15. Curhat Di Supermarket

1427 Kata
“Please, Bintang... ibu nggak punya temen cewek di rumah. Masa kamu tega biarin ibu masak-masak sendiri, makan-makan sendiri?” Muti terbahak mendengar rayuan konyol Tante Violet pada Bintang itu. Bintang yang awalnya kesal pun, nampak tidak mampu menahan senyumannya. Namun, dengan sekuat tenaga, kakaknya itu tetap mencoba memasang wajah tegas. “Mama udah ninggalin makanan buat Muti di rumah. Kalau dia pergi nanti nggak ada yang makan. Nanti Mama pasti bakalan marah.” Betul juga, pikir Muti. Mama adalah orang yang paling bawel jika menyangkut menyia-nyiakan makanan. Jika Mama pulang dan menemukan makanan masih utuh di kulkas, beliau pasti akan nyap-nyap tujuh hari tujuh malam tanpa henti. Berharap Bintang akan menghabiskan semua makanan itu seperti berharap bahwa Damar akan jatuh cinta padanya. Apa? Muti tergagap dengan pengandaiannya sendiri. Perumpamaan aneh apa itu? Kenapa harus Damar yang tiba-tiba muncul di kepalanya? “Sini mana nomor Mama kamu, biar ibu telepon Mama kamu langsung.” “Bu, Mama tetap nggak akan setuju. Mama itu ...” “Sini, Bintang!” Muti terkekeh saat melihat Bintang dengan enggan menyerahkan ponselnya pada Violet. Oh, tidak akan pernah ada yang bisa menang melawan Violet Widjaya. “Halo, Mamanya Muti? Saya Violet, adiknya Mbak Hannah.” Cerdas! Violet membawa nama Tante Hannah karena tahu Mama tidak akan menolak permintaan orang yang berhubungan dengan sahabat baiknya. “Iya... Ni lho, Muti mau saya ajak nginep ke rumah nggak dibolehin sama Bintang. Saya kan kesepian di rumah, Mbak.” “..........” “Iya, Mbak. Nanti makanan yang Mbak siapin saya bawa ke rumah deh. Saya masakkin buat Bintang sekalian, biar nanti supir saya anter ke rumah pagi, siang, malam, setiap hari.” Muti benar-benar tidak bisa lagi menahan tawanya. Tante Violet ini benar-benar cerdas dan lebay luar biasa. Pantas jika Damar seperti itu. Lagi-lagi Muti meringis dengan pemikirannya. Ini pasti karena si tengil itu belum menghubunginya satu kali pun semenjak mereka liburan. Sebelumnya, Damar tidak pernah seperti ini. Cowok itu pasti akan mengganggunya sejak mulai pagi buta hingga tengah malam. Apalagi dengan tidak adanya Nero, seharusnya Damar langsung menghubunginya. “Sini, mana dapur kalian. Tante udah dapet ijin penuh dari Mama kalian.” Violet menyerahkan ponsel Bintang dengan penuh kemenangan dan langsung mengikuti Bintang ke dapur untuk membungkus apapun yang Mama tinggalkan untuk mereka. “Muti, beresin baju-baju kamu ya, Nak.” Tanpa menunggu disuruh dua kali, Muti berlari ke kamarnya. Jauh lebih enak di rumah Damar daripada di sini sendirian karena memang Bintang sangat jarang di rumah. Kakaknya itu selalu sibuk dengan kegiatan kampus dan juga kerja paruh waktunya. “Ingat ya, Bintang, kamu nggak boleh jajan sembarangan. Mulai nanti siang, supir ibu kemari anterin makan buat kamu. Dihabisin. Jangan enggak. Ibu pastiin supir ibu nungguin kamu makan karena Mama kamu bilang kamu jarang banget makan di rumah.” Muti terkekeh mendengar nasihat Violet pada Bintang. Bintang memang jarang sekali makan di rumah. Mengantar makanan ke rumah hanya akan membuat makanan itu menjadi fosil abadi. “Eh, nggak usah, Bu. Bintang jarang di rumah. Nanti makanannya nggak kemakan.” “Kalau kamu berani nggak makan masakan ibu,” Violet menatap Bintang dengan pandangan lasernya, “siap-siap aja kamu dikurung di rumah setahun penuh. Ayo, Muti kita berangkat.” “Dah, Kakaaak!!” Muti menoleh dan menyeringai penuh kemenangan pada Bintang yang cemberut. “Pak, ke Supermarket dulu ya,” ucap Violet saat mereka berada di mobil. “Nggak apa-apa kan Muti temenin Tante belanja?” Muti mengangguk. “Muti juga biasa anterin Mama belanja.” “Ya, gitu kalau jadi anak perempuan satu-satunya. Tante juga biasanya jalan sama Ola. Hhhh... kayaknya Tante emang harus nyusulin dia ke New York.” “Tante mau pindah ke New York?” Violet menoleh. “Dan membuat suami ibu yang menyebalkan itu meninggalkan sekolah? Oh, ibu bisa dipecat menjadi menantu Widjaya.” Ah, meskipun menyebut suaminya menyebalkan, tetapi tampak jelas bahwa wanita yang duduk di sebelahnya ini begitu memuja suaminya. “Pacar kamu nggak marah kan kalau kamu nginep di rumah Tante?” Muti mengangkat bahu. “Dia pulang ke Singapura katanya.” Kemarin, Nero meneleponnya dan mengatakan jika cowok itu harus pulang ke Singapura selama liburan ini. Bukannya sedih, Muti justru bersyukur cowok itu pergi. Ia benar-benar merindukan masa kebebasannya dulu tanpa adanya pacar di sampingnya. Ternyata, punya pacar itu memang tidak enak. Lebih enak sendiri. Tidak akan ada yang melarang melakukan apapun, atau pergi ke manapun, atau makan apapun yang dia ingin makan. Seharusnya Muti dulu menolak Nero. “Kenapa?” Muti menoleh dan memandang Violet dengan kening berkerut. Tidak tahu arti dari 'kenapa' itu. “Kamu mendesah. Lagi ada masalah sama pacar kamu?” “Enggak, Tante. Itu ...” “Kalau dia marah, bilang sama Tante. Biar Tante yang ngomong sama dia. Baru jadi pacar aja kok udah suka ngelarang-larang. Nggak bener itu.” Muti menatap Violet dengan terharu. Seandainya Mama yang berbicara seperti itu. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Selama ini Mama selalu membela Nero apapun yang Muti katakan pada Mama. Beliau selalu berkata bahwa itu semua demi kebaikan Muti sendiri. “Kamu tuh harusnya pacaran sama Damar. Kalian kan udah tahu tuh masing-masing jeleknya kalian itu apa. Iya kan?” Muti tertawa. “Pacaran sama Damar? Muti tuh bukan tipe cewek impian Damar, Tante.” “Oh ya? Dia bilang gitu sama kamu?” Muti mengangguk dan mencoba menepiskan sakit hatinya yang tiba-tiba muncul tanpa diduga itu. “Dasar. Nggak usah dengerin dia. Itu anak suka ngaco. Udah ah, ayo kita belanja!” Berbelanja dengan Violet Widjaya ternyata sangat melelahkan. Wanita itu dua kali lipat lebih rewel daripada Mama jika menyangkut urusan belanja. Semua barang yang dibeli akan diperiksanya satu persatu dengan sangat teliti. Muti berharap mereka tidak membeli beras karena ia takut wanita itu akan memelototi butiran beras itu sampai subuh. “Kalau udah jadi ibu-ibu ya begini, Muti. Belanja aja harus milih-milih. Tante nggak mau apa yang dimakan anak-anak itu sembarangan. Apalagi mereka suka banget makan di rumah. Apalagi Damar tuh doyan banget makan. Nanti kamu juga harus bisa masak buat Damar.” “Emang kenapa Muti mesti masakin Damar, Tan?” Violet menoleh dan tersenyum. “Eh, iya ya? Kamu kan belum jadi istrinya ya.” “Tante ih! Kan udah Muti bilang kalau Muti itu...” “Tolong ambilin es krim deh, Sayang! Ezra suka banget es krim. Yang rasa strawberry ya.” Muti cemberut dan melangkah pergi ke rak es krim yang berada tidak jauh dari mereka. Entah apa maksud wanita itu selalu membicarakan Damar. Jangan-jangan Violet tahu jika dirinya memikirkan Damar. “Tante itu penyihir ya?” Tanya Muti saat menyerahkan es krimnya. “Emang Tante punya tanduk?” “Yang punya tanduk itu Maleficent dan dia ibu peri, bukan penyihir.” “Tante juga ibu peri kok, bukan penyihir, tapi Tante nggak punya tanduk.” “Tante! Muti nggak bahas itu!” Sergah Muti sambil cemberut sementara wanita itu terkikik. “Tante tahu ya Muti mikirin Damar?” Violet menoleh dari kesibukannya memilih apel. “Emang kamu mikirin Damar? Cieee, kangen yaaa?” Astagaa! Seandainya mereka seumuran, pasti Muti sudah mencubit wanita ini. “Dia nggak hubungin Muti dari mulai liburan,” jawab Muti akhirnya dengan cemberut. “Nggak biasanya dia kayak gitu. Apa karena sekarang Muti punya pacar?” Muti tidak pernah menyangka bahwa sesi curhatnya akan terjadi di sebuah supermarket. Namun, ia tidak bisa lagi menundanya. Selama ini tidak pernah ada orang yang bisa ia ajak bicara. “Dia ...” “Dia itu nyebelin,” sela Muti sebelum Violet selesai bicara, “tapi Muti nggak bisa kalo didiemin sama dia. Muti nggak mau dia jauhin Muti meskipun Muti punya pacar. Nanti kalau Muti ketemu dia, Muti mesti ngomong apa coba. Kita kan nggak pernah kayak gini. Damar itu biasanya selalu ada buat Muti dan Muti mau selalu kayak gitu. Muti egois ya, Tan?” Violet tersenyum. “Nak, kamu nggak egois. Damar yang bodoh.” “Maksud Tante?” “Widjaya selalu bodoh kalau menyangkut urusan perempuan.” Violet berbisik di telinganya seolah takut ada yang mendengar mereka. Wanita itu menyeringai menatap Muti dan berkata lagi, “biarkan dia menyesali kebodohannya. Tugas kamu cuma bersenang-senang sama Tante.” Entah itu apa maksudnya, tetapi Muti lega karena Violet ada di sampingnya. Dan sekarang ia iri pada Kak Ola karena mempunyai ibu seperti Violet. Ibu yang bawel dan menyebalkan tetapi juga adalah tempat curhat yang menyenangkan. “Tante?” Lirih Muti ketika wanita itu kembali meraih apelnya. “Ya, Sayang?” “Lain kali, Muti boleh ya curhat lagi sama Tante?” “Tentu, Sayang. Anytime. Tante milik kamu sekarang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN