113. Berita Baik

1833 Kata

“Kamu tidak ingin pulang?” tanya Muti sambil cemberut saat melihat adiknya duduk dengan nyaman di sofa tunggal yang ada di depan jendela besar kamar Muti dan Damar. Setelah menghabiskan dua mangkuk lontong sayur dengan telur itu, Muti merasa jauh lebih baik dan kuat. Ia bahkan memaksa Damar untuk makan bersamanya karena tahu jika pria itu juga belum memakan apapun sama sekali sejak kemarin karena terlalu cemas padanya. Entah karena cairan infus itu, atau kekuatan biskuit asin dan lontong sayurnya, Muti perlahan mulai merasa seperti dirinya yang biasanya. Ia tidak merasa mual lagi, hidungnya tidak mencium aroma aneh entah apa itu lagi, kepalanya juga terasa lebih ringan meskipun masih sedikit pusing. Ia hampir yakin jika dirinya tidak sedang hamil karena tanda-tanda itu sudah menghilang s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN