Angela sudah tiba di rumah lebih dulu saat melihat Gin masuk dan mulai berjalan naik ke lantai dua. Angela sengaja berdiri di ujung tangga, seolah menunggunya pulang. Ia ingin tahu, jika menanyakannya langsung pada lelaki itu, apakah ia akan mengatakannya dengan jujur? Gin hendak melewati Angela begitu saja, saat gadis itu justru sengaja menghalangi jalan Gin. “Maaf, Non, saya pulang terlalu larut,” ucapnya, sembari menundukkan wajah. “Dari mana kamu?” todong Angela, yang tak terima karena Gin dengan bebas pergi ke mana pun, sementara dirinya tidak. Dan ... siapa yang ia temui? Apakah kakeknya? Neneknya? Atau sanak keluarga? “Saya hanya keluar untuk menghirup udara segar.” Bohong! Sudah jelas Angela memergoki ia datang ke sebuah tempat yang Angela tak ketahui, dan ia berani berbohon

