BAB 15: PAGI YANG HANGAT

1062 Kata
Ternyata itu adalah sebuah gundukan kecil dari es yang terletak di lantai dekat sudut dinding. Aku mengusapnya dengan kaki kananku. Dugaanku benar, ternyata ini adalah alarm man-in-chamber yang membeku! Kalau saja alarm ini tidak membeku, aku seharusnya bisa menekan tombolnya dengan kakiku. Tapi ternyata tidak semudah itu. Bahkan tombolnya tertutupi oleh lapisan es yang keras dan juga dingin.  Aku coba menendangnya sekuat tenaga. Barangkali aku bisa menghancurkan lapisan es yang menutupi tombol alarm. Tapi ternyata sulit sekali. Es ini sepertinya terbentuk sejak sangat lama sehingga menjadi sangat tebal. Aku lagi-lagi menoleh ke belakang, mengamati Suri dengan cemas. Ia belum juga bergerak sejak tadi. Keadaannya benar-benar membuatku semakin tertekan. Aku kembali berusaha dengan alarm beku ini. Kutendang sekuat tenaga sebelum hawa dingin semakin menyakitiku. Gerakan berulang-ulang ini cukup melelahkan. Tapi aku harus tetap melakukannya karena hanya ini satu-satunya harapan Akhirnya perlahan-lahan mulai terjadi keretakan. Sekarang, aku menendang makin kuat sampai ujung kakiku sakit. Keretakan yang ditimbulkan jadi makin besar. Pecahan es mulai berserakan. Lama kelamaan, tombol itu terlihat seutuhnya tanpa ada lapisan es yang menutupinya. Aku benar-benar tidak sabar untuk segera keluar dari sini, sehingga aku langsung menekan tombol itu dengan kakiku. Lalu aku menghela napas lega dan jatuh terduduk saking pegalnya.  Aku menunggu sekitar dua menit sampai akhirnya dua orang petugas keamanan pelabuhan berseragam resmi datang membuka pintu ruang pendingin ini. Mereka tentu saja terheran-heran saat melihat Suri dan aku terikat. "Apakah kalian berdua baik-baik saja?" "Sedang apa kalian di dalam sini? Siapa yang mengikat kalian?" Dua petugas berseragam itu segera membuka ikatan tangan Suri dan juga ikatanku. Aku sama sekali tidak menjawab rentetan pertanyaan yang diberikan, karena itu semua tidak penting bagiku. Yang aku harus lakukan sekarang adalah membawa Suri keluar secepatnya. Aku memeluknya dengan napas terengah-engah. Ia sangat dingin. "Suri," bisikku di telinganya. Kali ini aku benar-benar berharap ia membuka matanya. Aku tidak bisa melihatnya terus menerus memejamkan mata. Aku harus mendengar suaranya. Aku harus melihatnya tersenyum dan berceloteh seperti hari-hari kami yang biasanya. Aku ingin ia tetap bernapas. Aku ingin ia selalu di sampingku. Harus. Aku buru-buru melepaskan jas seragamku dan memakaikannya pada Suri. Aku kemudian memeluknya lagi. Pipiku menempel di pipinya yang terasa sangat dingin. Aku semakin kalut. Lalu aku menggendongnya sambil mencari sinar matahari pagi untuk membantuku menghangatkan tubuhnya. Tidak peduli bagaimana pun caranya, Suri harus selamat. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya. **** (Back to Suri's POV) Kepalaku pusing. Aku membuka mataku pelan-pelan. Kedua mataku silau terpapar cahaya matahari pagi. Tak ada yang bisa kulakukan selain membuka mata, karena sekujur tubuhku terasa berat untuk digerakkan. Tapi di sampingku, terlihat jelas Dova dengan kemeja putihnya tanpa jas seragam sekolah, duduk menyandarkan kepalanya pada tangan kananku. Ia rupanya tertidur sangat pulas sampai tidak menyadari bahwa aku sekarang sudah bangun. Aku baru sadar ternyata aku memakai double jas seragam. Apakah yang kupakai ini milik Dova? Sepertinya memang iya. Aku lupa tentang kejadian sebelum kami berdua sampai di sini. Yang aku ingat malah tentang truk kontainer besar di pelabuhan. Dan, oh! Di mana lukisan terkutuk itu? Aku memaksakan diri untuk duduk walaupun dengan susah payah. Dova jadi terbangun karena guncangan dari tempat tidur ini. "Suri," panggil Dova lembut. Ia mengerjapkan kedua matanya lalu menatapku "Kau sudah bangun, ya?" Aku menghela napas, lalu menarik tanganku dari genggaman Dova. Dova tidak mau melepaskannya, malah menempelkan tanganku di kedua pipinya secara bergantian.  "Apa kau merasa hangat sekarang?" tanya Dova memejamkan matanya sambil menyentuh tanganku. Mendadak aku bingung melihat tingkah laku sahabatku ini. "Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana kita sekarang? Di mana lukisan itu?" Dova menggeleng pelan. "Tidak ada yang perlu kau cemaskan. Istirahat saja dulu." Lalu aku mencoba turun dari tempat tidurku. Dova lagi-lagi menahanku. "Kau belum sepenuhnya pulih, Suri." Aku menggeleng. "Jangan membuatku bingung, Dova," balasku. "Di mana kita sekarang? Dan mengapa wajahmu memar?" Dova menghela napas. "Kita ada di rumah sakit. Kemarin kau pingsan karena kedinginan." "Lukisannya bagaimana?" "Aman," jawabnya. "Tim misi hitam sudah menyerahkannya pada Pak Ferdy, kita dapat bantuan waktu itu." Aku lagi-lagi memaksakan diri untuk turun dari tempat tidurku. Dova menyangga badanku saat kakiku menyentuh lantai. "Jangan memaksakan dirimu, kau tahu aku hampir saja kehilanganmu." Dova memelukku. Entah ia sedang membantuku berdiri atau justru memelukku, aku tidak tahu. "Kumohon jelaskan semuanya padaku," rengekku. "Kenapa kaki kananmu di perban?" "Ada retakan pada tulangnya," jawab Dova santai. Ia bahkan tersenyum saat mengatakannya. "Hanya sedikit, kok." Air mataku keluar tanpa sadar. "Apa yang terjadi padamu?" "Aku menendang es." "Bohong," bantahku sambil melepaskan pelukannya. "Percayalah padaku." Dova memelukku lagi. Ia mendorongku pelan untuk duduk di tepi ranjang rumah sakit. "Apa aku selama ini pernah berbohong padamu?" Aku menangis. "Tidak pernah." Dova tertawa pelan. "Sekarang aku ingin kau menjawabku, Suri. Apakah kau masih kedinginan?" "Tidak," jawabku. Dova melepaskan pelukannya. Lalu ia menghela napas panjang. Ia fokus menatap jendela yang terguyur cahaya matahari pagi. "Syukurlah," desahnya. "Justru kau yang selalu bersikap dingin padaku. Biasanya kau sangat cuek," protesku padanya. Pagi ini Dova berubah menjadi lebih ramah dari biasanya. Ia banyak tersenyum. "Mengapa kau bersikap hangat pagi ini?" "Aku kan sudah bilang," balasnya menatapku. "Aku hampir saja kehilanganmu." "Apakah aku dalam bahaya?" tanyaku. "Iya tadinya." Dova mengangguk. "Sekarang tidak lagi." "Apa aku harus kembali berada dalam bahaya agar kita berdua bisa akrab seperti dulu?" Dova menatapku dalam-dalam. Ia mengacak-acak rambutku sambil tersenyum. "Jangan lakukan hal bodoh lagi, Suri. Kecuali kau senang melihatku terlilit perban lebih banyak dari ini." "Aku cuma ingin kau berubah." Dova lagi-lagi menghela napas. "Baiklah, kalau itu yang kau mau." **** Kami berdua kembali ke asrama sekolah dengan menaiki taxi. Dova membukakan pintu untukku, baru setelah itu ia masuk dan menutup pintunya dengan rapat. "Elite Mastermind Academy, ya," seru Dova pada supir taxi. Taxi melaju kencang menyusuri jalanan yang sepi di siang hari. Sepertinya aku tertidur cukup lama. Sekarang aku merasa sangat segar dan sehat, sementara Dova masih terlihat mengantuk. Aku curiga ia belum tidur karena sibuk mengawasiku. Kepalanya tertunduk dengan kedua mata tertutup. Ia berusaha keras untuk duduk setegap mungkin. "Tidur saja," perintahku. "Tidak usah ditahan-tahan." Dova tiba-tiba menjatuhkan kepalanya ke pangkuanku. "Maksudku bukan begini," protesku dengan canggung. Aku yakin ia mendengar suaraku, tapi ia diam saja dan melanjutkan tidurnya. Melihat wajahnya yang kelelahan itu, aku jadi tidak tega membangunkannya. Begitu sampai di tempat tujuan, kami berdua segera turun dari taxi. Dova mengantarku sampai lift asrama, lalu kami berpisah. Entah kenapa, tiba-tiba aku jadi mencemaskannya, karena ia masih tampak sangat mengantuk. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN