Tidak butuh waktu lama sampai lampu neon bertuliskan REST AREA muncul di kejauhan, berdiri sendiri di tengah gelap dan hujan yang belum juga reda. Jémina hampir tidak sadar kapan mobil itu berbelok dan berhenti.
Mesin dimatikan. Suara hujan langsung terasa lebih jelas, menghantam atap mobil seperti ribuan jari kecil yang mengetuk tanpa irama. Udara di dalam mobil masih lembap, bau hujan bercampur karpet basah.
Kemarahan Nisa sudah berlalu, setidaknya di permukaan. Wajahnya tidak lagi tegang, bahunya turun, napasnya lebih teratur. Seolah amarah tadi hanya letupan singkat yang ikut larut bersama hujan.
Dan entah kenapa, kepanikan Jémina juga mereda. Tubuhnya tidak lagi gemetar, jantungnya tidak lagi berlomba dengan pikirannya. Meski begitu, ada ruang kosong di dadanya, perasaan tidak selesai yang menggantung tanpa jawaban.
Begitu turun dari mobil, Jémina langsung merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebungkus rokok. Tangannya refleks mencari pemantik, meraba-raba saku lain, lalu saku celana. Tidak ada.
“Neh,” suara Nisa terdengar dari samping. Tangannya terulur, pemantik kecil berwarna hitam mengilap di telapak tangannya.
“Thanks,” jawab Jémina singkat. Jemarinya sedikit gemetar saat menerima pemantik itu.
Hanya mereka berdua yang berdiri di luar mobil. Gita dan Araya sudah lebih dulu berjalan menuju kamar mandi, langkah mereka cepat, sesekali terdengar tawa kecil yang teredam hujan. Lampu rest area memantul di genangan air, menciptakan pantulan cahaya kuning yang bergetar setiap kali tetesan hujan jatuh.
Jémina menyalakan rokoknya. Asap tipis naik, lalu langsung diacak angin dan hujan. Ia memejamkan mata, mengisap dalam-dalam, membiarkan nikotin mengisi paru-parunya, menenangkan pikirannya yang belum sepenuhnya kembali utuh.
Rintik hujan tidak juga berhenti. Seolah malam ini memang tidak berniat memberi mereka jeda.
“Menurut lo,” suara Jemina pelan, hampir tenggelam oleh hujan, “apa yang gue lihat tadi itu nyata?”
Ia tidak menoleh. Pandangannya tertuju ke langit gelap yang tidak memperlihatkan apa pun selain awan berat dan cahaya samar lampu.
Nisa ikut mengisap rokoknya. Ia tidak langsung menjawab. Asap keluar dari mulutnya perlahan, bercampur napas.
“Kalau gue pikir-pikir lagi ya,” katanya akhirnya, nadanya datar.
Jémina menunggu.
“Cuma ada dua kemungkinan.” Nisa berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Kalau enggak, lo lagi halu parah.”
Ia menoleh ke Jémina sekilas, lalu kembali menatap ke depan.
“Atau,” katanya lagi, suaranya lebih pelan, “emang ada sesuatu yang lo lihat, tapi kita bertiga enggak.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, ringan, tapi terasa berat di kepala Jémina.
Ia mendengus kecil, lalu berjongkok dan duduk di tepi trotoar. Tangannya menggenggam rokok lebih erat. “Maksud lo gue lihat hantu gitu?”
Nisa hanya memiringkan kepala, alisnya terangkat sedikit. Ekspresinya netral, tidak menertawakan, tidak juga membantah. Seolah kemungkinan itu tidak sepenuhnya mustahil.
Jawaban ambigu itu justru membuat kepala Jémina semakin penuh. Ia mengisap rokok lebih dalam, asapnya terasa pahit di tenggorokan.
Langkah kaki terdengar mendekat. Gita dan Araya muncul dari arah kamar mandi. Rambut mereka sedikit basah, wajah mereka lebih segar dibandingkan Jémina dan Nisa yang masih diliputi sisa tegang.
Begitu melihat mereka, Nisa langsung menginjak rokoknya hingga mati. Jémina juga mematikan rokoknya lebih dulu, menekan puntungnya ke aspal basah.
“Kalian lagi ngobrol apa?” tanya Araya ceria, matanya berbinar seperti belum terjadi apa-apa sebelumnya.
“Biasa,” jawab Nisa cepat, terlalu cepat. “Perbincangan anak alam.”
Araya tertawa kecil. “Anak alam? Kalian baru turun dari pedalaman, apa gimana?”
Respon Nisa dan Jémina hampir sama. Mereka mengangkat bahu bersamaan, saling pandang sebentar, lalu tersenyum tipis tanpa menjawab.
“Ke minimarket bentar yuk,” kata Gita. “Ada yang mau aku beli.”
“Iya, iya,” sambut Nisa. “Gue juga mau nyari minum.”
Mereka berteduh sejenak di bawah kanopi, lalu masuk ke dalam minimarket. Pintu otomatis terbuka dengan suara desis pelan. Di dalam, udara terasa hangat, hampir pengap, kontras dengan dinginnya hujan di luar.
Minimarket itu sepi. Hanya ada mereka berempat dan satu penjaga kasir. Pria itu mengenakan seragam minimarket yang sedikit kebesaran, earphone menancap di telinganya, matanya fokus ke layar ponsel. Lampu putih di langit-langit memantul di lantai keramik yang bersih, menciptakan kesan steril dan agak kosong.
Mereka berjalan menyusuri rak, memilih jajanan sambil mengobrol ringan. Suara plastik kemasan beradu, tawa kecil Araya, dan sesekali suara hujan yang terdengar samar dari luar.
Lalu pintu minimarket terbuka lagi.
Seseorang masuk. Tubuhnya basah kuyup, jaket hoodie hitam menutupi kepalanya, masker menutupi setengah wajahnya. Air menetes dari ujung pakaiannya ke lantai, membentuk jejak kecil yang cepat mengering.
Mungkin karena lampu yang kurang terang di bagian depan, atau karena pikiran mereka masih teralihkan, tidak satu pun dari mereka benar-benar memperhatikan pria itu. Ia seperti bayangan yang lewat begitu saja.
Baru ketika Nisa berbalik dan tanpa sengaja menabraknya saat hendak menuju kasir, mereka sadar ada orang lain di ruangan itu.
“Oh, maaf, maaf,” kata Nisa cepat, refleks.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dan melangkah pergi, meninggalkan kesan dingin yang sulit dijelaskan.
Tak ada yang menyadari ketika sebuah buku jatuh ke dalam keranjang belanjaan mereka.
Mereka membayar barang belanjaan seperti biasa. Penjaga kasir hanya menggeser barang, menyebutkan total dengan suara datar, earphone masih menempel di telinganya.
Saat sudah hampir pergi, Nisa melirik ke dalam keranjang. “Buku siapa nih?”
Mereka bertiga menggeleng bersamaan.
Penjaga kasir ikut menggeleng. Ekspresinya bingung sesaat, lalu kembali datar.
Nisa hendak meletakkan buku itu di dekat kasir, tapi pria itu langsung menggeleng. “Maaf, Kak. Enggak bisa nitip barang di sini.”
“Ini bukan barang saya,” jawab Nisa, nadanya mulai naik.
Jémina langsung menahan tangan Nisa, memberi isyarat agar tenang. “Udah, bawa aja dulu. Siapa tahu orangnya masih di depan.”
Araya mengangguk, meski tatapannya ragu. Nisa mendengus kesal, tapi akhirnya mengalah. Kasir sudah kembali fokus ke ponselnya, seolah urusan mereka tidak ada lagi kaitannya dengannya.
Mau tidak mau, buku itu mereka bawa.
Begitu pintu minimarket terbuka, dunia berubah.
Malam yang seharusnya sepi mendadak ramai. Suara orang bercampur, langkah kaki, tawar-menawar. Lampu neon menghilang, digantikan cahaya obor dan lentera. Parkiran yang tadi basah dan kosong kini menjadi pasar yang padat. Bangunan kayu berdiri berderet, atapnya rendah, dindingnya kasar. Orang-orang berlalu lalang mengenakan pakaian yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya, seperti kostum tradisional dari masa yang tidak dikenal.
Nisa yang berjalan paling depan berhenti mendadak.
“Hei,” katanya pelan, lalu menoleh ke belakang. “Ini kayaknya gue yang mabok, deh. Bukan si nana lagi?”
Jémina terpaku. Dadanya terasa tidak enak. Araya membeku di tempat. Gita refleks mengetuk kepalanya sendiri dengan kipas lipat yang selalu ia bawa, seolah ingin memastikan ini bukan mimpi.
“Mundur,” bisik Gita. “Pelan-pelan.”
Mereka mundur satu langkah. Dua langkah.
Begitu pintu tertutup kembali, semuanya lenyap.
Mereka kembali berada di dalam minimarket yang sepi dan dingin.
“Ini gue enggak sendirian kan?” tanya Nisa, suaranya terdengar lebih kecil dari biasanya.
Jémina mengusap wajahnya. “Udah, udah. Coba keluar lagi.”
“Kalau lo berani, lo aja,” jawab Nisa cepat. Tangannya menyilang di d**a.
“Lemah lu,” balas Jémina, mencoba sok berani. Ia menggoyangkan bahunya sebentar, menarik napas dalam, lalu kembali memegang gagang pintu minimarket. Jarinya sempat ragu sebelum menggenggam lebih erat.
“Gue buka nih. Gue buka nih, ya?” ucapnya berulang-ulang, nada suaranya sengaja dibuat santai.
Nisa mendecak. Rahangnya mengeras.
“Kau ngomong kayak gitu sekali lagi, ku tendang p****t kau.”
“Ih,” sela Araya dari paling belakang. Suaranya kecil, jauh berbeda dari biasanya. “Gimana kalau kita emang salah lihat? Udah jalan aja, yuk.”
Biasanya Araya adalah yang paling berani menantang apa pun. Yang pertama tertawa, yang paling kencang bersuara. Tapi sekarang ia berdiri di belakang Gita, setengah bersembunyi.
Nisa menoleh sekilas, mendengus pelan.
“Araya si Ikan Koi aja takut buat taruhan, apalagi gue yang hidupnya isinya sial.”
Tidak ada yang tertawa.
Justru Gita yang melangkah ke depan. Gerakannya tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini. Ia tidak berkata apa-apa. Tangannya langsung meraih gagang pintu.
Ting.
Bunyi lonceng di atas pintu terdengar jernih saat pintu terbuka. Mereka melangkah keluar.
Parkiran kembali seperti semula. Aspal basah, lampu temaram, mobil mereka terparkir rapi. Tidak ada pasar. Tidak ada rumah kayu. Tidak ada orang-orang berpakaian aneh.
Hanya malam dan hujan.
“Kan,” ucap Gita pelan, seolah takut suaranya memecah sesuatu. “Mungkin kita aja yang lagi lelah.”
Tidak ada yang menjawab. Hanya suara hujan yang mengisi kekosongan.
Ada satu hal ganjil yang tidak mereka sadari. Sejak awal mereka keluar masuk minimarket, lonceng itu tidak pernah berbunyi. Tidak sekali pun.
Dan sekarang, lonceng itu hidup.
Jémina mengabaikannya. Ia berjalan ke arah mobil, membuka pintu, lalu berhenti sebelum masuk. Ia menoleh ke belakang, menatap ketiga temannya satu per satu.
“Siapa yang mau nyetir?” katanya. “Kalian lihat kan tadi aku bawa mobil kayak gimana. Jujur, aku takut.”
Nisa langsung menggeleng. Gerakannya cepat.
“Tadi gue juga berhalusinasi. Masih mau panjang umur gue.”
Pandangan mereka beralih ke Araya.
Araya langsung mengangkat kedua tangan.
“Aku enggak punya SIM. Bukannya nyampe rumah, malah nyampe akhirat nanti.”
Gita menarik napas pendek.
“Ya udah. Biar aku yang bawa.”
Tanpa banyak bicara, ia menyerahkan kantong belanjaan ke Nisa dan mengambil kunci dari tangan Jémina. Jemarinya dingin, tapi genggamannya mantap.
Mereka masuk ke mobil. Araya duduk di kursi depan. Jémina dan Nisa di bangku belakang. Begitu plastik jajanan dibuka, suasana perlahan mencair. Seperti biasa, bertemu makanan selalu berhasil mengusir ketegangan, setidaknya di permukaan.
Mobil melaju. Pelan. Terlalu pelan.
Gita menyetir dengan hati-hati berlebihan. Tangannya kaku di setir, pandangannya lurus ke depan, hampir tidak berkedip. Wajar. Ia baru mendapatkan lisensi. Jalanan basah dan gelap jelas bukan tempat yang ramah untuk pengemudi pemula.
“Semangat!” seru Araya, ceria kembali muncul meski masih sedikit dipaksakan. Ia menyodorkan keripik kentang ke mulut Gita.
Gita tidak menoleh. Fokusnya terlalu penuh pada jalan. Keripik itu nyaris jatuh.
Araya cemberut sebentar, lalu menoleh ke belakang. Jémina membuka mulut. Araya langsung tertawa dan menyuapinya dengan penuh semangat.
“Seperti biasa, kan?” Nisa menyodorkan minuman. “Kopi.”
“Makasih, Nona,” jawab Jémina sambil tersenyum kecil.
Mereka makan dan minum sambil mobil terus bergerak. Hujan mulai mereda, tapi jalan terasa aneh. Terlalu sunyi. Terlalu panjang untuk jarak yang seharusnya dekat.
Gita tetap menyetir. Pelan. Sangat pelan.
“Ini kita udah jalan berapa lama sih?” gumam Jémina.
“Enggak nyampe lima ratus meter,” jawab Nisa malas.
Ia akhirnya membuka buku yang tadi mereka temukan. Sampulnya kasar, warnanya kusam, judulnya tercetak sederhana: Dunia Tiga Alam. Nisa membuka halaman pertama. Matanya bergerak sebentar, lalu berhenti.
Belum satu halaman penuh, kepalanya sudah miring. Buku itu masih terbuka ketika napasnya mulai teratur.
“Ini nih manusia zaman sekarang,” komentar Jémina. “Baca buku dikit langsung tidur.”
Gita terkekeh pelan. Araya tertawa kecil.
Rasa penasaran membuat Jémina mengambil buku itu dari tangan Nisa. Ia membaca beberapa baris. Kalimatnya terasa berat, seperti menyeret pikiran masuk perlahan. Kata-katanya tidak sulit, tapi entah kenapa terasa menekan.
Kelopak matanya mulai berat.
Buku itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke pangkuannya.
Jémina tertidur.
“Ya ampun,” kata Araya sambil tertawa terbahak-bahak. “Sama aja dua orang ini.”
Mobil terus melaju di tengah malam yang tidak sepenuhnya terasa nyata.
Dan tanpa mereka sadari, buku itu sudah mulai bekerja.