Pagi itu Kyra sudah sangat rapih dengan pakaian kerjanya. Celana kain berwarna hitam yang dipadukan dengan kemeja berwarna putih membingkai tubuh mungilnya, tampak begitu rapih. Tak lupa pantofel dengan sedikit heels dan juga sebuah tas yang berada di punggungnya, menambah kesan manis pada pembawaan Kyra. Sementara rambutnya yang biasa ia kuncir kini ia urai dengan poni yang menutup dahi. “Ky.” Kyra mengalihkan perhatiannya pada sang ayah yang memasuki kamarnya. “Papa ... Papa belum berangkat?” “Papa ingin melihat puteri Papa dulu. Kau tak merindukanku? Hm?” Kyra menyunggingkan senyumannya sebelum memeluk sang ayah sesaat, lalu menatap mata lelah lelaki paruh baya itu. “Tentu saja Kyra rindu ... tapi Papa pasti sedang sibuk ya? Kemarin saja Papa pulang terlambat.”

