New Father

1274 Kata
Brak! Motornya terpelanting jauh bahkan menyebrang hingga terjun bebas ke jurang setelah tertabrak mobil. Untung saja, Yasa masih sempat menghindar. Jika tidak, nasib buruknya pasti akan bertambah. Sudah jones, mati pula. Yasa tidak mau hidupnya berakhir sia-sia begitu saja. "Aaaaa! Setan alas! Genderuwo! Dedemit! Tuyul botak! Motor kesayangan gue minggat, kurang ajar!" Yasa memaki tak berguna. Dia meremas rambut saat pandangan matanya masih tertuju pada bangkai motor yang terus terjun bebas di bawah sana. Motor kesayangan yang selalu menemaninya ke mana saja, dielusnya setiap hari seperti punya pacar semok bak Angelina Jolie. Tapi sekarang motor itu hancur, bahkan mungkin tak bisa diperbaiki lagi. "Ya, ampun! I-itu motor kamu. A-aku minta maaf, Mas. Tadi gak tau kenapa rem mobilku agak blong gitu pas turunan. Jadi aku gak sengaja nabrak motor Mas--" "Elo?!" Yasa tersentak. Sebuah suara membuatnya menoleh sekaligus membuat dia syok bukan main. Dia begitu mengenali siapa wanita yang berada tepat di belakangnya. *** "Lo tu, sebenernya bisa bawa mobil gak, sih? Bilang sama gue lo les mengemudi sama siapa? Biar gue samperin tu orang karena udah lulusin lo!" Yasa belum ingin berhenti marah kepada wanita yang menyetir mobil di sampingnya. Dia kesal karena terus teringat motor kesayangannya hancur berkeping-keping. Sedangkan, wanita berdress biru cerah seatas lutut itu sesekali mendelik tajam, geram. Mata bulatnya melotot dengan bibir merahnya yang mengulum kekesalan mendengar ocehan pasiennya. Yah ... itu adalah Nayla yang tak sengaja menabrak motor milik Yasa. "Iya, iya. Sekali lagi saya minta maaf," kata Nayla bernada malas. "Maaf, maaf! Emang maaf lo bisa bikin si Angelina balik lagi? Enggak, 'kan?! Gara-gara keteledoran lo motor gue musnah. Untung gue sempet ngehindar, kalau nggak? Lo mau bikin gue ko'it sebelum kawin?" Nayla mengempas napas kasar. "Iya, terus kamu maunya apa? Kenapa sih, urusan sama kamu ribet banget. Bikin kepala saya serasa mau meledak tau!" "Tanggungjawab! Apa lagi? Pokoknya lo harus ganti motor gue." "Apa?" Nayla terpenganga. Bisa-bisanya orang itu bicara tanpa dipikir dulu. "Iya, oke. Nanti saya ganti. Sebutin aja berapa harga buat motor odong-odong kamu itu." "60 juta!" "Ha--enam puluh ... kamu mau meras saya, hh?!" Nayla mendadak menghentikan mobil di tepi jalan, membuat riuh suara klakson mobil lain di belakangnya karena menghambat perjalanan mereka. Tapi, pria di sebelahnya seolah tak goyah. "Iya. Lo pikir si Angelina motor biasa? Tebakan lo salah. Itu semua modal beli ditambah modifikasi motor gue. Dan gue mau hari ini juga lo ganti kerugian itu." "Saya pasti berurusan sama pasien rumah sakit jiwa." Nayla menggeram. Dia melepas sabuk pengaman dan keluar dari dalam mobil. "Keluar dari mobil saya." "Ogah." Yasa menyandarkan tubuhnya jdi jok, melipat lengan di d**a menunjukkan bahwa dia enggan menurut. "Keluar!" "Ganti rugi dulu." Yasa masih bertahan. Dia menumpangkan kaki menandakan serius dengan ucapannya. Tak peduli ekspresi wajah Nayla yang bertambah kusut, tak peduli bemper depan mobil wanita ini juga lecet akibat menabrak motornya. Nayla kembali masuk dalam mobil setelah usahanya gagal mengusir makhluk itu. "Terserah kamu!" *** Yasa celingukan ke sana kemari saat Nayla menghentikan mobilnya di garasi sebuah rumah besar. Inibpasti tumahnya, sebab sejak tadi Yasa enggan tutun dari mobil sebelum keinginannya terpenuhi. Sebenarnya bukan masalah uang, hanya saja Yasa benci mengingat motor kesayangannya musnah tak berbekas. Nayla pergi masuk rumah tanpa berkata apapun. Yasa mengikutinya lagi bagai ekor. "Eh, Bu Dok. Mau ke mana? Bu Dok harus tanggungjawab dulu sama gue!" "Bu Dok! Tanggungjawab dulu. Atau gue gak akan pergi dari sini!" "Bu Dok!" Yasa masih berkata saat Nayla membuka pintu rumahnya dan masuk. Seolah tidak peduli lagi akan kelakuannya yang terus mengganggu. Seorang asisten rumah tangga muncul, menahan langkah Yasa karena membuat keributan dalam rumah. "Ya, ampun. Masnya siapa? Kenapa teriak-teriak di rumah ini? Pergi, nanti nyonya besar bisa marah." "Loh. Apa hak lo nyuruh-nyuruh gue pergi? Gue ke sini mau minta tanggungjawab dari majikan lo yang katanya dokter!" kata Yasa cukup keras. "Tangnggungjawab apa? Mendingan Masnya pergi dari sini." "Gue hamil! Majikan lo kudu tanggungjawab! Atau lo mau seisi rumah ini gue tuntut karena udah zolim sama gue, hah?!" Wanita itu terbelalak. Tertutup rapat mulutnya oleh tangan dan tubuhnya sempat hampir hilang keseimbangan. "Ha-hamil?!" "Iya ... kenapa? Gak percaya? Majikan lo yang katanya dokter itu udah malpraktek ke gue! Jadi mendingan lo yang minggir dari depan muka gue. Asrep banget, dah." Yasa tersenyum miring dan meninggalkan wanita yang masih tampak syok dengan ucapannya itu. Dia mengejar langkah Nayla yang ingin menaiki anak tangga ke lantai dua. Ditariknya lengan wanita itu sampai Nayla berbalik arah dan benar-benar menghadap ke arahnya. Hingga mata Yasa bertemu dengan mata bulat besar milik Nayla. Dia sempat terpaku, menahan hatinya memuji keindahan mata itu. "Apa lagi?" "Mana ganti rugi lo? Pokoknya, gue gak bakal pergi sebelum lo bikin si Angelina balik." Pegangan Yasa terlepas setelah Nayla menarik lengannya sedikit kasar. "Dan kamu pikir saya peduli dengan angka yang gak masuk akal itu? Terserah kamu mau apa, saya gak akan ganti. Kecuali, kalau kamu turunin harga motor odong-odong itu." "59." "20, deal." Mata Yasa membulat. "Buset, dah. Dikata gue pengen beli motor bebek kali, ya, segitu. Nggak ada! Si Angelina itu motor yang bisa bawa gue ke mana aja. Mendaki gunung, lewati lembah. Segitu gue cuma dapet rodanya doang. Lo pikir gue mau gelondongan ke mana mana pake roda, hah?" Nayla terkekeh kecil. Sebenarnya dia geli sendiri dengan perkataan pria yang tidak masuk di akal itu. Dia memijat ujung hidung demi menetralisir emosi dan kadar kekesalan, tahu dan sadar bahwa dia tidak akan menang dari pria petakilan ini. "Nay? Siapa orang ini? Kenapa kamu bawa dia ke dalam rumah?" Mendadak suara berat seseorang membuyarkan mereka. Suara familier bagi Nayla dan dia cukup tahu siapa yang bicara. Dia menoleh, seorang wanita paruh baya berdiri tegap dengan pandangan sinis terhadap Yasa, dia bernama Ajeng itu adalah ibunya. Seorang wanita angkuh dan tegas pada siapa pun. "Dia--" "Suruh dia pergi," ujar Bu Ajeng datar. Yasa seolah berada di tengah-tengah keluarga asing yang ingin bersitegang. Tampak sekali wanita itu tidak menyukai kehadirannya. Mata wanita itu terus mengabsen setiap sudut tubuhnya dari atas sampai bawah. Pandangan jijik bak melihat sampah. Kenapa? Apa karena pakaiannya yang tampak rendahan? Atau karena dia memakai jeans sobek-sobek di lutut? Mungkin orang-orang macam wanita itu akan menganggapnya pengamen jalanan yang tidak punya rumah. Yasa mengambil langkah mundur. Tak ingin ikut campur dalam perdebatan mereka. "Jangan pergi. Kamu udah terlanjur datang ke rumah ini." "Hah?" Yasa mengernyit. Nayla menahan langkahnya dengan tarikan pelan di sudut jaketnya. "Nay?!" Suara wanita itu mengeras. "Jangan main-main lagi. Sudah cukup kamu mempermainkan ibu dan David. Kau pasti kabur dari makan siangmu dengan David, 'kan? Untuk siapa? Lelaki urakan ini?" "Pertama. Aku nggak suka Ibu terus mengatur dengan siapa aku harus makan apalagi menikah. Dan Ibu juga sudah tahu pasti, aku nggak akan pernah menerima David sampai kapanpun," tegas Nayla pada ibunya. "Berani sekali kau mengatakan itu kepada seorang yang telah menerima statusmu!" Yasa mencoba menarik-narik lengan dari cengkraman Nayla. Dia malas berurusan dengan masalah keluarga yang sama sekali tidak diketahuinya. "Lepas. Lo apa-apaan, si? Tadi nyuruh gue pergi. Sekarang gue bakal pergi. Males gue ngadepin masalah orang." "Status? Nggak ada yang tulus menerima statusku di sini termasuk David. Satu-satunya orang yang bisa menerima statusku dan anakku adalah suamiku sendiri," tandas Nayla lebih tegas lagi. Tak menggubris perkataan Yasa yang memintanya melepas pegangan. Kedua mata Nayla telah berkaca-kaca ingin menangis. Namun, dia enggan menunjukkan itu di hadapan ibunya. "Suami kau bilang? Kau bahkan tidak pernah mengatakan siapa yang menghamilimu--" "Sekarang aku mau jujur siapa yang menghamiliku dan siapa ayah kandung dari Devano. Dia ... lelaki ini ayah kandung Devano." Nayla mengeratkan pegangan pada lengan Yasa. Tak peduli saat pria dewasa itu tersedak ludahnya sendiri karena syok. Raut serupa juga ditunjukkan Bu Ajeng, tapi tetap saja mata itu menatap tak puas ke arah Yasa. Brak! Terdengar dentuman sebuah benda terjatuh ke lantai. Ternyata itu adalah remot kontrol dari mobil mainan seorang bocah yang mendadak muncul dari belakang Bu Ajeng. Wajah polos dengan mata bulat persis Nayla, rambut sedikit ikal dan kulit putih pucatnya hampir menyerupai Yasa. Membuat Yasa sendiri semakin syok, kenapa bisa anak itu menatap penuh harap dengan mata polosnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN