"Ini Neng ayuk makan, numpung masih hangat!" ucap Bu Surti tersenyum.
"Apa!"
"Nasi kuning lagi, oh ya aku lupa tadi Ayu kan kasih anak ini makanan, duh bisa meledak perutku ini, jadi benaran sakit karena kebanyakan makan, bagaimana ini?" gerutunya dalam hati.
"Bodoh banget sih aku, ngapain juga pura-pura sakit perut, aduh dilema deh aku, niat mau menguji kesabaran orang malah aku yang kena, gimana nih?" tanyanya dalam hati.
"Ayuk Neng, dimakan dulu!"
"Bu, bagaimana kalau kita makan sama-sama saja, kasihan mereka sepertinya dari tadi menahan lapar, soalnya saya juga lebih senang jika ada yang menemani saya makan, ayuk Bu, lebih baik anak-anak ini makan juga," ajak Linda.
Arif dan adik-adiknya melihat wajah ibunya dulu, setelah Bu Surti menganggukkan kepalanya dengan tanda setuju, barulah mereka dengan cepat mengambil piring masing-masing dan sudah duduk kembali di teras rumah yang beralaskan koran.
Bu Surti mengambil makanan dan menjatahnya di piring-piring mereka masing-masing.
Seketika Linda tanpa sadar air matanya jatuh membasahi pipinya yang mulus dengan mata memerah.
"Loh Neng, kenapa nangis ayuk dimakan, kami menyajikan buat Neng, eh malah kami yang makan dengan lahabnya, maaf ya Neng soalnya kami juga menahan lapar dari kemarin malam, kebetulan tadi si Arif di kasih sama Neng Ayu."
"Ayuk Neng diambil nasinya, sebentar Ibu ambilkan!"
"Nggak usah Bu, saya ambil sendiri saja!"
"Kok, sedikit mengambilnya Neng, yang banyak atuh nggak apa-apa!"
"Nggak usah Bu sudah cukup, apalagi melihat kalian makan rame-rame jadi ingat dengan ibu saya di kampung," ucapnya berbohong.
"Oh ya Bu, memang Ibu kenal dengan siapa tadi itu si Ayu, siapa dia Bu?" selidik Linda.
"Neng Ayu itu anaknya Pak Sugimin dan Bu Yati, mereka dulu katanya almarhum ibu saya dulu juragan sembako."
"Beliau di kampung sini sangat terkenal bukan karena kaya harta tetapi dengan kaya hatinya.
"Cuma yaitu anak-anaknya yang laki-laki itu suka menghambur-hamburkan uang, sampai-sampai Pak Sugimin bangkrut."
"Harta beliau hanya untuk membayar semua hutang-hutang anaknya, sampai rumah yang besar pun terjual semua, tidak ada tersisa."
"Nah untungnya Bu Yati itu suka masak, beliau coba-coba buat nasi kuning dan lumayan banyak yang suka dan alhamdulillah sedikit demi sedikit bisa terkumpul lagi."
"Sialnya lagi anak-anak Bu Yati seperti biasa menggerogotinya kembali, padahal mereka sudah bekerja sendiri tapi masih mengandalkan orang tua mereka."
Dan saya dengar mereka berdua bisa sempat menunaikan ibadah haji dari hasil menabung diam-diam dari penjualan nasi kuning itu Neng."
"Nah ada tuh kakak kandungnya Pak Sugimin sombong banget orangnya, beliau selalu iri dengan kesuksesan Pak Sugimin, namanya Pak Sukirman."
"Sudah lama Ibu tinggal di sini?"
"Sudah lama Neng, semenjak saya masih gadis sama orang tua dulu, cuma yaitu karena kami banyak utang kepada rentenir untuk biaya rumah sakit almarhum ibu saya, jadi rumah kami di sita."
"Dan seperti inilah kami hidup."
"Ada juga ya Bu rentenir di sini!"
"Waktu itu mau pinjam ke Pak Sugimin tetapi beliau juga sedang sakit bersamaan, itu saja Neng walau Bapak sedang sakit masih sempat-sempatnya memberi kami uang seadanya padahal kami tahu waktu itu beliau masih kekurangan biaya berobatnya sedangkan anak-anaknya lepas tangan kecuali yang kecil namanya Ridho dan Neng Ayu."
"Mereka berdua yang selalu ada buat kedua orang tuanya."
"Memang Ibu gadaikan ke mana rumah ibu dulu?"
"Ya ke Pak Sukirman."
Seketika Linda terbatuk mendengar nama yang diutarakan oleh Bu Surti itu.
"Jadi rentenir itu Pak Sukirman kakak kandungnya Pak Sugimin?"
"Iya Neng, gimana nggak kaya sebelumnya Pak Sugimin bangkrut, Pak Sukirman lah yang banyak menguras harta benda milik Pak Sugimin alasannya balas jasa karena sudah menyekolahkan Pak Sugimin sampai tamat."
"Alhamdulillah sudah kenyang Bu, terima kasih sudah memberi saya makan dan tempat istirahat yang nyaman," ucap Linda seraya tersenyum.
"Owalah Neng, yang nyaman gimana orang tempatnya kumuh gini, banyak nyamuk lagi," sahutnya tersipu malu."
"Memang tempatnya nggak layak huni, tetapi bagi kalian inilah tempat yang berteduh yang kalian punya, kebersamaan dan kehangatan sangat terasa dalam keluarga ini."
"Kalau begitu saya permisi dulu, saya nggak capek maupun sakit lagi, terima kasih telah menerima saya di sini, kapan-kapan saya akan mampir lagi, boleh nggak Bu?" tanya Linda sumringah
"Silakan Neng, kapan saja Neng mau ke sini gubuk kami selalu terbuka," jawab Bu Surti tersenyum.
"Arif, kakak pulang dulu ya, mari Bu!"
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!"
"Bu, Kakak itu cantik banget, kulitnya putih tidak seperti orang susah kaya kita," ucap Arif polos.
"Hus, tahu dari mana kamu Rif kalau dia cantik dan putih?” sahut Ibunya.
"Perasaan Arif saja sih, soalnya Arif perhatikan kulit kakak itu cuma dikasih arang gitu dioleskan, dan pada saat kakak itu nangis air matanya menjadi hitam kaya kelunturan maskara," ucap Arif menyelidik.
"Ah, masa sih, Ibu nggak perhatikan deh!"
"Sudah-sudah, ayuk masuk sudah sore, jaga in adekmu dulu Ibu mau bersih-bersih dulu."
"Iya Bu."
"Ah hari ini banyak sekali pelajaran yang aku dapat, ternyata jadi orang susah banyak sekali cobaannya," gerutu Linda.
"Ah, sampai lupa aku tinggalin Mamah, aduh jalan mana tadi aku sampai lupa lagi, gimana nih, pasti Mamah nungguin panas-panas, bisa-bisa aku kenal omel sama mamah, kanan atau kiri yang mana nih?"
"Bismilah, kanan saja ah!" ucapnya memantapkan hatinya menuju jalan yang kanan.
Akhirnya dia sampai di ujung jalan dan bertemu dengan pohon besar yang tadi Linda duduk bersama mamahnya.
"Alhamdulillah, ketemu juga jalannya, untung kampung sini nggak banyak jalan tikus," gerutunya.
Dengan langkah cepat Linda menghampiri Mamahnya, dan alangkah terkejutnya melihat Mamahnya sedang makan dengan lahap tanpa memedulikan sekitarnya.
"Loh Mah, lagi makan?"
"Nggak lagi tidur!"
Linda tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku mamahnya yang makan dengan celemotan bahkan seperti anak kecil yang makan berhamburan.
"Kenapa kamu tertawa, ada yang lucu sama Mamah, kamu ke mana saja lama banget, Mamah lapar daripada mubazir dan nungguin kamu lebih baik makan dulu, tuh Mamah sisihkan buat kamu, kalau nggak nanti habis," jawabnya masih melahap makanannya.
"Iya Mah, makan saja, tadi Linda sudah makan dengan menu yang sama juga di tempatnya Bu Surti anak dari pemulung itu."
"Kasihan deh Mah mereka hidupnya."
"Oh ya Mah bukannya Riski ada menyumbang buat yayasan pondok pesantren milik Pak Solihin itu ya, bagaimana kalau anaknya itu dimasukkan ke dalam pondok pesantren itu, kasihan masih kecil sudah cari uang bantu ibunya."
"Nanti coba kamu tanya sama Riski, tapi kita di sini kan niatnya melihat kehidupan Ayu dan keluarganya?" tanya Bu Nurma yang masih makan.
"Biar urusan Arif ditangani Ayu, kalau kita nanti ketahuan kalau kita sedang menyamar," jawab ibunya.
"Loh Mah, katanya kita liburan di sini, kok malah jadi detektif lagi sih?" gerutu Linda.
"Iya lah masa cuma liburan kata orang menyelam sambil minum air, jadi detektif sekalian liburan, mantap nggak?" tanya Bu Nurma sembari menyenggol tangan Linda.
"Nggak! capek Mah, biar Riski saja yang mengurus!"
"Nanti kita pikirkan lagi deh, soalnya kamu nggak kasihan sama Riski dia harus kembali dekat sama orang tuanya dulu, mudah-mudahan mereka cepat sadar dan mengingat semuanya."
"Iya, Aamiin."
"Riski disana sekalian mencari tahu kenapa bisa terjadi kecelakaan, siapa tahu ada sabotase mobil mereka!"
"Maksud Mamah ada yang mau mencelakai Om sama Tante, gitu?"
"Tepat sekali, makanya Riski harus cepat menyelesaikan masalah ini."
"Mah terus ini bagaimana masa karungnya kita tinggal di sini Mah?"
"Terus kamu mau bawa, kalau Mamah ogah ah berat, nanti pundak Mamah sakit siapa yang repot kamu juga kan?"
"Iya juga sih, tapi ini kan pemberian Ayu, masa kita nggak hargai?"
"Nah, itu Mah ada pemulung lewat kita kasih dia saja Mah!"
"Ya sudah, cepat panggil dia, biar kita cari rumah sekitar sini."
"Cari yang besar ya Mah, yang ada AC nya, terus kamar mandinya harus ada di kamar dan ada teras rumahnya yang agak luas," ucap Linda tersenyum.
"Dasar sempul, kita ini menyamar jadi pemulung."
"Masa pemulung pakai AC, nggak aneh tuh?"
"Cepat panggil keburu hilang itu orang!"
"Iya, Mah ini juga mau manggil," gerutunya.
"Bu, bentar!" teriak Linda.
"Maaf Mbak panggil saya?"
"Iya Bu, maaf apa Ibu ini juga pemulung?"
"Iya, Mbak cuma dari tadi saya belum dapat juga barang bekasnya," ucap Ibu tua itu dengan muka lesu.
"Nah kebetulan nih, Ibu mau nggak botol bekas saya tuh ada dua karung soalnya saya mau pulang nggak sanggup bawanya?"
"Benaran Mbak, nggak bercanda kan sama saya?"
"Iya Bu, ayo ikut saya!"
Tanpa panjang lebar Ibu tua itu mengikuti langkah kaki Linda.
"Ini Bu barangnya, kalau begitu saya permisi dulu!"
"Terima kasih Mbak! teriak Ibu tua itu karena Linda dan mamahnya buru-buru pergi dari sana.
Hari yang melelahkan bagi mereka yang tidak pernah bekerja seperti pemulung. Di bawah terik matahari maupun hujan mereka lalui tanpa merasa letih, karena di pikiran mereka harus bisa menghasilkan uang untuk makan.
Sudah empat hari Bu Nurma dan Linda berada di kampung ini, selain memantau sekitarnya mereka berlibur walau hanya ke pantai, atau sekedar jalan-jalan sore tanpa melewati rumah Ayu.
Mereka menginap di salah satu kontrakan kecil, memang tidak sesuai harapan Linda, namun karena menikmati perjalanan di kampung itu sehingga masih diterima oleh Linda.
Suasana tidak terlalu ramai, udara sejuk masih bisa dirasakan, banyak pepohonan rindang sepanjang jalan.
Dan empat hari itu juga Pak Sukirman selalu datang mencari keributan dan memancing suasana, entah apa yang ada di pikiran Pak Sukirman.
Beliau sepertinya merasa iri, karena setiap usaha yang dilakukan Pak Sugimin dan Bu Yati lambat laun berhasil sukses.