CHANGE ME - 14

1262 Kata
Setelah makan malam romantis keluarga itu, Maura meminta Raga untuk segera mengantarkannya pulang. Ia harus kembali bekerja besok. Lagi pula ia khawatir dengan pandangan orang akan statusnya yang menginap di rumah Raga itu.   "Kenapa kamu gak tinggal dirumah kita aja, sih?" Raga mendengus kesal karena kekerasan kepala wanitanya itu.   "Kamu pikir kerjaan aku gimana, Ga? Lagi juga apa kata orang nanti kalau..." Maura menghentikan ucapannya.   Arinda sudah tertidur pulas sejak Raga melajukan mobilnya.   Raga yang paham akan ucapan Maura yang terputus itu memilih mengalah.   "Aku cuma mau jagain kamu. Jagain Arinda. Aku takut kalian kenapa kenapa" ucap Raga akhirnya.   "Kamu gak perlu khawatir Diraga Andreas. Selama tujuh tahun aku bisa jaga diriku dan Arinda. Jadi masalah jaga menjaga itu gak perlu kamu pusingin"   "Ra, aku mohon. Kamu jangan bahas masalah tujuh tahun lagi ya. Aku ngerasa bersalah banget dengernya" takut takut, Raga mengutarakan perasaannya.   "Sorry" hanya kata itu yang akhirnya bisa keluar dari mulut Maura.   "Kalau aku taro penjaga disana, apa kamu keberatan? Aku bisa aja ngelakuin itu tanpa bertanya. Tapi aku mau menghargai pendapat kamu juga" ujar Raga memecahkan kesunyian yang sempat tercipta.   "Engga usah, Ga. We'll be fine. You ain't gotta worry, okay?" Maura lalu menggenggam tangan Raga yang bebas lalu menatap pria itu dengan lembut.   "Aduh, Ra!" Ujar Raga tiba tiba.   "Kenapa?" Maura sedikit memekik karena kaget lalu melepaskan genggamannya pada Raga.   "Jangan pegang tangan aku sambil ngeliatin aku kaya gitu. Aku jadi grogi tau!" Raga sendiri terkekeh dengan kata katanya.   "Apaan sih kamu! Kaya anak ABG tau, gak?!" Cibir Maura sambil memukul lengan Raga.   Senyum tercetak di bibir Maura. Raganya telah kembali. Perilaku Raga sama persis seperti sebelum pria itu berangkat kuliah ke luar negeri.   "Sakit ih, Ra" Raga sedikit merajuk tapi senyuman juga tercetak jelas di wajahnya.   *****   "Kamu beneran gak apa apa nih? Aku taro penjaga di sini, ya?" Bujuk Raga sebelum meninggalkan unit milik Maura.   Raga masih mencoba peruntungannya. Siapa tau Maura mau menurutinya. Atau bahkan setuju untuk kembali tinggal bersama Raga.   "Kamu kenapa sih, Ga?" Tanya Maura akhirnya karena penasaran dengan sikap Raga yang seperti ini.   "Aku cuma khawatir aja"   "Khawatir kamu itu berlebihan Diraga!" tukas Maura.   "Iya..iyaa. Aku sampe takut kalau kamu udah manggil aku begitu"   Sedari dulu, Raga memang takut jika Maura memanggilnya dengan nama depannya. Apalagi nama lengkapnya. Nyalinya langsung ciut mengingat betapa kerasnya kepala Maura. Mungkin palu godam sekalipun tak akan meluluhkan kekerasan kepalanya. Apalagi kalau wanita itu sudah merajuk. Raga akan dibuat kewalahan.   Flashback on.   "Ra, nanti kamu jadikan temenin aku makan Batagor di kantin?" Tanya Raga pada gadisnya yang baru turun dari boncengan sepedanya.   "Iya, Raga. Kan aku udah bilang dari sepanjang jalan tadi. Kamu bawel banget deh" jawab Maura yang sudah sedikit kesal.   "Yaudah, jangan lupa ya. Nanti aku kasih yang seger seger deh" bujuk Raga.   Setelah mereka masuk ke kelas dan belajar, akhirnya waktu yang ditunggu tunggu Raga pun datang. Ia segera menarik tangan Maura untuk mengajaknya makan Batagor bersama di kantin.   "Kamu duduk, biar aku yang pesen" ujar Raga saat sampai di meja kantin yang kosong.   "Aku ikut aja, ah"   "Jangan. Nanti bangkunya di tempatin. Udah sana duduk. Bandel banget" Raga lalu mengacak acak rambut Maura. Acakan yang benar benar acak hingga rambut gadis cantik itu menjadi kusut.   Melihat Maura yang akan bersuara, Raga pun segera berlari meninggalkan Maura untuk memesan Batagor yang ia idam idamkan kemarin.   Setelah memesan Batagor, Raga mengalihkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Melihat situasi jika saja Maura sedang memperhatikannya. Beruntung teman sekelasnya sedang mengajak Maura berbicara. Raga langsung berjalan cepat menuju tukang es kelapa.   "Eh, Raga. Mau beli es?" Tanya Mang Asep si penjual Es Kelapa di kantin sekolah Raga.   "Iya nih, Mang. Mau dua ya. Tapi yang satu kasih tambahan ini ya. Bisa, kan? Raga lagi pengen yang seger seger. Jangan kasih gula juga ya, Mang" jelas Raga sambil memberikan tiga buah jeruk lemon berukuran besar.   "Iya, bisa kok. Buat Raga yang suka bantuin Mamang bacokin kelapa, apa sih yang engga?" Ujar Mang Asep sambil tertawa.   Raga memang suka membantu bantu di kantin. Katanya lumayan, soalnya orang kantin suka kasih makanan dan minuman gratis ke Raga.   Setelah menunggu Mang Asep memeras jeruk lemon dan memasukannya kedalan gelas es, Raga mengeluarkan sejumlah uang dan langsung menyambar gelasnya. Tak lupa ia juga mengucapkan terima kasih ke Mang Asep.   "Bu, Batagornya udah, kan?" Tanya Raga yang langsung berbalik ke tukang Batagor.   "Udah dari tadi, Ga. Kamu ibu cariin malah ke Mang Asep. Nih udah ibu kasih bonus"   Raga mengucapkan terima kasih dan membayar Batagornya. Ia lalu segera kembali ke meja Maura.   "Lama banget sih, Ga!" Ujar Maura yang sudah menunggu terlalu lama.   "Tadi ngantri. Nih Batagor sama esnya" Raga menyodorkan makanan dan minuman yang sudah ia pastikan tidak tertukar dengan miliknya.   "Tumben kamu beliin aku es? Biasanya kamu ngelarang aku minum es" Maura mengernyitkan alisnya karena curiga dengan kelakuan aneh pacarnya.   "Udah cepetan makan. Nih aku ampe selesai duluan kan" Raga menunjukan piringnya yang sudah kosong. Lalu pemuda itu langsung menenggak es kelapanya bulat bulat.   "Cepet amat. Aku aja belom" Maura lalu memakan batagornya.   Pada suapan terakhir, Maura dibuat terkejut karena ia malah mengunyah banyak cabai. Raga yang peka terhadap perubahan wajah Maura itupun langsung bangkit dari duduknya.   "Ra, aku ke perpustakaan dulu ya. Tadi kata Gusti, aku dicariin Bu Mila. Aku belum balikin buku" ujar Raga lalu meninggalkan Maura sambil berhitung mundur.   Maura yang kepedasan itu langsung menengguk es kelapanya. Seketika ia menyernyit, menemukan rasa asam yang luar biasa dalam es kelapanya. Kerjaan siapa lagi kalau bukan Raga.   Raga masih berhitung mundur.   3... 2... 1...   "Diraga Andreas!!! Kamu mau racunin aku, hah?!" Dan benar saja. Suara menggelegar milik Maura memenuhi kantin tepat pada hitungan ke satu.   Raga yang mendengarnya tertawa terbahak bahak dan terus berlari. Takut melihat wajah Maura yang pastinya sangat menyeramkan untuk ia lihat sekarang.   Warga sekolah yang sudah tau bagaimana usilnya seorang Raga dalam menjahili pacarnya itu hanya bisa tertawa mendengar teriakan Maura.   Karena hal itu, Maura benar benar merajuk pada Raga. Maura menghindari Raga sampai seminggu lebih. Membuat Raga kewalahan. Segala jurus telah dia berikan. Kecuali jaran goyang. Tapi tetap saja Maura menghindarinya.   Dari situ ketakutan Raga akan Maura yang memanggilnya dengan nama lengkap berasal.   Flashback off.   "Kenapa kamu malah senyam senyum? Lagi inget waktu kamu ngeracunin aku dulu?" Tanya Maura yang sadar ketika Raga tiba tiba senyam senyum tanpa alasan.   "Ehee, kamu tau aja, Ra" Raga lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil tersenyum lebar.   "Udah sana pulang. Udah malem banget" usir Maura karena tak tahan dengan senyuman Raga.   "Ngusir kamu mah. Yaudah aku pulang, ya. Kamu hati hati disini" ujar Raga lalu mengusap rambut Maura lembut. Ia lalu membalikan tubuhnya untuk segera keluar dari unit Maura.   Tiba tiba tangan melingkar dipinggang Raga, membuat langkah kakinya terhenti.   "Makasih, Ga. Aku seneng banget malam ini" ujar Si Pemilik tangan yang tak lain adalah Maura.   Raga membalikkan tubuhnya. Membalas pelukan Maura.   "Aku yang seharusnya makasih karena udah dikasih kesempatan sama kamu. Makasih ya, Maura" Raga lalu mencium pucuk kepala Maura lembut. Menyalurkan perasaannya.   Maura yang salah tingkah lalu mendorong Raga dan mengusirnya.   "Udah sana pulang!" Usir Maura dengan pipi yang merona.   Raga tergelak melihat wajah Maura. Tapi ia segera pergi karena takut mengganggu istirahat wanitanya jika ia terlalu lama berada disana.   "Yaudah aku pulang ya. Kunci pintunya jangan lupa" jelas Raga. Maura mengantarnya sampai ke depan unit. Lalu menutup pintunya setelah memastikan Raga masuk kedalam lift.   "Dia sudah pulang. Laksanakan tugasmu dengan benar. Mengerti?" Ucap seorang pria tua pada seseorang di seberang telepon. Pria tua itu berdiri di depan sebuah layar yang menampilkan gambar koridor sebuah apartment.   "Kita tunggu saja, b*****h" ucapnya lalu meninggalkan ruangan itu.   *****  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN