“Om butuh sesuatu?” Nugara duduk kursi menatap penuh perhatian pada pria yang sudah menjadi papa keduanya itu. Satu jam setelah sadarkan diri, beliau mulai berbicara walau masih terbata-bata karena dua bulan tak sadarkan diri. Beliau pun memintanya untuk tidak memberitahu Naira, karena ada yang ingin dibicarakan.
Hutomo melepas selang oksigen, berusaha membenarkan letak tidurnya. “Apa kabar, Gara?”
Nugara tersenyum. “Baik, Om.”
Hutomo tersenyum, wajahnya tampak pucat. “Papa kamu?”
Nugara menunduk sesaat, sebelum kembali menatap Om Hutomo. “Papa udah meninggal, Om. Enam bulan yang lalu.”
Hutomo menghela napas lelah, memejamkan mata sesaat. Saat membuka mata, air mata lolos begitu saja. Kedua sahabatnya sudah berpulang tanpa menyusahkan siapa pun. Sedangkan dirinya? Hanya bisa menyusahkan putri yang ia janjikan akan selalu bahagia.
“Apa yang kamu tau?”
Nugara menatap lekat pada pria yang selalu berwajah teduh itu. “Hampir semua, Om.”
Hutomo meringis. “Kamu yang menghamili Naira?” Nugara menunduk, kemudian mengangguk pelan. Sungkan membalas tatapan teduh dari om Hutomo. “Tolong jaga dia, ya? Yakinkan dia kalau kamu nggak akan menyakiti dia. Buktikan kalau kamu akan selalu membuatnya tersenyum.”
Nugara mengangkat pandangannya. “Kita akan sama-sama bahagiakan Naira, Om. Kita bisa jelasin semuanya pelan-pelan sama Naira.”
Hutomo menggeleng, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya mengurangi gumpalan sesak dalam dadanya. “10 tahun, Nu. 10 tahun saya menyusahkan Naira. 10 tahun saya menjadi benalu dalam hidup Naira. Saya salah, seharusnya saya memberitahu semua pada Naira tentang siapa dia.”
Nugara menggeleng pelan.
“Saya terlalu menyayanginya, terlalu mencintainya. Dan ternyata kasih sayang saya hanya membuatnya menderita,” lanjut Hutomo menatap nanar ke depan.
“Semua orangtua pasti menyayangi anaknya, Om.”
Hutomo meringis. “Tapi sayangnya, Nai bukan anak kandung saya. Saya banyak menyusahkan Naira.”
Nugara menggeleng lagi untuk kesekian kalinya, berusaha menekan gejolak sakit dalam dadanya. “Om juga papa saya.”
“Keras kepala Naira nggak berubah-ubah kan dari dulu?”
Nugara mengembuskan napas berat. “Saya udah berbuat b***t sama Nai, Om. Jadi bukan masalah kalau Naira benci sama saya. Naira menjual keperawanannya, Om. Dan saya membelinya."
Hutomo bersandar lelah, menatap pasrah ke depan. "Nai emang nekat. Saya nggak tau harus marah atau berterima kasih sama kamu. Seandainya bukan kamu yang menemukan Nai, mungkin dia akan semakin terjerumus. Tapi nggak seharusnya kamu melakukan itu sama putri saya, Nu. Saya mau marah, menghajar kamu pun sudah tidak ada tenaga. Tapi kalau kamu nggak mau bertanggung-jawab, mungkin saya akan menghantui kamu kalau setelah saya meninggal nanti."
Refleks Nugara meraih jemari Hutomo. "Om nggak akan kemana-mana, kita ke Singapura setelah observasi di sini selama satu hari. Masalah biaya, saya yang nanggung."
Hutomo memejamkan mata lelah. "Saya nggak akan pernah memaafkan kamu kalau sampai kamu menyakiti Nai lagi, Nu. Kalian boleh marah, tapi jangan sampai mendendam. Saya nggak tau kalau Naira menyimpan marah pada kalian, dan saya juga nggak tau kalau kamu menyimpan marah pada kami."
Nugara menunduk, menyesali perbuatannya.
Tubuh Hutomo bergetar, dadanya berdenyut sakit. Lidahnya terasa kelu, ujung kaki-nya mulai terasa dingin. "Berjanji sama saya kalau kamu akan memperlakukan Naira dengan baik, Nugara. Berjanji sama saya kalau kamu akan selalu membahagiakan dia, menjadi penawar lukanya, dan menjadi pelindungnya."
Nugara menggeleng, netra tajamnya mulai mengabur. "Enggak, Om. Kita akan jaga Naira sama-sama."
Dada Hutomo semakin terasa sesak, rasa sakit semakin bertambah. Penglihatannya berkunang, napasnya semakin pendek. "Jelaskan semua pelan-pelan, setelah itu raih dia. Luluhkan kerasnya."
Nugara seketika berdiri melihat tubuh Hutomo merosot, sedangkan tangannya memegangi d**a kirinya. Nugara menggeleng, tergesa berlari keluar dari ruang ICU. "SUS! SUSTER!" teriaknya kencang. "SUSTER!"
Perawat yang berjaga segera berdiri, mendekati Nugara.
"Ayah saya! Ayah saya!" napas Nugara tersengal, degup jantungnya berpacu begitu cepat. "Ayah saya, DOKTER! SUSTER!"
"Iya, Pak. Kami akan segera menangani beliau. Bapak mohon bersabar, rekan kami sedang menghubungi dokter." Perawat sudah menggunakan pakaian steril, tidak lama kemudian dokter perempuan keluar dari lift tergesa menuju ruang ICU Hutomo.
"Bapak tunggu di sini, biar kami tindak-lanjuti," perintah sang dokter kemudian masuk ke dalam sudah dilapisi pakaian steril.
Nugara bergerak gelisah, melirik meja adm, lalu berlari ke arah sana. "Bu, bisa tolong hubungi keluarga pasien Hutomo? Saya tidak punya nomornya."
"Baik, Pak. Bapak silakan tunggu di sana. Biar kami coba hubungi Ibu Naira-nya."
Nugara mengangguk kaku, mundur perlahan. Keringat mengucur deras, tangannya mengepal kuat, menekan rasa tidak karuan di dadanya.
***
Naira sudah tak bisa membendung air matanya, berjalan cepat mengabaikan kehamilannya menuju lantai tempat ruang ICU. Naira merasa detak jantungnya berhenti mendengar kabar tentang kondisi papa-nya yang memburuk. Di sepanjang jalan Naira berdoa, meminta Tuhan memberikan kebaikan-Nya sekali ini saja. Ia tidak menginginkan hal lain kecuali kesembuhan dan kesehatan papa-nya, itu saja. Sampai di lantai atas, Naira bergegas menuju ruangan papa-nya di rawat.
Langkahnya terhenti melihat Nugara berdiri di depan kaca yang tembus langsung ke ruangan ICU. Melangkah pelan, Naira mendekati Nugara.
"Kenapa kamu masih ada di sini?!" Suara Naira begitu dingin, menunjukan ketidak-sukaannya dengan kehadiran Nugara.
Nugara menoleh, wajahnya sudah pucat pasi. "Lupain dulu amarah kamu, aku bisa jelasin semuanya, tapi nggak-"
"Ibu Naira?" salah seorang perawat keluar.
Naira mendekat. "Saya, Bu."
"Pak Hutomo ingin bertemu, juga dengan Pak Nugara."
Naira mendelik pada Nugara yang hendak masuk ke ruangan. "Jangan masuk! Kami nggak butuh orang kayak kamu!"
Nugara menatap nanar Naira. "Aku minta ka-"
"Ayo, Bu." Naira mengajak perawat itu masuk, meninggalkan Nugara yang termangu menatap miris pintu ruangan.
Lutut Naira terasa lemas melihat papa-nya semakin tak berdaya, susah payah Naira menahan tangisannya.
"Papa."
Tim medis menyingkir, memberi jalan pada Naira. Naira menggigit bibir bawahnya, duduk lemah di kursi. "Pa," Naira meraih jemari papa-nya, menggengamnya kuat. "Papa kenapa?" genggaman itu beralih ia tempelkan ke pipi. "Pa, bangun, yuk? Jangan buat Nai sedih kayak gini," suara Naira bergetar. "Kalau Papa tidur panjang, Nai sama siapa?" Naira mengecupi punggung tangan papa-nya yang masih memejamkan mata.
Sebuah usapan terasa di pundak Naira, menenangkan.
"Pa," Naira merengek seolah-olah papa-nya akan mendengar. "Papa bangun ..."
Detak jantung yang awalnya berbunyi normal, berubah menjadi decitan menandakan tidak ada lagi kehidupan.
Naira menatap dokter yang ada di sana, menatap lagi papa-nya yang tidak lagi bernapas. Saat itu juga kekuatan Naira lenyap, Naira berteriak lantang. "PAPA!"