersendat hingga membuat suaranya tertahan di tenggorokan. Tubuhnya terkesiap, bulu kuduknya berdiri, tubuhnya merinding seketika.
Mata Kyra yang membulat bergulir panik beberapa saat kemudian menatap ke arah iris tajam lelaki tampan itu. Ya ... tampan, wajah lelaki itu memang sangat tampan. Bahkan ia berani bertaruh bahwa semua yang ada pada lelaki itu sangat sempurna, Wajah, tubuh ... ia yakin semuanya sempurna.
Kyra mengerjapkan matanya beberapa ketika sadar dengan pikiran nakalnya. “M—Maaf ... Maafkan saya ... Sekali lagi maafkan saya.” Kyra membungkuk dua kali kemudian melangkahkan kakinya kembali meninggalkan lelaki itu. Melangkahkan kakinya dengan cepat, berusaha menjauh secepat mungkin dari jangkauan lelaki itu. Tanpa menyadari lelaki yang sama menatapnya dengan intens diiringi dengan seringaian yang menghiasi wajah tampan itu.
“Satu kali lagi kau bertemu dengan gadis itu tanpa di sengaja, dia akan benar-benar menjadi takdirmu Gerald.”
Gerald melirik Algio kemudian mengeluarkan seringaiannya lagi. “Sepertinya ... dia memang takdirku.”
.
.
.
“Kau ini kenapa seperti baru saja bertemu dengan setan?” tanya Paula saat melihat Kyra yang tidak henti-hentinya meneguk air mineral. Setelah habis satu gelas gadis itu meneguknya lagi, hingga kini tiga gelas penuh sudah Kyra habiskan.
“Ini lebih buruk daripada setan Pau. Ini sangat buruk!” seru Kyra dengan sangat dramatis seraya menghentakkan gelas di tangannya. Mata bulatnya menatap Paula, memberikan ekspresi yang menggebu-gebu. “Ini sangat amat buruk Pau.”
Kyra mengguncangkan tubuh Paula dengan sangat kencang, kemudian menjambak pinggiran rambutnya dengan kedua tangan. “Pau tadi ... aku tanpa sengaja menabrak lelaki itu! Demi Saturnus! Aku sangat malu. Apalagi dia menatapku seperti aku ini orang aneh. Mau di taruh dimana wajahku? Itu sangat memalukan!”
“Tapi kau memang aneh Ky, semalam kau tiba-tiba merebut minumannya. Pagi ini kau menjadi mahasiswa yang membuat keributan di kelas, begitu pulang kau menabrak tubuhnya. Aku tak heran jika dia mengira kau sedang berusaha menarik perhatiannya. Sekarang dia pasti mengira kau sengaja menggodanya Kyra.”
“Apa?” Mata Kyra membulat. “Aku menggodanya? Oh man ... please. Mana mungkin aku melakukannya? Demi semua alat lukisku. Aku tidak sengaja Paula. Aku. tidak. sengaja.” Seru Kyra lagi dengan sangat menggebu-gebu.
“Tapi kita tak tahu ‘kan apa yang dia pikirkan?”
Suara decakan keras terdengar. “Sudah, jangan berdebat. Mengapa kalian memikirkan hal itu? Kau bertingkah seperti akan bertemu dengan lelaki itu lagi saja Ky. Padahal belum tentu juga kalian bertemu kembali.”
Kyra mengalihkan pandangan pada Gabriel yang baru saja muncul di hadapan mereka berdua. Senyumannya mengembang, seolah mendapatkan harapan yang cerah untuk masa depannya. “Benar! Kau benar Gabriel! Aku tak mungkin bertemu dengannya lagi. Lalu apa yang harus aku khawatirkan? Kenapa aku harus malu?” senyuman Kyra menyungging sempurna, lalu menghembuskan nafas. “Hahh ... aku lega.”
“Ucapanku memang benar.” Ujar Gabriel dengan bangga.
“Tapi kita tidak tahu yang namanya takdir Tuhan Kyra. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan.” Timpal Paula yang membuat mata Kyra kembali membesar lalu berseru kencang.
“Jadi kau menyumpahiku bertemu dengannya lagi Pau?!”
“Aku tidak menyumpahi. Aku hanya mengingatkanmu babe.” Paula mengusak puncak kepalanya perlahan. “Sudahlah, sekarang aku harus bekerja keras melayani pelanggan agar Miss Adelia memberikanku banyak bonus untuk bersenang-senang. Bye bye ... Sweety.”
Kyra mendengus pelan seraya mengeratkan apron yang sudah membingkai tubuh mungilnya. “Aku juga harus bekerja keras, demi segelas Grey Goose mahal itu. Aku harus bisa merasakannya kembali.” Tekad Kyra.
“Kyra.” Gabriel menahan lengannya. Ia berbalik menatap lelaki itu dengan wajah penuh tanya.
“Kenapa Gab?” Kyra berbalik ke arah Gabriel yang menatapnya dengan begitu lembut.
“Tidak bisakah kau mengganti kebiasaanmu Kyra? Terlalu sering mengonsumsi minuman beralkohol tak baik untukmu.”
Kyra menyunggingkan senyumannya. “Tak apa Gab, aku akan menjaga pola hidupku agar seimbang dengan itu.”
“Bukan begitu maksudku ... .”
“Aku tahu maksudmu Gab, kau hanya khawatir padaku bukan? Apalagi ketika aku terlalu sering keluar malam. Tapi mau bagaimana lagi Gab? Ideku muncul hanya saat aku sedang mabuk.”
“Kau bisa belajar menggunakan cara lain Ky, ubah itu ... aku yakin kau bisa menemukan cara lain, hanya masalah waktu saja.”
Kyra menganggukkan kepala, tangan kanannya terulur menepuk bahu Gabriel beberapa kali. “Aku mengerti kekhawatiranmu Gab, aku juga berpikir untuk mengubah kebiasaanku tapi untuk sekarang ... tidak. Tugas akhir di depan mata. Aku harus memberikan karya terbaikku untuk tugas akhir. Aku ... aku akan pikirkan untuk berubah setelah itu.”
Gabriel menatapnya dengan tatapan yang sangat intens. “Kau berjanji?”
Kyra mengangguk. “Aku berjanji akan berusaha mengubah kebiasaanku itu. Sudah ... aku akan kedepan. Saatnya bekerja.” Kyra berlalu begitu saja meninggalkan Gabriel yang masih berada di belakang café. Setelah itu ia menyapa para pelanggan yang datang dengan suara lantang dan penuh keceriaan.
“Selamat datang ... apa yang ingin anda pesan?”
Gabriel menatap tubuh mungil Kyra yang mulai melangkah dengan cekatan melayani pelanggan. Satu tahun ini mereka bertiga memang bekerja di salah satu café yang terletak tak jauh dari kampus mereka, Paula bekerja karena ingin mendapatkan uang untuk bersenang-senang, Kyra demi melunasi biaya kuliah dan membeli minuman mahal, sementara dirinya ... hanya mengisi waktu kosong.
“Gabriel kenapa kau masih disini?”
Lelaki itu terjengit lalu menoleh ke arah perempuan anggun yang menyapanya. Lalu menyunggingkan senyuman tipis.
“Maaf Miss. Saya akan segera bekerja.”
.
.
.
Suara hingar bingar musik yang begitu kencang memasuki pendengaran Kyra. Namun hal itu seolah tak ada artinya, gadis itu sedang duduk di salah satu bar seraya mengamati minuman berwarna bening keemasan itu dengan lamat. Malam itu Kyra memutuskan untuk ke tempat ini lagi, menikmati satu teguk minuman mahal hanya untuk mendapatkan ide cemerlang.
Kyra menyunggingkan senyumannya ketika menyadari minuman beralkohol beraroma buah di tangannya tidak sebaik minuman yang ia rasakan tempo dulu. Namun itu cukup membuat kepalanya serasa ringan, melayang dan melambung. Membuat bayangan-bayangan indah berbentuk abstrak menguasai kepalanya, tak lama kemudian senyumannya tersungging seolah baru saja menemukan kebahagiaan yang ia cari.
“Ah ... akhirnya aku menemukannya.” Ujar Kyra sengau.
Setelah dirasa cukup, Kyra mengedarkan pandangannya ke semua arah, mencari keberadaan Paula yang datang bersamanya. Tapi sayang ia tidak menemukan keberadaan sahabatnya itu sama sekali. Hingga ia memutuskan untuk turun dari kursi tinggi itu, untuk mencari keberadaan sahabatnya. Namun kepalanya mendadak serasa berputar, kedua kakinya terasa begitu lemas, perutnya mendadak terasa bergejolak.
Kyra menggelengkan kepalanya beberapa kali, lalu menutup mulutnya. Setelah itu ia melangkahkan kaki seraya memegangi dinding dengan tangan kanan yang masih menutupi mulutnya. Menahan semua gejolak dalam perutnya yang seolah siap untuk keluar.
Oh tidak! Ini buruk. Sebelumnya ia tak pernah seperti ini karena tingkat toleransinya pada alkohol cukup tinggi. Namun ... mengapa beberapa hari ini rasanya ia buruk sekali?
Kyra menggelengkan kepalanya lagi ketika pandangannya semakin berputar, perutnya serasa di aduk semakin bergejolak. Tubuhnya yang serasa lemas semakin limbung, tak bertenaga lagi.
Bruk!
Tubuh Kyra menubruk sesuatu didepannya.
“Ugh!” Kyra mencengkram sesuatu di depannya.
Huek!
Setelah puas mengeluarkan isi perutnya, Kyra kemudian mendongak sesaat sebelum matanya perlahan terpejam.
Kehilangan kesadaran.