Denting jarum jam yang berada pada satu garis lurus, mengiringi langkah kaki di bawah sinar bulan yang purnama. Bayangan hitam memanjang ke belakang, tersembunyi di balik tubuh yang tak menyadari keberadaannya. Langkah seseorang yang bertelanjang kaki semakin cepat, berlari tanpa peduli pada luka dan rasa sakit. Hanya terus berlari dengan keyakinan ... sesaat lagi dia akan segera sampai pada takdirnya.
***
"Booocah siaaalan, Booocah siaaalan ...."
Suara anak-anak itu terus mengiringi langkahku. Mereka selalu mengolokku setiap hari dengan sebutan bocah sial.
"Bocah siaaalan ... tak punya ayah."
Aku berhenti ketika mereka mulai menyebut kata ayah. Mama akan sangat marah kalau mendengar semua ini. Aku tidak peduli jika mereka menghinaku, tapi kalau mama sudah marah, tangannya tidak akan segan untuk mendarat di bokongku dengan kasar.
Aku mengepalkan tangan di samping tubuh, ingin menggertak agar mereka berhenti mengolok.
"Waaah, Bocah sialan sudah marah. Aku takuuut," ucap salah satu dari mereka. Dean mendekat sambil menyedekapkan tangan. Dia ada di kelas yang sama denganku di sekolah, dan anak-anak yang lain selalu menuruti perkataannya.
"Kenapa! Kamu tidak terima? Berani melawanku?" Dean menoyor pundakku dengan kasar.
Aku menunduk, mencoba menahan amarah dan tidak melawan. Percuma saja, mereka akan terus mengulanginya lagi dan lagi.
"Kenapa menunduk? Takut?"
Aku mundur saat Dean semakin mendekat.
"Bocah sialan, tidak ada yang peduli padamu. Lihat," Dean menoleh ke arah teman-temannya. "mereka semua juga tidak mau menjadi temanmu. Itu karena kamu pembawa sial dan tidak punya ayah."
Sakit, hatiku rasanya sesak seperti akan meledak setiap mendengar kalimat itu. Setiap kali mereka menyebut kata ayah, ingatanku terus memutar ulang tentang pukulan-pukulan dan tatapan kebencian mama padaku. Aku tidak peduli jika dunia tidak menginginkanku, tapi kebencian mama membuatku terluka. Aku hanya ingin dipeluk oleh seorang ibu seperti anak-anak lain, tapi tangan mama hanya bisa memukulku.
"Kamu tidak punya ayah maupun teman, tidak ada yang peduli padamu, bagaimana bisa kamu pergi ke sekolah?"
Aku sudah tidak tahan lagi sekarang. Aku hendak menjawab, tapi sebuah bola melayang ke arah Dean dan hampir mengenai kepalanya.
"Siapa bilang tidak ada yang peduli padanya?"
Seorang anak laki-laki yang usianya lebih tua dari kami, tiba-tiba datang dan merangkulku.
"Aku sangat peduli padanya dan tidak akan segan untuk membuat kalian tidak bisa berjalan kalau terus mengganggunya."
"Kakak siapa?" Dean terlihat ketakutan saat mendongak dan melihat wajah anak laki-laki itu.
"Siapa katamu?" Anak laki-laki itu maju selangkah, membuatku menghilang di balik punggungnya. "Aku orang yang akan menendang b****g kalian semua seperti bola ini," Dia benar-benar menendang bola yang ada di dekat kaki sampai jauh. "kalau kalian tidak pergi dari sini dalam hitungan ketiga. Satu ... dua ...."
Dean dan teman-temannya lari terbirit-b***t sebelum anak yang menolongku itu sampai pada hitungan ketiga.
Aku tersenyum miring melihat anak laki-laki yang berdiri di depanku dengan mata mengejek.
"Meski kamu anak perempuan, tidak seharusnya kamu diam saja saat mereka menghinamu. Kamu punya ini." Dia menyentuh tanganku, "dan juga ini." Kali ini tangannya menyentuh bibirku. "Setidaknya kalau kamu tidak berani memukul, kamu bisa memarahi mereka."
"Kakak sendiri bagaimana? Apa Kakak hanya berani melawan anak kecil? Kenapa hanya menggertak dan tidak menendang b****g mereka sekalian? Apa Kakak ini seorang pengecut?" ucapku sambil bersedekap mengikuti apa yang dia lakukan.
"Wuaaah, apa ini caramu berterima kasih pada orang yang sudah menolongmu?"
"Aku tidak pernah meminta pertolongan. Lagi pula, itu sama sekali tidak membantu. Hari ini mereka berlari, besok mereka akan datang lagi dan terus menggangguku di sekolah dengan semakin menjadi. Anak-anak seperti mereka hanya perlu diabaikan agar bosan sendiri."
Dia mendengkus kesal mendengar perkataanku. Bukannya tidak mau berterima kasih, aku hanya ingin membuatnya mengerti bahwa apa yang menurutnya baik justru sudah membuatku dalam keadaan yang semakin sulit.
"Apa aku harus menyesal sekarang? Mulutmu hanya diam pada mereka yang jahat tapi begitu tajam pada orang yang yang sudah menolongmu. Bukan begini seharusnya seorang anak menjalani hidup."
"Lupakan. Aku harus pulang sebelum mama marah."
Sebenarnya aku senang saat ada orang lain yang peduli padaku, tapi aku tidak ingin berharap dia terus datang dan menolong setiap kali anak-anak itu mengganggu. Aku harus tetap menghadapi mereka sendirian saat Dean menggangguku lagi.
"Heh!" Dia berteriak cukup keras di depanku. "Aku tau kamu tidak peduli dengan perkataan mereka, tapi setidaknya angkat wajahmu dan tatap mereka dengan berani, bukan hanya menunduk seperti pengecut."
Dia sangat keras kepala sampai berjalan mundur di depanku sambil terus mengomel.
Aku menghentikan langkah dan melihat wajahnya yang lebih tinggi dariku.
"Apa Kakak sangat peduli padaku?"
"Apa maksudmu?"
"Siapa nama Kakak?"
"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Kenapa–"
"Lupakan," Aku melepaskan sepatu dan kaos kaki, lalu menyerahkan kaos kaki kananku padanya. "aku tidak punya nama, jadi Kakak simpan saja kaos kaki ini. Jika Kakak memang sangat peduli padaku, maka Kakak harus menikahiku saat dewasa nanti," ucapku asal bicara.
Aku meninggalkannya dengan sebelah kaki yang tidak memakai sepatu.
"Satu hal lagi." Aku kembali menoleh, mengangkat kaki dan menunjukkan tiga t**i lalat di atas mata kaki. "ingat ini, Kakak hanya akan menikah dengan gadis yang memiliki tanda ini. Oke?"
***
"Jadi hari ini kamu akan mulai mengamati pria ini?"
Airin menyandarkan tubuhnya ke meja, matanya meneliti sosok Gibran di dalam foto yang dia pegang.
Aku mungkin bukan penulis yang baik, tapi aku adalah yang terbaik dalam menuliskan ide cerita di kepalaku.
Seperti halnya penulis novel fiksi, aku juga menentukan premis, membuat bagan karakter, dan juga melakukan riset sebelum menulis kisah untuk seseorang. Bedanya, saat menulis novel fiksi, para penulis sudah memiliki ide sebelum melakukan riset, aku sebaliknya. Sebelum mulai mencoba menuangkan ide, aku terlebih dahulu melakukan pengamatan dan penelitian tentang seseorang yang akan menjadi tokoh utama.
"Ya, begitulah."
"Lalu kapan kamu akan mulai memikirkan hidupmu sendiri? Selesai satu proyek, kamu langsung menerima klien baru lagi dan lagi. Memangnya kamu benar-benar tidak takut mati sebagai jomblo yang mengenaskan?"
"Wah, Rin, sebenarnya aku tidak ingin percaya ini, tapi sepertinya memang benar..." Aku sengaja tidak langsung menyelesaikan kalimat, ingin melihat wajah penasarannya yang membuatku merasa menang.
"Apa? Benar kalau kamu mau mati sebagai jomblo?"
"Benar kalau kamu adalah orang yang paling perhatian." Aku mengedip cepat beberapa kali sambil memamerkan senyum meledek.
"Aku serius, Ayya. Kamu harus menikmati hidup dan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Bukan hanya menulis dan menulis. Bahkan dunia tidak mengakui pekerjaan 'mulia'mu itu."
Airin menekankan kata mulia dan nada bicaranya terdengar sangat kesal.
"Aku menikmati hidup dengan caraku. Aku bahagia saat menulis dan saat tokoh dalam tulisanku, satu-satu menemukan takdir bahagia mereka."
Aku tidak berbohong. Hal terbaik yang pernah kulakukan adalah menulis, aku selalu merasakan kebahagiaan setiap kali klien-ku datang kembali dan menceritakan semua yang telah mereka lalui dengan wajah gembira.
"Ayolah, Ayy, apa kamu tau bagaimana tanggapan dunia tentang pekerjaanmu ini? Followersku bahkan menganggapku gila saat aku membuat postingan tentang jasa Reparasi Takdirmu ini. Mereka tidak percaya dan menganggapku sudah gila."
Aku tertawa mendengar kalimatnya. Dia memang selalu bertingkah seperti itu saat membicarakan tentang bagaimana aku menjalani hidup. Terlebih saat sudah mulai mengoceh tentang pasangan, kalau aku punya mama seperti orang lain, mungkin dia juga akan mengomel seperti Airin selama ini. Terkadang, ketimbang seorang sahabat, aku lebih merasa kalau Airin itu seperti seorang ibu meski usianya lebih muda dariku.
"Rin, orang-orang yang datang ke tempat ini bukan mereka yang percaya bahwa takdir bisa diubah dengan sebuah pena, tapi mereka yang langkah kakinya dituntun oleh takdir."
Kali ini aku tersenyum tulus sambil memegang pundaknya. Seperti bagaimana pena itu datang padaku lewat seorang kakek belasan tahun lalu, aku yakin, mereka yang datang kemari adalah orang-orang yang takdirnya telah ditetapkan untuk melangkah ke tempat ini.
"Sudahlah, aku harus pergi mengamati Gibran, atau nenek sihir bernama Nyonya Diana akan membuat telingaku pecah dengan dering teleponnya."
"Dengan pakaian seperti ini?" Airin mengamatiku dari ujung kaki sampai kepala dengan mata mencibir. "Tidak mandi?"
"Aku adalah orang yang percaya bahwa cantik itu tidak harus mandi."
"Astaga, Ayya! Turunkan sedikit kadar kepercayaan dirimu itu, apa kamu tidak pernah melihat wajahmu sendiri di cermin?"
"Sering. Aku cantik. Iya, kan?!"
"Cantik pantatmu!" Airin menyeretku ke kamar mandi dan menyemprotkan air padahal sudah berganti pakaian. Menyebalkan!
"Rin! Ya, ampun. Aku sudah mandi kemarin. Ayolah, airnya sangat dingin."
Anak itu malah keluar dan mengunciku di kamar mandi.
"Mandi sekarang dan cuci rambutmu atau aku tidak akan pernah membukakan pintu."
Mau tidak mau aku menuruti perkataannya. Aku semakin yakin kalau Airin adalah titisan Mak Lampir sejati, dia punya sihir yang sangat menyebalkan di ujung lidahnya untuk membuat orang lain melakukan apa yang dia inginkan.
***
Pria itu berdiri di balik meja dan meracik pesanan kopi sambil sesekali melemparkan senyum ke kursi pelanggan. Kafe ini tidak terlalu besar, tapi pengunjungnya sangat ramai, dan ya ... kuakui Gibran memiliki daya tarik yang luar biasa untuk membuat para gadis melihat ke arahnya.
"Jangan lupa berkedip," ucapku memperingatkan Airin yang sejak datang hanya sibuk memandangi sosok Gibran.
"Ayy, bisa tidak kamu menuliskan takdirnya untuk menjadi pasanganku?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa membiarkan Mak Lampir dan Nenek sihir bertemu sebagai menantu dan mertua."
"Yak!"
Airin hendak memukulku tapi aku berhasil menghindar. Gerakannya terlalu mudah dipresiksi, setiap merasa kesal, Airin pasti akan memukul lengan orang di sampingnya. Aku sudah hafal itu.
Hanya sesaat gadis itu terlihat kesal, detik berikutnya dia sudah kembali larut dalam pesona seorang Gibran yang mengenakan kemeja digulung lengannya dan celemek cokelat yang membuatnya terlihat semakin memesona.
"Lalu, gadis beruntung seperti apa yang akan menjadi pendampingnya."
Aku melihat Gibran yang sibuk dengan pekerjaannya, lalu menuliskan namanya di atas kertas. Tulisan itu memudar, membentuk titik-titik yang perlahan menjadi sebuah sketsa.
Di kertas itu, sekarang ada sebuah gambar yang terlihat semakin jelas. Dua orang yang berdiri di sebuah taman, dan jam menunjukkan pukul dua belas.
"Dia akan bertemu dengan takdirnya tepat di jam Cinderella."