21. Tahanan

1080 Kata
Saat pihak kepolisian menggumumkan akan membawa Siti ke kantor polisi untuk diperiksa lebih lanjut semua penjaga terkejut–senang–karena pihak kepolisian pun melakukan hal yang sama kepada Siti. Kali ini, mereka merasa mendapatkan pembelaan atas perbuatan mereka sebelumnya. Tuan Khalid dan Ahmed, yang memang sudah tahu lebih dulu bahwa pihak kepolisian akan menangkap Siti, tampak begitu muram dan gusar. Hal ini tidak seharusnya terjadi kepada Siti. Mereka khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bila Siti dibawa ke kantor polisi dan diinterogasi. Padahal, Tuan Khalid dan Ahmed sudah tahu dengan pasti bahwa Siti tidak bersalah. Apalagi dengan ditemukannya barang bukti yaitu sepatu yang kemungkinan besar adalah milik penyusup yang terjatuh saat melarikan diri. Semakin memperkuat dugaan bahwa apa yang dilihat Siti memang bukan khayalan saja. "Berdasarkan bukti-bukti dan keterangan para saksi, dengan sangat menyesal kami harus membawa Nona Siti ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut." Salah seorang polisi mengatakan hal ini. Sementara itu muka Siti terlihat beku. Entah mengapa dia seperti tersihir dan tidak bisa melakukan apa pun. Lidahnya kelu, mulutnya terkunci. Kaget. Wajar bukan? Yang dia lakukan hanyalah menatap Tuan Khalid dan Ahmed secara bergantian. Seolah menanyakan mengapa hal ini bisa terjadi padanya. Sungguh tidak adil. Mengapa mereka memanggil polisi bila hanya berakhir seperti ini. Bukannya menyelesaikan masalah justru membuat kesimpulan yang salah. Bukankah mereka berdua tahu bahwa aku bukan penjahat? Siti membatin dalam hati. Namun, mengapa mereka hanya diam saja? Apakah begitu sulit untuk mereka membelaku? Melihat gelagat tidak akan ada seorang pun yang akan menolongnya, Siti akhirnya mencoba untuk memberanikan diri. Tidak akan ada yang mengubah keadaannya kecuali dirinya sendiri. Tidak juga Ahmed dan Tuan Khalid. Saat ini, Siti menyadari hal itu dengan sangat baik. Tepat saat Siti akan membuka mulutnya, seseorang dengan suara berat angkat bicara. "Tidak bisakah kalian lepaskan saja dia?Aku yang akan menjaminnya. Gadis itu sungguh tidak bersalah," perintah Tuan Khalid. Melawan petugas kepolisian, adalah pilihan yang buruk. Itu seperti menyatakan pembelotan terhadap pemerintah setempat. Tentunya, akan lebih buruk lagi bila yang melakukan itu adalah warga pendatang seperti Siti. Maka dari itu, Tuan Khalid tidak akan membiarkan Siti melakukannya. Beliau tidak akan sampai hati membiarkan Siti yang tidak bersalah menanggung beratnya interogasi dan hukuman yang akan dialaminya dipenjara nanti. Semua orang di Almaas tahu bagaimana kejamnya mereka memperlakukan orang yang melawan petugas. Walau hanya berupa perlawanan verbal. Mereka juga tahu hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukan negosiasi kepada petugas. Tentu saja negosiasi di sini hanya terbatas dalam ruang lingkup yang sempit. Seperti menjamin seseorang tidak akan melarikan diri ke mana pun ketika sebuah kasus masih dalam masa penyelidikan. Hal inilah yang akan dilakukan Tuan Khalid untuk Siti. "Dia tidak akan keluar dari Caviya maupun Almaas sampai kasus ini selesai. Aku yang akan menjaminnya," tegas Tuan Khalid kepada kedua polisi tersebut. Begitulah, akhirnya Tuan Khalid menawarkan jaminan sejumlah besar uang agar Siti tetap berada di luar penjara. Dengan perjanjian sebagai tahanan rumah. "Baiklah kami akan melaporkan ini kepada atasan. Bila disetujui, maka Nona Siti bisa tetap tinggal di Qasr Fadi hingga kasus ini selesai," jawab salah satu petugas kepolisian kepada Tuan Khalid yang mengambil sikap pertengahan. Tidak langsung menolak Tuan Khalid, tetapi tidak langsung menyetujui juga. Petugas itu terlihat menelepon seseorang untuk menyampaikan apa yang diinginkan Tuan Khalid. Terlihat dia mengangguk dan mengiyakan semua perintah dari orang yang dia telepon. Namun, hasilnya tidak seperti yang diinginkan semua orang. "Maaf, atasan kami tidak menyetujui permintaan Anda, Sir. Jadi, terpaksa kami harus tetap membawa Nona Siti keluar dari kediaman Anda," jawab petugas polisi tersebut dengan wajah datar. Tentu saja hal ini sangat membuat semua yang di ruangan terkejut, terlebih-lebih Tuan Khalid. Beliau tidak percaya permintaannya ditolak. Apakah pengaruh beliau di Caviya sekarang begitu berkurang? Apakah ada permasalahan internal antara pemerintah dan Al-Mohsen yang tidak diketahui Tuan Khalid? Di sisi lain, Siti yang tadinya tidak mengerti mengapa dia harus dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa lebih lanjut, kini mulai berpikir lebih dingin. Hampir saja tadi dia melakukan kesalahan dengan melawan polisi. Apa jadinya warga asing yang baru saja menginjakkan kaki beberapa hari di Almaas bila berani melawan pemerintah? Untung saja Tuan Khalid segera bertindak cepat, walaupun gagal mencegah pihak kepolisian untuk membawa Siti. "Tidak mengapa, Tuan! Saya akan ikut ke kantor polisi," pungkas Siti yang sekarang sudah tenang. "Sebagai warga negara yang baik, seharusnya kita taat kepada perintah yang berwenang." Pernyataan Siti yang tenang, disambut dengan tatapan tak percaya semua orang di sekitarnya. Bagaimana mungkin seorang pendatang menceramahi penduduk asli mengenai kepatuhan hukum. Apalagi yang diceramahi adalah orang berpengaruh di negeri Almaas. Hening, tidak ada satu pun yang membantah karena yang dikatakan Siti adalah kebenaran yang tak mungkin dibantah. Ahmed yang dari tadi diam saja karena merasa bersalah telah memanggil polisi, kini beranjak dari tempatnya. Dia meminta izin kepada petugas untuk berbicara langsung dengan Siti. Dia sungguh tak habis pikir. Mengapa gadis itu sangat pandai membuat hal-hal yang sulit untuk dirinya sendiri? "Kamu tahu apa yang kamu katakan bukan?" desak Ahmed kepada Siti dengan berbisik. "Bagaimana bila nanti mereka menyiksamu dengan keji? Memaksamu mengakui perbuatan yang tidak kamu perbuat?" "Justru ini akan jadi kesempatan yang bagus untuk membuktikan bahwa saya tidak bersalah, Ahmed!" jelas Siti sambil melirik sekeliling. "Saya merasa penyusup itu akan berulah lagi. Bila dia tetap beraksi tanpa kehadiran saya, tentunya saya akan bebas dengan segera. Sekarang tugas Anda adalah mengusut kasus ini dengan tuntas, jika Anda benar-benar mengkhawatirkan saya." "...." "Ingat, Tuan Khalid sedang mengalami banyak musibah. Hanya Anda yang bisa menolong beliau," tambah Siti meyakinkan Ahmed. Siti menatap mata gelap Ahmed dengan penuh harap bahwa pria itu akan mendukung keputusannya. Menelan ludah, jakun Ahmed naik turun, memikirkan apa yang sebaiknya dia lakukan. Ahmed yang tadinya ragu kini dengan berat hati mendukung keputusan Siti. Selalu seperti itu. Seolah perintah Siti adalah sesuatu yang harus ditaati. Sebenarnya, siapa yang berkuasa di sini? Dia memperbudak dirinya, menyerahkan diri menjadi pekerja Tuan Khalid, tanpa dibayar, atas kemauan sendiri. Bahkan sekarang ini, dia rela pergi ke kantor polisi, juga atas kemauannya sendiri. Akhirnya, dengan berat hati, Ahmed dan Tuan Khalid melepas kepergian Siti yang digiring oleh dua petugas kepolisian menuju mobil patroli mereka. Mata mereka hanya bisa mengikuti mobil patroli itu keluar menuju pintu gerbang, menjauh dari pandangan mata. Baik Tuan Khalid maupun Ahmed, merasa yang mereka saksikan adalah suatu kesalahan paling fatal yang telah mereka lakukan selama ini. Membawa seorang gadis muda dari negara asalnya, untuk menerima perlakuan yang tidak adil di negara asing yang tak pernah dikunjungi sebelumnya. Menjadi kambing hitam untuk perbuatan manusia jahat yang tak bertanggung jawab ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN