11. Bukan Cewek Idaman

1442 Kata
Perkataan Damar itu terus terngiang di benak Muti meskipun telah satu minggu berlalu sejak hari itu. Jelas kriteria cewek idaman Damar adalah seseorang yang bertolak belakang dengannya. Ia sudah tahu itu karena semua keluarga Widjaya adalah wujud nyata dari keindahan dan kesempurnaan ciptaan Tuhan. Lalu, kenapa ia masih bertanya? Sejujurnya Muti berharap bahwa sedikit saja, sedikiiit saja, ada satu kriteria cewek idaman Damar dalam dirinya. Namun nyatanya tidak ada satupun, bahkan yang mendekatipun tidak, seperti dirinya. Ia tidak cantik, tidak pintar, tidak pendiam, apalagi feminin! Rok yang ia miliki hanyalah rok sekolah. Selebihnya adalah celana panjang dan pendek yang menghiasi lemarinya. Lalu kenapa ia harus peduli? Damar hanya sahabatnya. Tidak lebih. Dan ia hanya ingin mencarikan pacar untuk Damar. Itu saja. “Yuk, pulang.” Muti mendongak dan tersenyum pada Nero. Hubungan mereka tidak bisa dibilang membaik, tetapi tidak juga memburuk. Mereka memilih untuk tidak membahas pertengkaran pertama mereka itu. Nero meminta maaf dan itu sudah cukup bagi Muti. Mungkin memang terdengar plin plan, tetapi ia ingin memberi kesempatan pada Nero, juga pada hatinya. Muti berharap Nero berubah, dan ia juga berharap akan memiliki perasaan itu untuk Nero. Ia yakin ada alasan kenapa Nero bersikap seperti itu. “Tadi bisa nggak ngerjainnya?” tanya Nero lembut. Muti menoleh dan menyeringai. “Banyakan yang enggak.” Nero tertawa mendengarnya dan mengacak rambut Muti. “Kan udah aku ajarin kemarin.” Jika ada hal yang membuat mereka tidak pernah bertengkar akhir-akhir ini, itu adalah karena waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk belajar. Nero sangat cerdas, dan ia benar-benar sabar menghadapi Muti yang tidak pintar. “Mau kamu ajarin sampe tujuh hari tujuh malem juga, tetep aja aku benci Matematika.” “Matematika aja?” Tanya Nero menggoda. Hampir satu minggu belajar bersama, Nero tahu jika Muti benci hampir semua pelajaran. Bukan benci sih, Muti hanya ... entahlah ... belajar dan Muti jelas bukan teman baik. “Sabar yah punya pacar bego.” Nero kembali terbahak dan mencubit pipi Muti dengan gemas. “Kamu tuh nggak b**o, cuma males!” “Ehm! Ehm! Biasa aja dong pacarannya. Nggak usah cubit-cubit!” Tawa Nero menghilang saat mendengar suara itu. Ia menatap Damar yang sedang asyik makan bakso di kantin. “Terserah! Dia pacarku! Sirik aja bisanya!” Damar menoleh dan tersenyum sinis. “Gue? Sirik? Dih, sorry!!” “Kamu ...” Muti meremas lengan Nero hingga cowok itu tak melanjutkan perkataannya. “Kamu tungguin di tempat parkir ya? Aku mau ngomong sama Damar bentar.” “Mutiara ...” “Bentar aja, please?” Nero hampir membantah, tetapi cowok itu mengurungkannya dan memilih pergi. Muti tahu pasti Nero nanti akan bertanya macam-macam lagi, tetapi sekarang dirinya hanya ingin bersama Damar. Seperti dulu meskipun hanya sebentar. Jujur, ia merindukan cowok tengil ini. “Jangan lama-lama,” pesan Nero sebelum pergi dan menjauh. “Apa-apaan sih lo!” Muti memukul bahu Damar dan melangkah melewati dinding pendek antara kantin dan jalanan. “Aduh sakit, Marmutt!!” Muti duduk di samping Damar dan merebut mangkuk bakso cowok itu. “Punya gueee!!” Damar berusaha meraih mangkuknya kembali tetapi ditepis oleh Muti. “Gue kan mau diet. Gara-gara elo sih pake mancing-mancing,” kata Muti sambil membelah bakso urat super besar di hadapannya dengan susah payah. Tidak peduli kuah bakso itu hitam pekat. Damar meraih sendok dan garpunya lalu memotong bakso itu kecil-kecil untuk Muti. “Nggak usah sok-sokan diet. Lo diet juga tetep aja nggak jadi cantik.” “Kambing lo!” gerutu Muti sambil menghabiskan baksonya dengan cepat. Muti benar-benar rindu si bulat itu. Sudah hampir satu minggu ini dirinya selalu memakan makanan yang Muti sendiri tidak bayangkan akan ia makan. Nero adalah cowok penggila makanan sehat. Ia selalu mengajak Muti makan sayur, buah, dan sejenisnya. Damar terkekeh dan mendekatkan gelas es nya pada Muti. “Elo nya juga sih, biasanya belajar sama gue jadi sama kunyuk itu.” “Ih lo kan galak. Males gue belajar sama lo.” Muti bangkit dari duduknya, tetapi terduduk lagi karena Damar menarik tangannya. “Sini dulu aja kenapa? Mau ke mana sih buru-buru? Kan ulangan udah selesai. Gue beliin satu mangkuk lagi buat lo ya?” Damar hampir berteriak memesan bakso, tetapi tangan Muti sudah lebih dulu membekap mulutnya. “Gue mau pulang.” “Mut ...” “Nanti kelamaan malah Nero ngamuk lagi.” “Ck! Lo udah nggak asik lagi sekarang,” keluh Damar sambil melepas pegangan tangannya di lengan Muti. “Udah sana lo pulang sama pacar lo itu.” Damar bangkit dan meraih tasnya. “Dam!” Panggil Muti tetapi tidak digubris oleh Damar. Cowok itu pergi tanpa menoleh lagi. “Heh, Marmut! Ngapain lagi lo deketin Damar!” Acha menepuk bahu Muti dengan keras. “Lo kan udah pacaran sama Nero. Jangan maruk dong jadi cewek!” Muti memilih tidak menghiraukan Acha dan pergi dari kantin. Ia sudah cukup menjadi perhatian orang dengan menjadi pacar Nero. Dan dia juga sudah banyak kehilangan 'teman'. Hampir semua cewek di sekolah ini menjauhinya setelah ia berpacaran dengan Nero. “Kok lama? Baru mau susulin,” ucap Nero saat Muti ke tempat parkir. Cowok itu mendekat, tetapi kemudian mengerutkan hidungnya. “Kamu habis makan bakso ya?” “Itu ...” “Mutiara Dunia, berapa kali aku bilang kalau tidak sehat? Kamu harusnya makan...” “Iya tahu! Sayur-sayuran dan buah-buahan yang bagus untuk kesehatan. Jadi lo mau pulang apa ceramah??” Nero mengerutkan alisnya. “Lo-gue lagi. Kenapa kamu selalu bicara kayak gitu kalau lagi marah?” Muti menghela napas kesal. “Oke, aku minta maaf. Ayo kita pulang.” Ia sedang tidak ingin bertengkar dan untuk kali ini, Muti bersyukur karena Nero diam dan menurutinya. Muti capek. ***** Damar melihatnya dari dalam pos satpam. Ia bahkan hampir mendekat saat melihat Muti dan Nero tampak sedang bertengkar. Namun ia mengurungkan niatnya itu karena tahu Muti akan merasa lebih tidak nyaman lagi. Semua orang sudah memerhatikannya sekarang. Dan sebagai orang yang paling mengenal Muti, Damar tahu bagaimana cewek itu. Lebih banyak perhatian hanya akan membuatnya semakin malu. “Bray, maen yuk! Bosen niih ujian terus.” Bagas menepuk Damar dan duduk di sampingnya. “Ujian masih sehari lagi, Kunyuk! Mau nggak naik kelas lo?” “Ck! Lo udah nggak asik lagi sekarang sejak Marmut punya cowok!” “Maksud lo?” Damar menatap Bagas dengan tak mengerti. Jangan sampai anak-anak tahu jika ia menyukai Muti, karena jika mereka tahu ... “Lo jadi kayak anak perawan patah hati tahu nggak? Manyun mulu! Lo nggak cemburu kan Marmut punya cowok? Nggak merasa kalah saing kan karena cewek kayak Marmut bisa punya pacar duluan dibanding elo?” “Cewek kayak Marmut?” Bagas mengangguk. “Lo nggak liat dia B aja? Cantik juga enggak. Pendek. Item. Gen...” Sebelum Bagas menyelesaikan ucapannya, tinju Damar sudah lebih dulu membuatnya meraung kesakitan. “b******k! Idung gueee!!” Bagas memegang hidungnya yang berdarah dan bangkit hendak membalas Damar. Namun, sebelum sempat memukul Damar, satpam sekolah lebih dulu melerai mereka. Anak-anak mendekati pos satpam untuk melihat apa yang terjadi. Damar meraih tasnya, hendak pergi sebelum tangan kekar menahan lengannya. Sial, dia ketahuan guru BK! ..... “Damar nggak berantem, Ma! Orang Damar cuma mukul dia sekali kok,” jelas Damar saat ia pulang dan mendapati Violet sudah menunggunya di ruang tamu dengan wajah memberengut dan menunjukkan WA dari guru BK sekolahnya. “Tetep aja kamu mukul teman kamu! Gimana kalau hidung dia patah coba??” “Mukulnya juga cuma pelan. Mama nggak usah lebay deh.” Violet kembali melotot. “Awas aja kalau Bunda kamu sampai tahu, Mama nggak akan belain kamu.” Ancaman itu membuat Damar mendekat pada Violet. “Jangan bilang Bunda ya, Ma? Please?? Damar beneran cuma mukul dia satu kali. Beneran.” “Kenapa kakak mukul dia??” Tanya Violet sambil menatapnya dengan serius. Selama ini, sebandel-bandelnya Damar, ia memang tidak pernah berkelahi atau terlibat baku hantam. Ia memang sering membolos dan kadang berbuat onar, tetapi memukul teman, belum pernah ia lakukan. “Dia jelekin Muti.” “Jelekin Muti? Maksud kamu??” Violet langsung tertarik begitu mendengar nama Muti. “Dia bilang Muti nggak cantik, item, pendek, gen...” “Kenapa kakak cuma sekali mukul diaa?? Harusnya kakak patahin itu hidungnya!!” Damar melongo. Tidak mengira akan mendapatkan reaksi seperti ini dari Violet. Damar pikir Violet akan menasehatinya bahwa berantem itu tidak baik, blablabla. “Tapi Muti nggak denger kan kalau dia diomongin begitu?” Damar menggeleng, masih belum bisa berkata-kata. “Bagus! Nah, kakak sekarang ganti baju terus makan. Habis itu jemput Muti. Ajak belajar bareng di sini!” Damar menoleh pada Violet dengan pandangan takjub. Rencana apa yang ada di kepala mamanya sekarang?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN