Jarum Suntik

2154 Kata
"Ini cuma sebentar kok, Mas. Gak akan sakit," kata seorang perawat yang mencoba memasangkan jarum infus di punggung tangan Yasa. Menyadari pria dewasa di hadapannya memasang wajah tegang. "Kalau mau bohong jangan sama saya, Sus. Mana ada kulit kena tusuk jarum enggak sakit? Badan saya bukan dibuat dari kerupuk kulit." Yasa yang duduk di kursi roda jadi semakin tegang. UGD tempatnya berada saat ini penuh dengan orang-orang pesakitan, anak-anak menangis, muntahan si kakek tua yang membuatnya ikut mual, juga bau obat-obatan menyeruak menusuk hidung. Sungguh, jika boleh jujur dia tidak pernah menyukai tempat ini. Plak! Sebuah pukulan kecil menghantam belakang kepala Yasa. Orang yang pasti berani melakukan itu tidak lain adalah rivalnya sendiri. "Lo maen tepak-tepok pala gue. Emang pala gue laler, hah?" "Maaf, Sus. Orang ini kalau sakit ngomongnya suka ngelantur. Maklum, dia baru keluar dari rumah sakit jiwa," ujar Galang. "Lanjutin aja." Perawat itu mulai memegang tangan Yasa. Mengikat jarak untuk mencari posisi tepat jarum infusnya menusuk. Tepukan pelan serta urat-urat yang mulai membesar membuat mata Yasa membulat sempurna. Untung saja Arasella tidak di sini, sebab dia memiliki anak yang masih berusia dua tahun dan telah dia minta menunggu di tempat lain saja. Jika tidak, mau ditaruh di mana wajahnya?! Seorang Yasa Pradipta yang terkenal garang dan tegas takut oleh jarum suntik! "Tahan sebentar, ya. Rasanya cuma kayak digigit semut, kok, Mas." "Digigit semut?" tanya Yasa meyakinkan. "Iya. Digigit semut, tapi semutnya serebu." Galang terkekeh kecil. "Hah?!" Yasa terperanjat. Perawat tersebut jadi gagal menusukkan jarumnya karena tangan pria itu mendadak tertarik. "Lo kalau benci sama gue jangan ginilah caranya! Cukup, ya. Gue gak mau waktu berharga gue kebuang di tempat beginian. Gak guna!" Yasa beranjak dari kursi roda. Walau dua orang di dekatnya tampak protes keras, tapi dia terlalu gengsi mengakui bahwa dirinya takut jarum suntik. Kemarahan dan gerak tubuh dirasa sudah cukup mengelabuhi semua orang. "Eh? Mau ke mana lo? Jangan pergi, oiii ...!" Yasa berlari cepat di antara kerumunan pasien, pengantar dan para perawat yang ada di sana. Galang tampak kesulitan mengejarnya. Dia tidak pergi keluar pintu UGD. Dia tahu, dia pasti akan bertemu Arasella di sana. Dan dia malas berdebat dengan wanita itu. "Buset, dah. Kira-kira aja, dong. Yang ada gue bukan sembuh, malah makin sakit!" gerutu Yasa ketika cukup jauh dia berlari. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding, sesak mendera d**a dan lambungnya terasa nyeri. Dia sedikit menekan perutnya, dia tak mungkin lupa bahwa belum ada asupan makanan secuil pun dalam sana. Selera makannya hilang, mulutnya hambar dan semua makanan yang tertelan hasilnya akan sama ... hambar. Sesaat kemudian, dia merasa ada sebuah telapak tangan yang mendarat sempurna di pundaknya. Yasa spontan memutarbalikkan tangan tersebut dan memelintirnya hingga ke belakang. "Akh ... sakit. Sakit, lepas! Kamu itu kenapa, sih?" Yasa bergerak cepat melepas cengkramannya, ternyata bukan Galang. Dia kira, si makhluk astral itu mengikutinya sampai sini. "Sorry, sorry. Gue gak sengaja," ujar Yasa. Melihat Nayla di hadapannya meringis dan memegangi pergelangan tangan yang sempat ingin dipatahkannya tadi. "Kamu? Kenapa kamu ada di sini? Seharusnya kamu udah dapet perawatan di dalam," kata Nayla sedikit bernada kesal. Dia yang kebetulan lewat tak sengaja melihat seorang pria seperti tengah menahan sakit. Siapa sangka orang itu adalah pasiennya. "Males. Perawat di sini jutek, gak ada ramah-ramahnya sama pasien." "Jutek? Kayaknya perawat di sini nggak seperti yang kamu bilang barusan." Mata Yasa melirik sejenak ke arah Nayla. Bodoh sekali dia berbohong mengenai perawat di sini, jelas saja Nayla lebih tahu. "Dari mana lo tau? Emang lo ada di sana tadi? Eh, asal lo tau, ya. Lo seharusnya bertanggungjawab sama gue. Oh? Atau jangan-jangan lo mau lari dari janji lo tadi pagi sama Arasella?" Nayla mengernyit. Bagaimana bisa pria ini mengubah gaya bicara setelah hanya ada mereka berdua? Apa rayuan mautnya di rumah Arasella pagi tadi hanyalah topeng? Nayla membatin. "Apa? Lari dari tanggungjawab? Siapa bil--" Yasa mengibaskan telapak tangan menghentikan perkataan Nayla. "Lah! Semua omongan lo udah basi. Sama aja lo semua sama si makhluk astral. Omongan sama sikap gak bisa dipegang. Gak guna gue ada di sini." Dia berlalu melewati Nayla begitu saja. Mengabaikan mimik wanita itu yang mulai kesal dengan ulahnya. "Kamu kalau bicara jangan seenaknya, ya. Saya gak pernah tuh ngerasa ngejanjiin apa-apa ke Arasella. Kenapa saya harus tanggung jawab sama kamu?" Nayla mencegat langkah Yasa hingga pria itu terhenti. "Dan satu lagi. Makhluk astral yang kamu bilang itu pasti Galang, kan? Saya gak suka kamu ngata-ngatain di kaya gitu. Karena dia sahabat saya dari SMA." "Oooh! Jadi si makhluk astral sahabat lo? Pantes. Kelakuan mirip. Sama-sama suka lupa diri. Apa perlu gue ingetin kerjaan lo sekarang? Pantes lo ngomong kayak gitu ke orang sakit? Kalau terjadi apa-apa sama gue, lo bisa gue tuntut! Apalagi kalau gue mati, orang pertama yang gue gentayangin pasti elo!" Nayla terpenganga. Rahangnya serasa hendak terlepas dan dia terpaksa memijat pelipis karena mendadak pening. Kelakuan pria ini bahkan lebih buruk dari yang terburuk. Selama dia jadi seorang dokter, untuk pertama kali dia dibuat sakit kepala akibat ulah pasiennya sendiri! "Iya ... iya, oke. Terus kamu maunya apa? Jadwal praktek saya sebentar lagi dimulai. Kalau kamu mau saya yang langsung tangani kamu, kita balik lagi sekarang." Yasa terdiam sejenak. "Gue mau minta ma--" Dia menggantung kalimat. Sebenarnya, Yasa ingin sekali minta maaf telah memarahi wanita ini dengan alasan tidak jelas. Atau dia ingin meminta langsung wanita ini menanganinya menghadapi jarum suntik. "Ma--" "Ayo cepet! Waktu saya gak banyak!" "Makan! Gue mau minta makan." Yasa terpaku, merutuki kebodohannya sendiri meminta hal memalukan kepada seorang wanita. Makan? Kenapa harus makan?! Maaf dan makan sangat jauh maknanya. "Hah?" Nayla mengempas napas kasar. Dilihatnya lagi pria di hadapannya. Rambut acak-acakan, kantung mata hitam, tubuh kurus dengan bibir kering putih pucat itu terlalu mengenaskan. "Kamu pikir saya peduli? Isi perut bukan urusan saya. Silakan cari rumah makan sendiri kalau kamu lapar." Nayla mulai melangkah pergi meninggalkan pria itu tanpa ingin berdebat lagi. "Eh. Lo mau ke mana? Jalannya cepet banget. Kebelet kawin, ya?!" Nayla berdecih. Dia tahu pria itu masih mengikutinya dari belakang. Walau dalam sepersekian detik suara itu menghilang dan terganti derap langkah panik dari orang lain. Namun, dia tak peduli dan tak ingin peduli. Berurusan dengannya membuat hari ini terasa buruk. *** Nayla memijat pelipis meredakan sedikit pening yang mendera sejak beberapa jam lalu. Hari ini, pasien yang datang cukup banyak dan berbagai macam sifat. Jika saja ada hak untuk mengeluh, dia pasti mengeluh hebat saat ini juga. Tapi, tak semudah itu. Menjadi seorang dokter adalah pilihannya. Membuat orang sakit menjadi sembuh, melihat mereka bisa berkumpul kembali bersama keluarga adalah keinginan terdasarnya memilih profesi ini. Dan dia harus kuat menekuni pilihannya. Sesekali telapak tangannya meraih sebotol minuman dingin, melegakan tenggorokan yang terasa kering akibat terlalu banyak bicara. Makanan kedua hari ini di hadapannya masih utuh, kerongkongannya masih belum mampu menerima asupan energi kecuali dari air. "Hai ...." Nayla sedikit mendongak, seorang wanita berambut cokelat gelap dengan senyum manis berada tepat di depan meja tempatnya berada. "Hai." "Boleh aku duduk di sini?" "Boleh. Gak ada yang nempatin juga, kok," jawab Nayla. Dia lihat Arasella sudah mengambil posisi nyaman. "Oh, ya. Natha mana? Gak di bawa ke sini?" "Oh ... tadi dijemput Ibu. Kasian kalau harus nunggu di sini seharian, karena aku juga gak bisa ninggalin Yasa," jawab Arasella. Nayla mengangguk paham. Dia sedikit menyugar rambut yang tersibak angin tipis menekan lelahnya sekali lagi. "Kalau boleh aku tahu, Yasa itu siapa kamu? Dulu, aku nggak pernah liat kamu ngenalin dia ke temen-temen kita, Sell." Nayla memberi sebuah pertanyaan. Yang entah kenapa pertanyaan itu malah mengenai si tengil yang membuat kepalanya sakit. "Oh ... dia. Dia itu sebenernya partner bisnis aku di Makassar. Sekitar 8 tahu lalu waktu aku pisah sama Galang, dia yang udah nolongin aku dalam keadaan terpuruk. Dia yang ngasih aku kerjaan, tempat tinggal dan juga ngasih makan aku setiap hari. Dia itu ... malaikat pelindung yang diturunkan Allah buatku." Nayla terdiam sejenak mendengar jawaban itu, kemudian terkekeh kecil. "Yakin kamu ngucap itu dalam keadaan sadar?" "Kenapa?" "Arasellaaaa ...." Nayla membenarkan posisi duduknya hingga lebih bisa jelas melihat temannya ini. "Dia itu aneh, bahasanya kasar dan bicaranya juga asal. Jadi apa yang bisa aku percaya sama cerita kamu?" Dia menggelengkan kepala. Tidak mengira kalimat itu keluar dari mulut Arasella. "Aneh?" "Huumh, aneh. Atau apa dia punya kepribadian ganda?" tanya Nayla lagi spontan membuat Arasella di depannya tertawa renyah. "Kamu itu bicara apa, sih? Yasa itu baik, kok. Mungkin emang bicaranya aja yang gak pernah dipikir dulu. Tapi sebenernya, dia adalah orang paling rapuh. Dia cuma kelebihan gengsi dan gak mau jujur aja." Nayla semakin terkekeh mendengar jawaban itu. "Kenapa kamu ketawa? Aku bicara jujur, Nay." "Iya iya iya. Aku percaya, lagipula aku juga cuma tanya aja, kok." Arasella tersenyum. Sejenak pandangannya menyapu sekeliling lalu melihat jam di tangan. Wanita itu beranjak dari temptnya. "Nay. Aku duluan, ya. Aku harus balik ke tempat Yasa dulu." Nayla hanya mengangguk kecil dan melihat punggung Arasella yang semakin menjauh. Es batu dalam gelas minumannya telah mencair, makanan yang dipesan telah dingin, menndakan bahwa dia sudah terlalu lama berada di sini. "Kelebihan gengsi?" Nayla membatin sambil tersenyum. Yah ... mungkin itu kata yang paling tepat mengenai pria aneh yang enggan menunduk saat tubuhnya sendiri lemah. *** "Ahhhh ... laper! Laper banget!" Yasa bergerak tak nyaman di kasur rumah sakit. Sial sekali, ternyata memang tubuhnya tak bisa diajak kompromi. Bisa-bisanya dia tumbang dua kali hari ini! Apalagi yang kedua saat dia berdebat dengan Nayla, si wanita kejam yang tega membiarkannya kelaparan dan harus berakhir di tempat ini. Jarum infus telah tertancap sempurna di punggung tangannya, ini sakit. Namun, dia baru sadar ini memang tak terlalu sakit. Dia hanya ngeri membayangkan benda tajam nan mungil itu menyelinap masuk di kulitnya. Sekarang, setelah semua kejadian buruk yang menimpanya hari ini. Ternyata penderintaannya belum berakhir. Dia kelaparan, dan makanan yang disediakan oleh rumah sakit ini tampak begitu menjijikan bagi mulutnya. "Aaaaaahh ... aaahaaaaaa. Arasellaaaaa gue laper." Dia sengaja menutup wajah dengan bantal. Menekan suara kemelaratan seorang Yasa Pradipta yang tengah dilanda lapar luar biasa. Di sini tak ada orang. Entah ke mana Arasella pergi, si makhluk astral juga belum menampakkan batang hidungnya lagi. Dia merasa menjadi anak terlantar yang kehilangan pegangan orang tua tanpa mereka. Namun, dia terlalu gengsi meminta bantuan. Beberapa saat kemudian, dia merogoh gawai yang berada di saku celananya karena terus bergetar sejak tadi. Sebuah panggilan masuk, dan dia berharap itu dari Arasella. "Arasellaa--" "Assalamualaikum, Pak Bossss!" Yasa menjauhkan gawainya dari telinga. Suara seseorang menukik dan langsung mematahkan harapannya. "Ck. Waalaikumsalam. Ngapa?" tanyanya dengan nada malas. "Pak Bos. Kapan balik ke Makassar lagi? Saya pusing ini. Kemaren sore, Pak Rudi dateng dan minta desain baru." "Hah?!" Yasa terperanjat dan langsung duduk dengan spontan. Membuat kepalanya cenat-cenut dan sakit. "Terus kenapa lo baru nelpon sekarang, hah?! Bukannya dari kemaren." "Ya, Pak Bosnya susah banget di telpon. Kemaren nelpon Bu Bos Arasella, tapi kayaknya gak disampein, ya?" Yasa memijat ujung hidung, berpikir sejenak. Dia lupa kalau beberapa hari ini tidak menyetor desain aksesoris baru untuk pelanggan yang biasa memesan aksesoris padanya. Apa Arasella sudah menangani ini? Tapi sepertinya tidak. Karena Wina sampai menghubunginya beberapa kali. "Ya, udah. Tar sorean gue urus semua. Lo tenang aja, jangan ganggu gue mulu. Gue lagi pusing," ujar Yasa. "Nah. Gitu, dong. Kalau kaya gini kan, saya yang gak pusing. Hehehehe. Makasih Pak Bos! Assalamualaikum!" "Waalaikumsalam." Yasa melempar asal gawainya ke arah samping. Bibirnya benar-benar kering dan suaranya hampir habis. Brak! Tak lama, terdengar sebuah benda plastik berbobot terjatuh cukup keras di samping telinganya. Yasa menoleh, terdapat satu kantong plastik putih berukuran besar yang berisi buah-buahan di atas meja. "Arasella mana?" tanya Yasa spontan pada pria yang ditunggunya sejak tadi. "Kenapa si, nanyain istri gue mulu? Lo ngarep Arasella dateng ke sini terus ngerawat lo gitu? Jangan ngarep," ucap Galang bernada sedikit kesal. "Kenapa makanan lo masih utuh? Tadi aja rengek-rengek minta makan kaya bocah. Disediain makan, malah dianggurin kaya obat nyamuk. Buruan dimakan, biar gak nyusahin gue mulu!" Yasa berdecih kesal saat tempat makan telah berpindah di pangkuannya oleh pria itu. "Lo itu buta apa gimana, si?" "Hah?" "Menurut lo makanan ini bisa disebut normal? Ini makanan cocoknya buat kakek-kakek gak punya gigi! Liat sendiri pake mata lo yang katanya masih normal. Telor rebus, tahu tempe rebus, sayurnya juga gak ada gurih-gurihnya samasekali. Apalagi ni bubur, udah kayak muka jomblo ... sepa!" Yasa menaruh kembali makanan yang didapatnya ke atas meja. Tak peduli wajah pria itu mulai menunjukkan sinyal yang bisa mengeluarkan bom waktu. "Lo itu chef. Punya restoran Prancis pula, gak bisa apa lo suruh pelayan di restoran lo bikinin makanan enak buat gue? Kalau restoran lo mau bangkrut tinggal bilang sama gue. Lo butuh berapa, jangan pelit dan berlagak kisminlah sama temen sendiri," cercanya lagi. Namun kali ini nada suaranya tak meninggi. Energinya sudah terkuras habis tak bersisa. "Cih. Dasar jin abal-abal. Lo kayaknya kecepetan keluar dari dalem botol, ya? Makanya lo gak ngerti bahasa manusia. Apa susahnya si, bilang kalau lo laper terus mau minta makan secara baik-baik?" "Males."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN