Ini kali pertama aku keluar rumah. Begitu rindunya aku dengan suasana seperti ini.
"Nikmat manakah yang kamu dustakan"
(Qs Ar-Rahman)
Alhamdulillah. Setelah lamanya aku tinggal di negeri ini. Ini kali pertama aku keluar rumah. Sekarang, aku bisa merasakan keindahan alam kembali. Meski aku tidak tahu, bagaimana keadaan teman-temanku di Palestina sana. Ku harap mereka selalu baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wata'ala, batin Aisyah.
Ini kali pertama Aisyah keluar rumah semenjak ia pindah ke San Francisco bersama Pamannya. Ia kini sedang duduk di bibir danau yang terletak didekat taman. Di temani dengan buku diary dan sepeda kesayangannya. Ia begitu asik melihat burung-burung yang berterbangan ke sana kemari, membuat Aisyah tersenyum simpul.
Aisyah membuka sling bag nya, mengambil sebuah pulpen dan mulai menuliskan sesuatu di buku diarynya. "Wahai burung-burung yang indah, terbang lah engkau setinggi yang kalian bisa. Jangan pernah berpikir untuk menyerah sekali pun kau terjatuh, teruslah terbang setinggi-tingginya. Hingga nanti, kau menemukan tempat dimana seharusnya engkau bermukim." Dengan tangan yang terus menuliskan sebuah kata-kata, mulutnya pun tidak lepas dari kata-kata yang ia tuliskan.
Iya, Aisyah sangat hobby menulis. Ia selalu menuliskan kata-kata yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Sudah ada beberapa kata-kata yang ia rangkai dalam buku diary-nya. Entah itu tentang Cinta, tentang sahabat, tentang keluarga, bahkan tentang kematian.
Di saat sedang sibuk menulis, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan seseorang. "Hai?" sapa seorang wanita dengan rambut yang tergerai Indah. "May I sit here?" sambungnya.
Meski awalnya terkejut. Namun, sebisa mungkin Aisyah menetralkan keterkejutannya itu. "Oh, yes. Of course." jawab Aisyah ramah.
"What's your name?"
"My name is Aisyah, and you?"
"I'm Naira".
Naira Christina Alexander
Seorang wanita yang pertama kali dikenal oleh Aisyah. Dia adalah sorang wanita dengan gaya stylish khas orang barat. Dia beragama kristen dan merupakan anak blasteran antara San Francisco dan Indonesia. Namun meski begitu, ia tetap menghargai Aisyah yang beragama Islam dan berpakaian serba tertutup.
Akhirnya, mereka pun saling mengobrol satu sama lain mulai dari nama, tempat tinggal, dan yang lainnya. Setelah pembicaraan panjang itu, ternyata Aisyah tahu bahwa Naira ini mempunyai darah asli Indonesia. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia saja.
Aisyah merasa aneh, kenapa Naira bisa se akrab ini dengannya bahkan dia mau berteman dengan Aisyah. Sedangkan dia tau bahwa mereka sangat berbeda. Aisyah ini wanita muslimah yang sangat tertutup, dan hanya matanya saja yang terlihat. Sedangkan Naira, ia adalah wanita yang stylish khas orang barat. Padahal selama di perjalanan menuju danau tadi, banyak orang-orang yang melihat Aisyah aneh, sinis, bahkan ada juga yang mencibirnya.
"Oh iya, Syah. Kain yang menutupi wajahmu itu, apa? Kak Nai lama tinggalnya di sini. Jadi tidak tahu, apa nama itu. Karena selama tinggal disini, aku belum pernah melihat seorang wanita yang wajah nya di tutupin seperti itu," tanya Naira sambil menunjuk ke muka Aisyah.
"Oh ini?" tanya Aisyah memegang ujung cadarnya. "Ini tuh namanya Niqab kak. Kenapa, kak? Aneh yah?" sambung Aisyah.
"Hah? Mmm ... I-iya, Syah," jawab Naira gugup. Ia takut, jika pertanyaan tadi akan menyinggung perasaan Aisyah.
"Tidak usah gugup, kak. Santai aja," ujar Aisyah dengan kekehan kecilnya. Melihat Aisyah yang biasa-biasa saja membuat kegugupan Naira hilang.
"Takut menyinggung perasaan kamu. Boleh tahu, tidak? Kenapa Isyah pake kain penutup seperti itu? Emang wajah Isyah kenapa?" tanya Naira, setelah tadi sempat gugup.
Aisyah tersenyum dibalik cadarnya ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Naira kali ini. "Wajah Isyah tidak kenapa-napa, Kak. Namun, dalam agama Islam itu wanita di anjurkan untuk menutupi wajahnya dari laki-laki yang bukan mahram. Semua itu bukan untuk mengekang seorang wanita dari kebebasan dunia, justru ini sebagai bentuk kemuliaan. Dengan kita tertutup seperti ini, kita tidak akan mudah digoda oleh laki-laki yang tidak dikenal," jelas Aisyah.
"Oh begitu, Syah. Tapi, apa kamu gak gerah apa? Kak Nai aja yang terbuka seperti ini masih suka gerah karena cuaca yang kadang panas," tanya Naira menunjuk dirinya sendiri.
"Ya ... Awalnya pasti gerah, Kak. Waktu Isyah pertama kali memakai niqab. Isyah juga sering mengusap-usap wajah Isyah karena basah oleh keringat, rasanya tuh pengen cepet-cepet dilepas. Tapi, lama-kelamaan karena sudah terbiasa, jadinya, ya biasa aja Kak walaupun cuacanya sangat panas."
"Oh gitu ya, Syah," jawab Naira dengan anggukan kepala.
Setelah percakapan panjang tentang cadar itu, keadaan menjadi hening kembali. Diantara keduanya tidak ada satu pun yang mau mengeluarkan suara dari mulut mereka. Mereka terlalu sibuk dengan pemandangan disekitar, terutama Aisyah.
Aisyah sangat senang sekali karena masih ada orang yang mau berteman dengannya. Aisyah pikir, ia tidak akan bisa mendapatkan teman di Negara ini, karena memang di sini mayoritas orang-orangnya beragama Kristen.
Drrt ... Drrt ...
Suara telepon dari handphone Aisyah membuyarkan lamunan keduanya. Aisyah langsung bangkit dan agak menjauh dari Naira.
"Sebentar ya, Kak. Isyah mau angkat telepon dulu," pamit Aisyah yang diangguki oleh Naira.
Setelah menjauh dari Naira, Aisyah segera mengangkat teleponnya. Hingga terdengarlah suara dari seberang sana.
"..."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Iya Paman, ada apa?" jawab Aisyah kepada seseorang di seberang sana.
"..."
"Isyah hanya main di danau dekat taman saja, Paman."
"..."
"Iya, Paman. Sebentar lagi Isyah pulang."
"..."
"Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh."
***
Setelah selesai menelepon dengan Pamannya, Aisyah kembali lagi ke tempat di mana tadi ia duduk dengan Naira.
"Kenapa, Syah?" tanya Naira setelah melihat Aisyah yang sudah duduk di sampingnya.
"Oh itu, tadi Isyah disuruh pulang. Soalnya, Aisyah baru pertama kali keluar rumah."
"Oh, emang kamu belum pernah keluar rumah, Syah? Emang gak bosen di rumah terus?"
"Belum pernah, Kak. Biasa, Isyah orangnya introvert," jawab Asiyah cengengesan. "Ya sudah ya, Kak. Isyah pamit pulang dulu," pamit Aisyah. Naira hanya iya.
Setelah berpamitan, Asiyah pun menaiki sepedanya dan menjalankannya menuju rumah. Namun, sebelum Aisyah pulang, mereka sempat saling menukar nomor handphone terlebih dahulu untuk bisa saling komunikasi. Dalam hati Aisyah gelisah sendiri, karena tadi suara Paman nya terdengar seperti orang yang menahan amarahnya.
Aisyah tahu, dia salah karena sudah keluar rumah begitu saja, di saat Paman nya sedang bekerja.