2. Pak Beruang Kutub

1269 Kata
Aku meninggalkan kediaman Sultan dengan perasaan gusar. Menyebalkan sekali, pagi-pagi begini sudah dibuat badmood karena ulah tiga orang itu. Bertindak seenaknya tanpa memikirkan perasaanku sama sekali. Mereka hanya memikirkan keuntungan mereka saja. Kulajukan mobilku dengan kecepatan sedang. Membelah jalan raya yang tampak sibuk dengan lalu lalang kendaraan. Ini memang sudah masuk jam berangkat kantor. Artinya aku akan terlambat karena aku belum bersiap sama sekali. Gara-gara tante Nirina yang memintaku datang kesana hanya untuk membicarakan hal nggak penting seperti itu. Kutambah kecepatan mobilku agar segera sampai di rumah. Aku harus segera ganti baju dan berangkat ke kantor. Jangan bingung kenapa anak konglomerat sepertiku masih harus kerja di kantor. Karena ini juga keinginan calon ibu mertuaku tersayang. Tante Nirina bersikeras agar aku bekerja di perusahaan mereka agar aku mengerti peran dan tanggung jawab sebagai nyonya Atmawijaya. Padahal, beliau sendiri sama sekali tidak bekerja. Bahkan mungkin buta dengan urusan perusahaan. Lalu kenapa aku harus bekerja keras dengan bekerja menjadi staf mereka? Dengar kan? STAF. Aku bekerja dari bawah. Sejak aku masih kuliah sudah mulai part time menjadi staf bagian perencanaan di perusahaan mereka. Dan selama enam bulan terakhir ini, aku sudah naik jabatan menjadi asisten manager. Seperti yang tadi aku katakan. Aku perempuan dengan segudang prestasi membanggakan. Bahkan ayahku yang dingin dan gila kerja itu saja tidak pernah menyuruhku bekerja di perusahaan keluarga kami. Tapi tante Nirina sepertinya memang sengaja membuatku agar tidak betah menjadi tunangan Sultan. Ingat kan kata-kataku? Tante Nirina tidak menyukaiku sejak dulu. Jadi dia berusaha menyiksaku dengan berbagai cara. Termasuk menyuruhku bekerja. Tapi jangan salah. Aku bukan gadis manja yang tidak bisa melakukan apapun. Aku malah senang bisa bekerja di Atma group. Hitung-hitung mencari pengalaman. Karena, perusahaan keluargaku tidaklah sebesar perusahaan atmawijaya. Jadi, kenapa harus bersedih saat kita menerima kesempatan bagus? "Dari mana kamu?" Ayah sudah berkacak pinggang di depan pintu kamarku ketika aku sampai. Matanya melotot menandakan kemarahan yang teramat sangat. Aku memang tidak sempat meminta ijin saat pergi tadi karena terburu-buru. "Dari rumah Sultan, Ayah." Jawabku tenang. Karena Ayah tidak akan pernah marah jika aku melakukan hal yang berhubungan dengan keluarga Atmawijaya. Tentu saja karena hal itu akan menguntungkan keluarga kami jika aku dekat dengan mereka. Ayahku memang lebih peduli pada keuntungan perusahaan dari pada aku, anak gadis satu-satunya di keluarga ini. "Oh baguslah. Kamu memang harus mendekatkan diri dengan mereka. Bersikap baiklah pada keluarga calon suamimu itu." Kata Ayah dengan ekspresi lembut. Jengah, tentu saja. Dia hanya akan bersikap baik padaku jika apa yang aku lakukan menguntungkan baginya. Entahlah... Sebenarnya, apa aku ini anak pungut? Kenapa Ayah tidak pernah menampakkan kasih sayang padaku? Berbeda dengan kedua kakak lelakiku yang selalu mendapat pembelaan dari Ayah. Meski mereka berbuat salah sekalipun, Ayah akan selalu memaafkan mereka dan justru memintaku, yang notabene anak yang paling kecil, untuk mengalah kepada kedua kakakku. Hanya karena gender, Ayah membedakan kasih sayangnya. Karena menurutnya, Anak lelaki itu sangat berharga. Mereka lah yang nantinya akan meneruskan perusahaan. Tidak sepertiku yang anak perempuan, hanya berharga untuk ditukar dalam pernikahan. "Iya Ayah." Jawabkku singkat. Sengaja aku tidak menceritakan apa yang terjadi di rumah atmawijaya, Aku sudah terlambat. Bisa panjang urusannya kalau sampai ayah tahu tentang masalah ini. Aku harus bergegas bersiap-siap agar tidak mendapat kritik pedas dari beruang kutub yang menjadi atasanku. Karena dia terkenal sangat kejam pada bawahannya. Aku bergegas masuk ke kamarku dan mengganti pakaianku dengan pakaian kerja. Aku memang belum berhijab, tapi aku selalu menjaga pakaianku agar tidak terlalu ketat dan terlihat sopan. Aku bukan penggila fashion yang harus selalu memakai pakaian model terkini dari brand-brand ternama. Tapi bukan berarti aku kuno dan tidak modis ya. Aku tetap menjaga penampilan dengan gayaku sendiri. Selesai dengan pakaianku, bergegas aku ke ruang makan untuk mengambil sandwich yang sudah tersedia. Tanpa duduk aku langsung pamitan pada Ayah dan kedua kakakku karena aku sudah sangat terlambat. Tanggapan mereka? Tentu saja cuek seakan tidak peduli dengan keberadaanku. Aku sudah tidak terkejut lagi dengan sikap mereka. Kembali ku arungi jalan raya yang padat merayap ini. Memacu mobil secepat mungkin agar sampai di kantor secepatnya. Sesekali kugigit sandwich yang tadi aku bawa dari rumah. Aku tidak ingin meninggalkan kesan buruk pada rekan kerjaku. Karena bahkan tanpa aku melakukan kesalahanpun, sudah ada saja orang yang tidak menyukaiku. Mereka berpikir aku memanfaatkan statusku sebagai calon menantu keluarga atmawijaya untuk bisa bekerja disana. Bingung kan? Harap maklum. Mereka yang berkomentar buruk seperti itu rata-rata adalah orang dari kalangan menengah kebawah. Mereka tidak tahu, tanpa bekerja pun aku masih bisa hidup mewah dengan bergelimang harta. Untuk apa aku mengemis pekerjaan menjadi staf rendahan coba? "Jingga, kamu di panggil pak bos." Kata Cinta. Teman baikku di kantor ini. Dia anak baru sepertiku. "Sekarang?" Tanyaku. Aku bahkan belum sempat duduk di kursi kebesaranku. Sudah main panggil saja itu pak manager dingin. "Iya, dia manggil sejak jam masuk tadi. Tapi kamunya nggak datang-datang. Siap-siap aja dapat amukan si beruang kutub itu." Kata Cinta setengah berbisik. Bisa jadi masalah besar kalau sampai kita ketahuan memanggil pak bos dengan sebutan beruang kutub. "Duh.. Ada apa ya dia manggil?" Gumamku khawatir. Perasaanku sudah tidak enak saja dari awal. "Udah kesana aja cepet. Semakin lama bisa makin ngamuk tuh pak beruang." Kata Cinta yang semakin membuatku khawatir. Dengan perasaan was was aku berjalan menuju ruangan pak manager yang berada di paling ujung. Aku melapor pada sekretaris yang berada di depan ruangan pak beruang kutub sekedar basa basi bertanya apa beliau ada di dalam. "Langsung masuk saja mbak Jingga. Sudah ditunggu pak Athar." Kata sekretaris bernama Mentari itu. Aku mengangguk sopan dan mengetuk pintu ruangan pak Athar sebelum masuk ke dalam. "Bapak memanggil saya?" Tanyaku begitu kami sudah berhadapan. Aku berada di depan pintu dan pak Athar duduk tegak di kursinya memandang tajam langsung ke kedua mataku. "Sejak kapan jam berangkat kantor berubah menjadi jam 9?" Tanya si beruang kutub dengan nada sedingin es. Oh tuhan... Baru juga kali ini aku terlambat, kenapa langsung saja ketahuan oleh atasan!! Padahal yang lain juga kadang terlambat tapi tidak ketahuan saja. "Maaf pak, tadi ada sedikit urusan jadi agak terlambat." Jawabku dengan menundukkan kepala dalam. Jujur saja aku sedikit takut dengan pak Athar. Auranya itu tuh... Terlalu mengintimidasi. "Saya tidak menerima alasan. Dan lagi, jika memang diperkirakan akan terlambat, bukankah ada keringanan dengan ijin 'datang terlambat'? Bukan malah tidak ada kabar seperti ini!!" Kata Pak Athar masih dengan wajah datarnya. Namun kata-katanya benar-benar menusuk seperti bilah es yang tajam dan dingin. "Maaf pak. Tadi tante Nirina tiba-tiba memanggil saya ke kediamannya. Saya tidak mungkin menolak kan?" Kataku jujur. Pak Athar adalah adik bungsu dari om Hartono. Jadi sedikit banyak dia tahu siapa aku. Tapi entah kenapa sikapnya benar-benar jutek padaku. Apa dia juga memendam rasa tidak suka seperti tante Nirina? Pak Athar melirikku dengan tatapan tajam. Tanpa mengatakan apapun. Tapi tatapannya seakan berbicara betapa dia tidak suka dengan kata-kata yang ku ucapkan. "Ada apa mbak Nirina memanggilmu?" Tanya Pak Athar setelah cukup lama hanya diam saja. Ruangan ini sampai terasa seperti kulkas saking dinginnya aura yang dipancarkan oleh pak beruang. "Tante Nirina ingin aku membatalkan pertunanganku dengan Sultan." Jawabku jujur. Aku tidak peduli meski ini bukan topik yang patut dibicarakan di kantor. Untuk apa juga aku menutupinya? Toh Pak Athar bukan orang lain. Cepat atau lambat dia pasti akan mengetahuinya. Pak Athar tampak terkejut. Wajah kaku dan dinginnya seketika sirna berganti dengan ekspresi terkejut yang menurutku sangat lucu. Jarang-jarang bisa melihat ekspresi lain di wajah kaku seorang Athar. Dia sampai menjatuhkan bolpoin yang sedang dipegangnya saking terkejutnya mendengar apa yang aku katakan. "APA?!!" Teriak Pak Athar. Reaksi yang cukup terlambat. Kelamaan bengong sih. Aku hanya tersenyum simpul menghadapi keterkejutan pak Athar. Setidaknya, aku tidak jadi dimarahi karena datang terlambat pagi ini. --to be continue--
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN