Satu minggu kemudian. “Gimana Vano, Nay?” tanya Bu Ajeng saat Nayla keluar dari dalam kamar Devano. Baru tiga hari dia datang dari London setelah diberitahu Devano mengalami kecelakaan. Wanita paruh baya itu tak tenang setiap harinya, dia mudah panik pada hal-hal kecil sekalipun. Hingga Bu Ajeng berniat akan tinggal selama Devano belum sembuh betul. “Dia udah tidur, Bu.” Nayla tersenyum. Dia berjalan menuruni anak tangga diikuti Bu Ajeng yang tampaknya ingin bicara. “Seharusnya kamu dengerin ibu. Jangan pertemukan lagi Vano sama orang itu. Dia membawa pengaruh buruk buat Vano.” “Pengaruh buruk apa, sih, Bu? Yasa gak seperti yang Ibu pikirkan, dia orang baik.” “Orang baik? Apa menelantarkanmu selama bertahun-tahun sampai menanggung malu bisa disebut baik? Ke mana dia saat kamu hamil d

