Bab 2 : Cinta ditolak, bukanlah akhir segalanya...

1557 Kata
Pada akhirnya, Jea membawa pengeras suaranya keluar dari halaman rumah Geoffrey. Dalam perjalanan kembali ke asrama sekolah, bahumya yang tadinya gagah dan sombong sekarang lemah lunglai, wajahnya terlihat sangat jelek menahan tangis. Cinta yang bertahun-tahun dia pupuk dan dia rawat, gugur hanya dalam semalam. Geoffrey menolak pernyataan cintanya dengan sadis. Bahkan, di mata pria itu, dirinya yang terkenal cantik jelita manjalita jauh di atas Lucinta Luna tidak sebanding dengan seekor binatang jelek yang cuma bisa menggonggong dan menjulurkan lidahnya. “Ya Tuhan! begini banget sih kisah cinta gue!” Kesal, dia menendang batu dan kerikil yang tidak bersalah di sepanjang jalan. Laura beberapa kali mau bertanya, tetapi dihentikan oleh sorot mata Jea yang seakan berkata. Jangan nanya- nanya kalau nggak mau mati sekarang! Hanya saja Jea yang benar-benar mati malam itu. Entah siapa dan dapat rekaman dari mana, video pengakuannya yang penuh gairahnya jadi FYP di t****k. Awalnya, rasa malu karena sudah ditolak cintanya hanya dirinya yang tahu, tetapi jadi rahasia umum bagi seluruh penduduk +62 yang punya akun t****k, juga teman-teman sekolahnya. "Benar-benar editan yang patut diacungi jari tengah,” omel Jea saat mereport satu persatu akun yang ikut mengunggah videonya. “Kenapa coba cuma pas bagian gue lari dan nembak Geo yang ditunjukin! Padahal kan gue lari gara-gara dikejar anjing! Kalau editannya begini kan kesannya gue nggak punya malu udah ngejar-ngejar cowok!” Rasanya sudah banyak banget akun yang dia report, tapi rasanya nggak habis-habis. Kayaknya akun-akun ini punya motto seperti pejuang zaman penjajahan, mati satu tumbuh seribu, biarpun direport, maju terus pantang mundur! Sebenarnya cinta ditolak itu hal yang lumrah, salahnya Jea adalah, dia sering banget kurang ajar dan ledekin teman-teman ceweknya yang berani nembak crush-nya, dan di tolak. “Astaga, kalau itu gue, gue udah ganti muka kali!” “Awas aja kena karma lo, Je! Gantian lo gue ketawain!” “Karma apaan? Ditolak Ko Geo? Sorry, nggak bakal deh itu kejadian, soalnya waktu dia buang tulang rusuknya, gue yang pungut!” Dia juga sering koar-koar ke yang lainnya kalau Geo sebenarnya juga naksir balik ke Jea, dan mau jadiin Jea sebagai pacarnya, cuma Geo belum mau confess karena Jea masih sekolah. Dan sekarang, kenyataan jauh di luar ekspektasinya. Jea menyusut di tempat tidur dan menangis, bingung mau ditaruh di mana mukanya besok. “Lau, gue mesti gimana nih? Lo ngawasinnya gimana sih? Kok sampai nggak tahu sih kalau ada temen-temennya Geo di sana? Astaga, pasti pelaku penyebar video itu temennya Geo.”  Laura menjelaskan tanpa rasa bersalah sambil menyerahkan tisu kepada Jea. “Lo gimana sih, Je? Kan udah gue bilang sebelumnya, gue lihat mobil Ko Hans, lo sendiri yang bilang bukan.” Sang sahabat bahkan menamparnya, "Lagian lo juga aneh, masa udah bertahun-tahun ngejar Ko Geo, lo nggak tahu kapan dia ulang tahun sih?” Berbicara tentang ini, Jea akhirnya mengangkat selimut. "Ini semua gara-gara Gresya, dia selalu ngerayain ulang tahun kokonya, tapi bukan tanggal 22 Februari.” Berbicara tentang Gresya, Jea bahkan lebih marah. Kalau bukan karena niatnya yang mau jodohin Geo dengan guru les pianonya, Jea nggak akan terprovokasi dan menyatakan cinta dengan terburu-buru tanpa persiapan matang. Laura membujuk. "Lagian kenapa sih, Je, lo nggak berteman aja sama Gresya? Kalau lo jadi temennya, dan kalian akrab, gue rasa Gresya mau lah jodohin lo sama kokonya.” “Berteman sama dia?” Jea menunjuk wajahnya dengan marah, “Sorry aja! Gue masih inget banget, 14 Februari 2019, jam tiga sore, Gresya udah nampar gue di kafe internet! Dan gue nggak bakal ngelupain ini, hal yang paling memalukan dan kelam dalam sejarah masa SMP gue!” Pada saat itu, Gresya yang masuk ke kafe dalam keadaan marah tiba-tiba menjambak ekor kuda Jea dan menamparnya. Kejadian ini dengan cepat menarik perhatian penonton, dan tidak tahu b******n mana pelakunya, seseorang menangkap momen ketika Gresya menampar wajah Jea, dan grup WA sekolah segera menjadi heboh. Jea sebenarnya bukan orang yang pendendam, tetapi dia adalah orang yang menjaga martabatnya. Nggak masalah dia kehilangan hal lain, tetapi dia tidak boleh kehilangan harga diri! Membahas lagi masalah yang sudah berlalu, Laura juga merasa sedikit simpatik. "Yaah, lo emang apes banget waktu itu. Siapa yang ngira kalau Dinan, pacar baru Gresya waktu itu selingkuh dan bawa selingkuhannya ke kafe yang juga lo datengin. Coba waktu itu lo nggak sok-sok an ngajak Dinan ngobrol pas selingkuhannya pulang duluan.” “Yaa… mana gue tau kalau ada yang ngadu ke Gresya ngeliat Dinan di kafe sama cewek lain. Gresya juga t***l, kalau ada apa-apa, kroscek dulu kek, tanyain bener bukan gue ceweknya Dinan. Ini dateng-dateng main nampar aja dan langsung nuduh gue pelakor. Anjirlah, kesel banget gue kalau inget!” Jeanette dan Gresya jadi teman sekelas sejak pertama masuk SMP, tetapi keduanya tidak pernah bersinggungan satu sama lain. Circle pertemanan mereka berbeda, dan guru-guru juga cukup tahu diri untuk tidak menjadikan mereka berdua dalam satu grup setiap kali ada pelajaran yang mengharuskan bikin kelompok. Bukan rahasia lagi selalu ada persaingan bisnis antara Jusuf Haliem, ayah Jea dan Gidion Hasan, orang tua Geo dan Gresya. Karena Jea dan Gresya seumuran, selalu saja ada yang membanding-bandingkan mereka. Dari mulai riasan siapa yang lebih canti, outfitnya siapa yang lebih keren dan up to date, siapa yang nilainya lebih bagus dan lebih pintar, siapa yang lebih populer dan jadi pusat perhatian… Pokoknya, persaingan kedua keluarga dan kedua anak gadisnya cukup sengit, layaknya Alfamart dan Indomart. Sebenarnya Gresya cantik, tetapi kalau dibandingkan dengan Jeanette, dia masih ketinggalan lima langkah. Ketika Gresya berdiri sendirian, baik laki-laki dan perempuan akan terus menatapnya, tetapi ketika ditambahkan Jeanette yang tinggi, langsing dan berkulit bersih di sampingnya, Gresya akan langsung dilupakan begitu saja. Karena penampilannya yang luar biasa, dari SMP Jea selalu menjadi gadis yang paling banyak menerima pengakuan cinta. Setiap anak laki-laki yang disukai Gresya pada akhirnya menyukai Jea. Mungkin karena hal inilah Gresya mengira Jea benar-benar merebut pacarnya dan menjadi gila karena cemburu. Memikirkan adegan hari itu, Laura masih memiliki beberapa tawa yang tersisa. "Tapi lo inget nggak? LO juga ngubah Gresya jadi Orge Hijau kayak di film Shrek. Kalau diinget-inget lagi, Sebenarnya kedudukan kalian tuh seimbang lho, lo ditampar dan kena tuduhan palsu sama Gresya, dan Gresya butuh waktu seminggu untuk bener-bener ngilagin cat hijau yang lo siramin ke dia.” Jea memang bukan orang yang hanya diam saja saat dirisak. Dia dijambakdan ditampar Gresya, dan dia melawan balik dengan melempar ember cat minyak yang dia bawa untuk melukis dinding kafe. "Tapi gue yang paling dirugiin dalam kasus ini,” ketus Jea, “Bayangin aja, nggak cuma ditampar, tapi nama baik gue tercoreng dan gue digosipin sama anak-anak sampai lulus, dan dia juga nggak mau minta maaf!” Jea menyimpulkan dengan singkat. "Singkatnya, karena Gresya lah, gue semakin semangat buat bisa dapetin kakaknya!” “Kok gitu? Apa hubungannya sama Ko Geo?” Setelah Laura bertanya, Jea sekali lagi mengungkapkan ambisinya dengan suara yang memekakkan telinga. "Lo bayangin deh Lau, kalau gue bisa dapetin Ko Geo, jadi pacarnya, syukur-syukur bisa jadi istrinya, apa yang akan terjadi sama Gresya?” Laura mengangkat kedua bahunya, “Nggak tahu gue.” “Ishhh, lo bodoh banget sih!” omel Jea, “Kalau gue jadi istri Geo, Gresya bakalan dengan hormat manggil gue cici ipar. Waktu Geo megang bisnis keluarganya nanti, Gresya harus mijitin kakiku dulu sebelum dia bisa dapet jatah uang bulanan! Bukannya itu cara buat balas dendam yang elegan dan menyenangkan?” Laura dengan baik hati mengingatkan. “Tapi sebelum Gresya berlutut minta uang jajan, premisnya adalah lo harus bisa mendapatkan cinta Geoffrey dulu, dan mengingat bagaimana dia nolak lo, gue rasa itu mustahil…” Jea duduk dari tempat tidur dengan ekspresi tertampar. "Emangnya lo peramal? Nadiem pernah bilang hanya ada dua tipe cowok di dunia ini, yang suka sama cewek cantik, dan cewek cantik banget!” ketika Jea bilang begitu, dia menunjuk wajahnya sendiri. “Apakah gue masuk kategori cantik atau cantik banget? Gue rasa keduanya. Singkatnya, orang yang sulit dihadapi pasti ada cara buat naklukin dia, kalau nggak bisa dengan cara ini, gue bisa coba cara lain. Selama mau berusaha, apa sih yang nggak mungkin? Batu yang keras aja bisa bolong kok kalau setiap hari ditetesin air, apa lagi hati yang lembut. Benar nggak?” Laura mengangguk, “Bener banget.” "Kegagalan hari ini adalah pengalaman berharga. Gue udah evaluasi, kayaknya Geo bukannya nggak suka sama gue, tetapi dia nggak suka sama cara gue confess yang terlalu antusias dan aktif. Dia mungkin tipe cowok yang suka dengan gaya yang lebih kalem. Mendingan gue tidur dan mikirin rencana B.” Setelah Jea selesai berbicara, dia berbaring di tempat tidur dan menarik selimut sampai ke dagu. Dia menjulurkan kepalanya dan berkata kepada Laura. “Matiin lampunya, Lau. Gue mau tidur.” Laura melihat jam weker di atas meja. "Serius lo mau tidur, Je? Baru jam sepuluh lho, dan kehidupan malam bagi anak muda kayak kita nih harusnya bari di mulai, remaja jompo banget sih lo, Je!” “Ada orang yang bilang, kunci para orang hebat dan sukses adalah jam tidur cepat dan bangun lambat.” Laura tercengang. “Ada emang begitu ya? siapa sih yang bilang?” "Nadiem yang bilang!” Kepala Laura dipenuhi ratusan tanda tanya sekaligus kagum. Hebat banget Pak Nadiem Makariem ini, selain jadi founder Gojek, jadi menteri, beliau juga bikin banyak quote yang memotivasi para pemuda Indonesia. Padahal yang nama Nadiem yang dari tadi keluar dari mulut Jea, belum tentu Nadiem yang itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN