CHANGE ME - 12

986 Kata
"Paket untuk Ibu Amanda Maura" ucap seorang kurir saat Maura membuka pintu rumah Raga.   "Buat saya?"   "Ibu...Amanda Maura, kan?"   "Ya. Itu saya. Tapi kenapa bisa sampai kerumah ini?"   "Saya kurang tau, Bu. Bisa tanda tangan disini?" Kurir tersebut menyodorkan sebuah kertas dan Maura menerimanya.   Setelah memberikan tanda tangannya, Maura menyerahkan kertas itu lagi dan si Kurir akhirnya meninggalkan Maura dalam kebingungan.   Maura membalikkan badannya sambil membawa paket itu. Tapi alangkah kagetnya ia. Raga berdiri tepat di belakangnya. Maura bahkan menabrak pria itu.   "Raga! Kamu bikin aku jantungan!" Ucap Maura sambil mengelus dadanya.   "Jangan di elus, Ra"   "Kenapa emang?" Tanya Maura polos.   Raga memajukan tubuhnya dan membisikan sesuatu pada Maura. "Nanti ada yang mau"   Maura yang mendengarnya tidak langsung merespon. Ia menelaah kata kata Raga dengan sangat pelan. Sedangkan Raga masih menahan tawanya yang ingin meledak karena meledek Maura.   Saat menyadari maksud Raga, wajah Maura memerah seketika. Sangat merah bahkan mungkin kalian akan bingung antara wajah Maura dengan kepiting rebus saking miripnya warna wajah Maura.   "Ragaaa!!!" Maura merajuk.   Akhirnya tawa Raga pecah saat itu juga. Sejak menyadari perubahan Maura ketika berhubungan dengan hal yang seperti itu, Raga jadi ingin terus menggoda Maura karena tidak tahan dengan ekspresinya. "Cepet makan. Setelah ini kamu harus ke salon" ucap Raga saat tawanya sudah mereda.   "Ngapain?!" Tanya Maura ketus karena masih malu.   "Nanti malam ulang tahun perusahaan Blue Greek. Kamu harus temenin aku" jelas Raga.   "Gak mau" Maura masih merajuk. Padahal dia sangat senang Raga mengajaknya.   "Ayo lah, Ra. Masa kamu mau biarin aku sendiri? Nanti kalau disana aku di godain cewek cewek gimana?"   "Bukannya udah biasa seperti itu?"   Raga yang menyadari jika Maura masih merajuk itu membuang napasnya dengan kasar. Pasalnya Maura seakan membahas masa lalunya lagi.   "Ra, jangan bahas yang dulu lagi. Aku tau aku salah. Sekarang aku lagi mencoba perbaikin kesalahan aku. Kamu juga kan lagi kasih aku kesempatan. Jadi biarin aku pakai kesempatan ini dengan baik tanpa harus bawa masa lalu kita"   "Maaf" hanya itu yang Maura ucapkan. Persetan dengan rajukannya.   "Kamu gak salah. Aku yang harusnya minta maaf. Kamu mau kan maafin aku?" Raga mengambil tangan Maura yang bebas lalu mengenggamnya.   Maura hanya menganggukan kepalanya.   "Nanti malam kamu mau kan temenin aku?"   "Tapi...Arin?"   "Dia ikut lah masa kita tinggal" jawab Raga sambil mengacak rambut Maura. Lagi lagi ia gemas dengan mantan istrinya itu.   "Kamu yakin, Ga? Orang orang bakalan bilang apa nanti?"   "Kamu kan partner bisnis aku. Perusahaan kita kan kerja sama. Kalau ada yang tanya, tinggal jawab kalau kita hadir sebagai parter bisnis" jelas Raga bermaksud menenangkan Maura agar mau menemaninya.   "Kalau kamu udah mikirin sejauh itu, aku gak mungkin nolak" Maura akhirnya tersenyum meskipun sebenarnya didalam hati ia ingin Raga mengajaknya sebagai pasangan kekasih, bukan sebagai partner bisnis.   Tiba tiba Maura tertawa. Ia menertawakan dirinya. Apa Raga memintanya untuk menjadi kekasihnya lagi? Pria itu hanya meminta kesempatan kan. Berarti Raga hanya ingin memperbaiki keadaan.   "Aku tau apa yang ada didalam pikiran kamu, Ra" ucap Raga.   "Maksud kamu?" Tanya Maura yang bingun setelah menghentikan tawanya yang terdengar miris itu.   Raga menariknya ke kamar. Kamar mereka lebih tepatnya. Pria itu juga mengambil paket yang ada di tangan Maura dan meletakannya di tempat tidur.   Raga lalu berjalan ke sebuah laci yang ada di samping tempat tidur mereka. Mengambil sesuatu lalu kembali mendekati Maura yang sedang kebingungan dengan tingkahnya.   "Saat aku bilang aku minta kesempatan sekali lagi, itu artinya bukan sekedar memperbaiki keadaan" jelas Raga.   "Maksud kamu?" Tanya Maura yang bingung seakan Raga tau apa yang mengalir di kepalanya.   "Kamu dari tadi nanya maksud aku terus. Huh. Dengerin baik baik ya. Saat aku bilang aku minta kesempatan lagi, itu artinya aku mau perbaikin semuanya. Bukan keadaannya aja, Ra. Rumah tangga kita itu termasuk di dalamnya kalau kamu kurang jelas. Aku pengen kita sama sama lagi kaya dulu. Aku pengen perbaikin semuanya. Semuanya, Maura" Raga lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil yang sedari tadi ia genggam.   "Kamu mau kan kita perbaikin semuanya?" Tanya Raga yang hanya dibalas dengan anggukan kecil dari Maura.   Raga lalu membuka kotak itu dan menampilkan isinya. Cincin pernikahan mereka. Cincin yang Maura harus lepaskan dan tinggalkan tujuh tahun yang lalu.   Raga menarik dengan lembut tangan Maura. Pria itu memasangkan cincin tersebut di jari manis Maura. Setelah itu ia mencium kening Maura bermaksud menyalurkan perasaan cintanya yang memang tak pernah padam.   "Aku gak harus bilang kan apa yang aku rasain setelah semua ini?" Tanya Raga dengan senyuman di bibirnya.   Maura yang masih kaget dan terharu itu hanya bisa tersenyum sambil meneteskan air mata bahagianya tanpa mengerti maksud dari ucapan Diraga Andreas.   "Mama sama Papa lama banget siiiii. Arin udah laper tauuu" rengek Arinda di depan pintu sambil mengetuknya.   Maura menjadi salah tingkah karena mendengar ocehan gadis kecilnya itu.   "Iya, ayo kita makan sayang" ucap Raga sambil menghapus air mata Maura dan menggandeng tangan wanitanya.   Raga membuka pintunya dan mendapati Arinda yang sedang mencebikan bibirnya.   "Anak Papa gak boleh ngambek dong. Nanti setelah makan, Arin pergi sama Mama ya. Temenin Mama" bujuk Raga.   Mendengar kata pergi membuat Arinda lompat kegirangan.   "Yeaayyy, Arin mau pergi sama Mama. Papa ikut juga, kan?" Tanya Arinda antusias.   "Maaf ya, Arin. Papa gak bisa ikut. Papa cuma bisa anterin dan jemput aja. Papa masih ada kerjaan yang harus di selesaikan"   "Tapi Papa janji kan untuk anterin dan jemput Arin sama Mama?" Tanya Arinda memastikan.   "Papa janji sayang. Ayo kita makan" Raga menggendong Arinda lalu menarik tangan Maura untuk ia genggam.   Mereka bertiga sarapan pagi bersama dengan perasaan senang yang tak bisa di hindarkan.   "Maura, nanti kamu dan Arin pakai baju yang udah aku beli ya. Paket tadi..dari aku" jelas Raga saat mereka selesai makan.   "Kamu yang kirim? Pantes aja. Aku sampe bingung kenapa paket buat aku bisa dikirim kesini. Taunya dari kamu. Makasih ya" Maura tersenyum tulus.   Raga merasakan kebahagiaan karena Mauranya telah kembali. Wanitanya kembali menjadi Maura yang cerewet dan suka merajuk. Maura yang sama dengan Maura saat mereka menjadi sepasang kekasih, bukan Maura yang ia temui beberapa hari yang lalu.   *****  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN