PADA sore hari, Disha tampak duduk di depan jendela kamarnya. Di telinga kanannya tersumpal sebuah headset bluetooth berwarna putih. Sementara tangannya menggenggam benda pipih berteknologi canggih. Dan sepertinya gadis itu tengah berbicara dengan seseorang di sambungan telepon. "Baiklah. Tiga hari." Disha mengerjap, menjawab lawan bicaranya dengan nada canggung. "Kau tenang saja. Aku akan mengatasinya." Suara decitan pintu yang terbuka mengagetkan gadis itu. Sontak Disha memutar kepalanya ke belakang. Sementara gendang telinga bagian kiri merangsang suara derap langkah yang mendekat. "Disha?" Darrel berkata dengan dahi mengeryit serta mata mengerling. "Baiklah. Nanti aku hubungi lagi, ya!" Disha melepaskan headset dari telinga kanannya. Lantas menaruh benda mungil itu di atas meja de

