"Kamu pasti punya tujuan serius datang ke rumah saya. Apa itu, Danan? Semoga saja kabar baik."
"Kedatangan saya ke sini untuk meminta restu Pak Handy dan Ibu Anida menikahi Anandhiya." Danan tidak akan basa-basi dan langsung bicara to the point.
Danan tipe orang yang tak gemar mengulur-ulur waktu untuk menyampaikan maksud baiknya. Termasuk, keinginan bertemu dengan ayah Anandhiya yang notabene atasan dirinya di kantor untuk membicarakan lamaran serta juga rencana mengenai upacara pernikahan dua bulan lagi.
"Dhiya sudah bersedia menikah dan menjadi istri saya. Sekarang saya hanya tinggal mendapatkan restu dari Pak Handy dan juga Ibu Anida." Danan masih berkata dengan keseriusannya yang nyata. Ia turut dilanda ketegangan.
"Semoga Bapak dan Ibu memberi restu keinginan saya untuk menikahi Anandhiya. Saya berjanji akan menjaga Dhiya dengan baik." Harapan yang besar dalam untaian kalimat dilontarkan oleh Danan terdengar begitu jelas.
Kegugupan terus melingkupinya. Keringat dingin perlahan-lahan keluar, menempel di dahinya. Bahkan sampai menuruni pipi. Ketenangan tak bisa diberlakukan oleh Danan. Situasi seperti ini benar-benar membuatnya tak dapat nyaman ataupun bersikap santai, barang satu detik pun.
"Kasih restu kepada kami menikah, Papa, Mama."
Selesai meluncurkan kalimat permintaan yang turut diselipkan sedikit rajukannya pada ibu dan juga sang ayah beberapa detik yang lalu, Anandhiya segera saja menunjukkan dukungan nyata ke calon suaminya dengan menggenggam tangan milik pria itu. Anandhiya melakukannya secara refleks.
"Aku yakin banget, Danan akan menjagaku baik-baik. Dia juga pasti akan mampu membimbingku jadi wanita dan istri yang berguna, kalau kami berdua resmi menikah nanti."
Anandhiya memandang kedua orangtuanya secara bergantian dengan tatapan yang serius. Jujur, di lubuk hati terdalamnya, muncul kecemasan keinginan menikah bersama Danan akan ditentang karena enam bulan lalu, ia membatalkan pertunangan sepihak dengan Surya.
"Papa sama Mama kenapa nggak juga kasih jawaban? Kasihan Danan nunggu lama." Anandhiya pun kini mulai dilanda rasa ketidaksabaran. Lontaran pertanyaannya diluncurkan dalam penekanan di setiap kata yang nyata.
"Nggak apa-apalah aku nunggu lama, Na. Wajar Ibu Anida dan Pak Handy belum menjawab. Orangtua kamu butuh waktu untuk memutuskan." Danan menanggapi perkataan Anandhiya yang terdengar seperti keluhan di telinga dengan balasan positif. Ia harus dapat memberi pengertian pada wanita itu. Mereka memang harus bisa bersabar menanti.
"Tidak apa-apa juga, kalau mau diputuskan besok. Akan aku tetap ditunggu." Danan menambahkan jawabannya dengan gaya bicara yang coba dibuat terdengar supaya lebih santai dan juga tak kaku. Ia pun berani mengesampingkan kata baku untuk digunakan dalam kalimatnya barusan.
"Aku nggak pengin menunggu sampai besok, Danan. Papa dan Mama harus kasih jawaban sekarang untuk kita berdua yang pasti. Keinginan kamu menikahiku bukanlah hal buruk. Melainkan, sesuatu yang mulia, juga baik."
"Harusnya Papa dan Mamaku dapat menerima kamu sebagai menantu. Nggak akan menolak niatan baik kamu, Danan." Anandhiya tak takut mengutarakan pendapatnya yang sedang berputar-putar indah di dalam kepala saat ini.
Wanita itu kembali bergantian memandangi ayah dan ibunya yang belum keluarkan satu pun jawaban, meski telah mendengar jelas ucapannya. Kegelisahan dan ketakutan di dalam hati Anandhiya bercampur jadi satu.
Sisi kekanak-kanakan Anandhiya pun mudah keluar jika keinginannya tidak dapat terealisasikan sesuai ekspektasi yang dikehendakinya. Menurut Anandhiya sendiri, tak ada yang salah dengan rencana pernikahannya bersama Danan.
"Sabar, Dhiya. Kamu jangan emosian. Di hadapan kedua orangtuamu apalagi." Danan memeringatkan halus. Ia tidak ingin melihat calon istrinya itu semakin dikuasai oleh emosi ataupun amarah. Semua akan kacau dibuatnya pasti.
"Mama pasti merestui kalian berdua, Nak."
Danan mengulum senyuman hangatnya. Rasa lega pun seketika menaunginya setelah mendapatkan jawaban positif dari ibu Anandhiya. "Terima kasih, Tante."
"Terima kasih sudah mau merestui kami. Saya berjanji akan menjaga dan melindungi Dhiya dengan baik, Tante."
Ibu Anida mengangguk singkat. "Iya, Nak. Sama-sama. Tolong jaga putri saya ini nanti sebaik-baiknya. Dia sedikit nakal dan suka melawan," pesan beliau dilengkapi tawa kecil. Senyuman hangat turut Ibu Tika pamerkan.
"Satelah kami nanti resmi menikah, Dhiya sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab saya." Danan cepat menanggapi ucapan ibu Anandhiya dengan kesungguhanyang besar.
Niatannya menikahi wanita itu memang serius dan juga tak main-main, walaupun bagi Anandhiya semua ini hanyalah sandiwara serta pernikahan berstatuskan kontrak saja. Tetapi, baginya tetaplah janji suci yang akan mereka berdua nanti iklarkan bernilai sakral, terutama pada Tuhan.
"Tolong bimbing Anandhiya menjadi wanita dan istri lebih baik lagi setelah kalian menikah. Sifat childish, juga cepat marahnya harus bisa dikurangi dan hilang."
Anandhiya pun langsung saja membulatkan kedua mata, selepas mendengar rangkaian kalimat yang ayahnya luncurkan. Anandhiya seketika menarik kesimpulan. Dan lalu, berkata, "Papa merestui kami berdua menikah, ya?"
"Papa mau menerima Danan sebagai menantu dan calon suamiku. Benaran 'kan, Pa?" Anandhiya mengonfirmasi sekali lagi dengan tidak sabaran. Ia sangat yakin jika tadi tak salah dengar kata-kata yang ayahnya lontarkan.
Pak Handy memerlihatkan anggukan kepala kecil serta menyunggingkan senyuman tipis beliau. "Iya, benar. Papa merestui kalian. Danan boleh menikahmu, Nak."
Ekspresi bahagia tak mampu untuk lebih lama lagi Anandhiya sembunyikan selepas mendengar jawaban dari sang ayah yang memang diharapkannya. Ia lalu memberi pelukan kepada ayahnya sebagai ungkapan terima kasih.
"Makasih Papa, Sayang. Aku tahu dan yakin Papa akan menginzinkanku menikah dengan Danan. Aku tahu Papa sangat memikirkan kebahagiaanku. Makasih banyak Papa. Aku sayang Papa." Anandhiya meloloskan kalimat-kalimat celotehannya dengan rasa bahagia yang semakin membuncah hebat di dalam d**a sekarang ini.
"Terima kasih, Pak." Danan segera ikut berterima kasih. Ia bicara sopan serta formal. Senyumnya juga mulai bisa tersungging alami, tak dipaksakan seperti tadi.
"Saya akan mengingat pesan Pak Handy terus dan saya akan berusaha menjaga, membimbing Dhiya," janji pria itu serius. Tentu, kedepannya harus ia tepati.