@TILOEF Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba, ditemani segelas kopi yang memanjakan kepahitan hidup bersama manisnya roti sebagai intermezzo penyemangat hirupan. Matahari terbit terlihat muncul perlahan hingga cukup meninggi tapi tertutupi oleh bangunan. Jya harus menghadap ke sisi lain sebab pemandangan yang indah itu tidak selurus dengan balkonnya. Jya memutuskan untuk keluar kamar. Mungkin akhirnya ia memilih untuk berkeliling. Sampai di lobi, keluar. Jya melihat ada jejeran sepeda. Asik memperhatikan jejeran sepeda tapi Jya belum mengambil keputusan apapun, ia masih berdiri termenung hingga sampai dimana seorang pria menghampirinya. “Permisi Ibu? Selamat pagi,” sapanya kepada Jya. “Eh pagi Pak,” balas Jya menyapa setelah sebelumnya ia menoleh. “Mau jalan pagi?” tanya pria t

