Pranaji Devario, direktur utama yang diagungkan oleh seluruh karyawan―kecuali aku―karena sikap low profile. Low profile sialan. Itu hanya kedok. Yang nyata dari Deva adalah dia bos yang kekejamannya setaraf iblis. Dua minggu aku bergelung sebagai sekretaris, dua minggu pula aku merasa ingin menangis. Pekerjaan dari Deva lebih bejibun daripada tugas yang dilimpahkan oleh Bu Erika. Bahkan jika tugasku kala menjabat bawahan Bu Erika ditambah tugas Edi, belum sebanding tumpukan berkas dan email kerja yang jebol akibat satu orang, Pak Pranaji. Mungkinkah ini cara Deva membalas dendam? Kekanakan sekali, cih! Satu-satunya yang aku syukuri adalah tempat kerjaku. Yang terasing dan soliter. Tidak perlu melakukan sapaan formalitas tiap pagi dan sepulang kerja. Begitu naik ke lantai ini, aku hanya

