Narin duduk di tepi laut seraya bermain pasir, menuliskan namanya dengan nama Karan di atasnya. Narin tersenyum kecil, sampai kapan dia bisa bertahan? Menikah dengan Karan memang impiannya, tapi kehidupan setelah pernikahan benar-benar menguras tenaganya dan juga mentalnya. Seorang suami seharusnya bisa menjadi tempat bercerita, berkeluh kesah, saling mengerti dan menghargai. Sayangnya Karan tidak seperti itu, nasibnya begitu buruk. "Sendirian, dimana suamimu?" Kelvan datang, berdiri di samping Narin. Narin mendongak, sinar matahari yang menerpa wajahnya membuat dahi Narin berkerut, menatap pria tinggi, putih, dan juga tampan. Siapalagi kalau bukan Kelvan. Narin kembali menatap ke depan, Kelvan duduk di sampingnya dan bertanya, "Apa kamu tidak takut denganku lagi?" Narin menggeleng pel

