Setelah mendengar bisikan Dova barusan, perlahan aku menoleh memeriksa keadaan sekitarku dengan sangat hati-hati. Ternyata kami mulai menemui sesuatu yang sedikit mengganggu. "Kau benar." Aku menatap Dova tajam. Banyak sekali pria-pria dengan celana, sepatu, dasi, serta jas hitam bersandar ke dinding di sepanjang koridor. Aku berusaha berjalan sesantai mungkin, walaupun kami saat ini bagaikan dua ekor kucing yang melewati banyak anjing pitbull kelaparan tanpa tali kekang. Dengan tubuh sebesar itu, aku yakin mereka semua adalah bodyguard sewaan. Itu berarti, kami berdua sudah semakin dekat dengan ballroom. Aku benar-benar menjadi lebih bersemangat. "Aku mengincar buku tamu, itu juga kalau ada," bisikku. Dova mengangguk tanpa banyak bicara. Ia mempertahankan gelagat seorang suami deng

