Saat pertandingan sudah mulai berlangsung, di lain tempat putri sedang terduduk di markasnya alias di sofa usang yang terletak di gerbang belakang sekolahan. Dia tidak tau lagi kemana dirinya harus pergi tadi dan langkahnya menuntun putri untuk datang kesini. "Lo apa-apa an sih put? Kok reaksi lo kayak gini? Lo ngga ada perasaan apa-apa kan sama Leo? Lo cuman anggep dia sebagai seorang temen kayak yang bang putra bilang kan put? Plis put, bilang sama gue kalo Arnold salah nebak, lo ngga suka sama Leo" ujarnya kepada diri sendiri dengan lirih, bahkan tanpa permisi air matanya perlahan menetes saat mengatakan hal tersebut. Putri benar-benar berusaha untuk meyakinkan diri sendiri kalau dia tidak punya perasaan apa-apa kepada Leo. Tapi, di sisi lain sebagian hatinya dengan sialnya membenar k

