Saat bibir Damar menyentuhnya, Muti melupakan semua kegelisahan dan kegugupan yang sempat ia rasakan tadi. Ini Damar, ya Tuhan. Pria yang sangat ia cintai. Pria yang rela melakukan apapun demi dirinya. Tidak seharusnya Muti merasa ragu, meski hanya sedikit saja, kepadanya. Aku mencintainya, pikir Muti lagi dengan keyakinan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya. Segalanya kini hanya tentang mereka berdua. Mereka akan memulai jalan baru berdua dengan saling memiliki dan mencintai seperti hari ini. Bahkan mungkin cinta itu akan semakin bertambah dari hari ke hari. Semakin membesar hingga Muti tidak sanggup lagi menampungnya. Namun, tidak apa-apa. Ia bisa mencintai Damar sebesar dunia dan segala isinya. Saat Damar memperdalam ciumannya, rasanya seakan sampai ke dalam setiap sudut relung

