04

911 Kata
    “Cepatan!” perintah Anandhiya, intonasi suaranya kian dikeraskan. Raut wajah serta sorot mata yang galak juga diperlihatkan agar sang suami cepat menurut.     Pasalnya, telah beberapa kali Anandhiya berupaya membujuk secara halus pria itu supaya masuk ke dalam mobil. Nyatanya, tak mudah bagi Anandhiya. Sang suami tetap berdiri di luar, walau dirinya sudah membuka pintu.     “Cepat nggak!” Anandhiya mulai tidak sabaran dan memberikan penekan pada dua kata yang diluncurkan. Ia jengah mengeluarkan bujukan dengan cara lembut.     “Dengar nggak, Danan?” Kejengkelan ditunjukkan Anandhiya lewat gaya bicaranya yang tidak bersahabat dan juga bernada tinggi. Lalu, kaki-kaki jenjangnya maju dua langkah secara cepat ke arah sang suami.     “Danann.” Anandhiya menggumam pelan sembari coba meraih salah satu tangan pria itu. Tetapi, gagal. Sebab, suaminya telah berjalan mundur dengan begitu cepat.     “Nggak usah bikin kesal sama terus senyum nyebelin kayak gini.” Peringatan serius diloloskan Anandhiya sebagai bentuk ketidaksukaannya dengan reaksi suaminya.     “Suka aku lihat kamu kesal, Na.” Danan menyahut santai, tanpa rasa bersalah. Ia memang sengaja bermaksud mengguyoni wanita itu. Ya, istrinya yang galak. Akan tetapi, selalu berhasil membuat rasa sayangnya bertambah.      “Nggak usah banyak tingkah, ya.” Anandhiya jelas merespons negatif. Tak mau terpancing. “Cepatan masuk ke dalam. Obati dulu di bibirmu dulu, Danan.”     “Diobatin sama kamu?” Nggak perlu, Na.”     “Kenapa nggak perlu? Apa kamu mau kembali ke kantor dengan luka yang kelihatan jelas? Mau dipamerin ke siapa?” cerocos Anandhiya, sedikit ingin menyindir.      Danan terkekeh. “Mana mungkin luka dipamerin, Na. Maunya kasih tahu semua orang di kantor kalau aku sayang kamu.” Godaan diluncurkan oleh Danan secara sengaja.  “Jangan bercanda tolong. Aku lagi nggak mood gara-gara ketemu Surya, tadi. Bisa ngerti nggak?”      “Diminta buat masuk ke mobil untuk diobati luka aja susah. Keras kepala emang.” Anandhiya menyindir lagi.     Danan jadi terkekeh geli mendengar protes terang-terangan dari istrinya. “Aku udah dengar, Na.”     Selesai menjawab, Danan segera saja melangkah ke depan, mendekati wanita itu. Tidak butuh sampai lima detik baginya untuk menarik tangan sang istri. Kemudian, diberi kode agar duduk di jok mobil samping pengemudi. Wanita itu mudah menurut dan enggan memprotes lagi.      “Mau ke mana?” tanya Anandhiya segera, manakala menyadari pergerakkan dari sang suami yang menjauh.     “Ikut masuk ke mobillah, Na,” balas Danan santai sembari tak berhenti berjalan ke sisi kanan kendaraan roda empat milik istrinya dengan langkah cukup cepat.     Sementara, Anandhiya tidak mau memindahkan sama sekali titik fokus pandangan dari sosok suaminya sembari mengambil kotak P3K di laci dashboard. Dan ketika, pria itu sudah membuka pintu dan duduk pada jok pengemudi, maka Anandhiya cepat memberi isyarat untuk diam, tak bicara.     Tangan kanan Anandhiya yang sedang memegang kapas berisi alkohol, kini mulai digerakkan menuju ke wajah sang suami, tepat pada bagian sudut bibir kanan, masih terdapat darah bekas pukulan dari Surya, meski lukanya tak terlalu parah. Hanya lebam, namun tetap saja kecemasan dirasakan Anandhiya. Kepeduliannya selalu ada untuk Danan.      “Lain kali, kalau dia seenak jidat mukul kamu, ya dilawan aja mending. Aku yakin kamu bukan tipe cowok yang lembek atau tahan kalah.” Anandhiya berceloteh ria, terlihat jelas jika belum bisa menghilangkan kekesalan akan tingkah arogan mantan tunangannya tadi ketika mereka di kafe.     “Percuma aku lawan dia, Na. Nggak kasih untung juga buatku. Lagian, aku udah menang telak dari dia.”     Alis kanan Anandhiya terangkat naik, tak paham dengan jawaban suaminya.“Menang atas apa?”     “Ya menanglah, karena udah berhasil memilikimu Dhiya. Sedangkan, dia nggak pernah bisa,” jawab Danan dengan nada yang santai. Kontras akan tatapan seriusnya.     “Yakin kamu udah menang? Bisa memiliki diri—“     Cup!     Anandhiya harus rela tak bisa menyelesaikan satu patah kata terakhir didalam kalimat pedasnya diakibatkan daratan kecupan dari sang suami, tepat pada kening. Jelas saja, respons pertama yang ditunjukkan Anandhiya adalah deilikan mata maut. Diarahkan tepat ke mata suaminya.     “Nggak ada Surya di sini. Nggak usah lagi kamu main cium tiba-tiba seenaknya aja,” peringat Anandhiya.      Danan terkekeh kian keras. “Jadi, kamu berpikir kalau aku cium di kafe tadi karena Surya, Na?”     “Nggaklah, yah. Aku cium kamu karena ingin. Biar sekalian pengin lihat Surya kepanasan.” Danan menjawab secara jujur dan apa adanya, masih dengan santai.      “Pengguna andal kesempatan dalam kesempitan.”     Danan pun tak mampu menahan gelak tawanya untuk terus keluar, terlebih setelah menerima sindiran dari sang istri. Namun, ia tak tersinggung. “Nah itu ngerti, Na.”     “Menyebalkan,” tanggap Anandhiya seraya memberi penekanan pada luka sang suami yang tengah diobatinya.     . “Duhh. Pelan-pelan, Na. Jangan semangat banget.”     “Harus semangat, biar lukamu cepat kering,” sahut Anandhiya terkesan acuh tak acuh dan ekspresi datarnya.     Senyuman Danan melebar, senang melihat ekspresi galak istrinya. “Makasih udah perhatian ke aku, Na. Pasti lukanya cepat sembuh kalau kayak gini.”     “Siapa yang perhatian? Aku cuma kasihan aja,” elak Anandhiya dengan cuek. Namun, tatapannya ke mata sang suami kian tambah intens. Ia juga mengukir lengkungan senyum tipis.     “Okee, Na. Nggak apa-apa kasihan dululah. Kalau ntar udah cinta akan perhatian sama aku makin besar.”     “Seriusan? Kalau begitu buat aku jatuh cinta. Kalau kamu bisa buat aku jatuh cinta, kita pertahanin pernikahan kita ini. Gimana? Setuju nggak? Berani sama tantanganku?”     “Nggak usah kita cerai nanti,” imbuh wanita itu.     Danan mengangguk mengiyakan. “Oke, Na. Aku siap. Bahkan, dua bulanlah cukup buat kamu jatuh cinta,” jawabnya mantap sembari menatap penuh sayang sang istri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN