“Apa yang harus aku lakukan?” ucap Elswyth yang panik karena manusia-manusia itu terus menatap dirinya.
“Hei!” teriak segerombolan manusia yang jaraknya kurang lebih lima puluh meter dari tempat Elswyth berdiri saat ini.
“Sial! Sial! Sial! Mereka mendatangiku!” Elswyth terus panik dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Otaknya terasa berhenti sekarang. Ia tidak bisa berpikir dengan baik kali ini. Sepertinya hal buruk akan segera menimpanya.
Melarikan diri. Satu-satunya ide yang terlintas dalam otaknya. Meskipun ia tidak tahu kemana ia akan pergi, Elswyth langsung putar balik dan berlari sekencang yang ia bisa.
Melihat Elswyth yang lari, gerombolan tersebut langsung menyusul Elswyth dan berlari untuk mengejar Elswyth.
“Hei! Jangan lari!” teriak mereka yang mengikuti Elswyth.
Bruukk!
“Ahh…” Elswyth terjatuh ke tanah karena ia tersandung dengan akar pepohonan yang menjalar hingga ke jalan setapak.
Elswyth melihat ke belakang. Gerombolan itu semakin dekat dengannya. Elswyth berusaha untuk berdiri dan berusaha untuk lari. Sayangnya ia tidak bisa melakukan tersebut. Kakinya terkilir dan terluka. Akar pepohonan tersebut membuat kakinya terbentur dengan keras dengan tanah.
Elswyth merasa nyawanya kini terancam karena jarak mereka dengan Elswyth yang semakin dekat. Tanpa ia sadari, ia mengeluarkan kekuatan dari tangannya. Kekuatan yang baru saja ia gunakan itu membuat gerombolan terhempas ke belakang dan mereka jatuh ke tanah. Elswyth yang baru saja menyadari perbuatannya itu langsung menutup mulutnya. Ia sudah melanggar janjinya untuk tidak melukai manusia. Ia merutuki dirinya yang sudah berbuat sebodoh itu. Pasti orang-orang itu akan menangkap Elswyth setelah ini.
“Sialan!”
“Apakah dia peri di hutan ini? Dia memiliki kekuatan!”
“Dia sangat berbahaya! Jangan mendekat padanya!”
“Ayo bawa ia ke Arshville dan kita masukkan ke dalam penjara!”
Ucapan-ucapan dari ornag-orang itu membuat Elswyth semakin ketakutan. Elswyth tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ia sangat membutuhkan ibunya saat ini. Ia ingin ibunya datang untuk menolongnya. Namun sayangnya hal tersebut tidak bisa dilakukan. Elswyth tidak bisa menghubungi ibunya. Entah apa yang akan terjadi padanya kali ini. Ia tidak bisa melawan lantaran kakinya yang terluka cukup parah. Jika ia mengeluarkan kekuatannya lagi pasti orang-orang itu semakin marah kepada Elswyth.
“Jangan…” ucap Elswyth perlahan. Ia juga merintih kesakitan. Namun tidak ada yang peduli dengannya.
“Kau siapa?” tanya salah satu dari gerombolan itu.
“Aku…aku Elsie.” Elswyth sengaja mengatakan nama panggilannya karena ia tidak ingin nama aslinya diketahui oleh orang lain.
“Dari mana asalmu?” tanya orang itu lagi.
“Aku…” Elswyth tidak mungkin akan mengatakan jika ia berasal dari hutan ini. Ia juga tidak mungkin mengatakan bahwa ia tinggal di hutan ini selama delapan belas tahun. Seketika ia teringat dengan perkataan ibunya sebelum ia pergi. “Aku dari desa pedalaman.”
Raut wajah dari orang-orang itu tidak bisa Elswyth lihat dengan jelas meskipun ada penerangan dari obor yang mereka pakai. Gelap malam membuat Elswyth tidak bisa melihat apapun dengan jelas.
“Kenapa kau memiliki kekuatan?”
Sebuah pertanyaan yang tidak bisa Elswyth jawab. Ia tidak mungkin mengatakan jika dirinya adalah keturunan dari peri. Ia berusaha untuk membohongi mereka namun ia juga berusaha supaya jawabannya terdengar masuk akal. Tanpa menunggu lama, ada sebuah alasan yang baru saja melintas di otak Elswyth.
“Aku…pernah bertemu dengan peri di hutan ini. Aku diajarkan sedikit kekuatan olehnya. Setelah itu aku tidak tahu di mana peri itu berada.” Ia sangat memohon maaf kepada ibunya karena telah mengatakan hal tersebut. Ucapannya itu meyakinkan cerita yang mereka ceritakan tadi siang semakin nyata bahwa di hutan ini ada seorang peri. Elswyth berharap jika keberadaan ibunya tidak dicari oleh manusia.
“Jadi…apakah cerita mengenai adanya peri di hutan ini benar?” tanya orang yang lain kepada Elswyth.
Elswyth hanya mengangguk menjawabnya meskipun ia sangat ketakutan saat menjawab pertanyaan tersebut.
“Di mana peri itu tinggal?”
“Entahlah, sejak saat itu aku tidak bisa melihat keberadaannya. Ia seakan-akan tahu di mana aku berada. Ia tiba-tiba saja datang menghampiriku. Namun setelah peri itu mengajarkan satu kekuatan padaku, ia tidak menemuiku lagi,” ucap Elswyth yang tentu saja dengan penuh kebohongan. Elswyth harap jika jawaban-jawaban yang ia lontarkan dapat diterima oleh mereka sehingga Elswyth bisa bebas dari kepungan mereka.
“Bawa dia!”
Elswyth langsung bertanya-tanya kenapa ia harus dibawa oleh mereka. Elswyth sudah menjawab semua pertanyaan-pertanyaan dari mereka dengan baik. Bahkan Elswyth yakin jika emreka percaya dengan segala perkataan yang Elswyth ucapkan.
“Kenapa kalian membawaku?” tanya Elswyth dengan meneteskan airmatanya. Ia tidak menginginkan hal ini terjadi.
“Kenapa kau ingin membawa dia? Bukankah ia hanya warga dari suku pedalaman?” tanya salah satu dari mereka yang tidak setuju jika Elswyth dibawa ke Arshville.
“Sudahlah! Kita tidak tahu apa yang sedang ia rencanakan. Bisa saja ia ingin mengikuti kita ke Arshville lalu akan berbuat kerusakan di sana.”
“Kasihan dia! Aku yakin jika dia sedang mencari makanan di malam hari. Biarkan saja dia pergi. Jangan bawa dia.”
“Bawa saja dulu perempuan ini. Siapa tahu dia akan bermanfaat di sana. Kita bisa berikan dia ke salah satu bangsawan untuk dijadikan b***k. Kita pasti akan dapat uang dari bangsawan itu,” ucap salah satu orang diiringi dengan tawa yang keras.
“Kau berniat menjualnya?”
“Ya, tentu saja. Siapa yang tidak ingin perempuan yang cantik dan memiliki kekuatan ini.”
Salah satu dari mereka langsung membantah ucapan kawannya itu. “Jangan lakukan hal tersebut! Bagaimana jika penduduk suku pedalaman itu mencari perempuan ini ke Arshville dan mereka mengetahui kalau perempuan ini akan dijadikan b***k? Pasti akan ada perkelahaian. Lebih baik kita bawa saja ia ke penjara dan biarkan ia diproses secara hukum di Arshville. Benar yang tadi kau katakan, bisa saja ia akan melakukan kerusakan di Arshville. Biarkan kita bawa saja perempuan ini dan masukkan ke penjara. Biarkan mereka yang akan mengurusnya.”
“Aku setuju.”
“Aku juga setuju dengannya.”
Karena banyak yang menyetujui usulan tersebut maka mereka sepakat membawa Elswyth ke Arshville dan ia akan dimasukkan ke dalam penjara guna menjalankan hukum yang sesuai. “Baiklah, kita bawa perempuan ini. Sepertinya ia terluka. Kau bopong saja dia.”
“Baiklah.”
“Jangan…jangan bawa aku.”
“Diam!”
“Lepaskan! Lepaskan aku! Aku tidak ingin kalian bawa ke Arshville!” teriak Elswyth supaya mereka mau membebaskannya.
Sayangnya teriakan Elswyth tidak didengarkan oleh mereka. Mereka tetap membopong Elswyth untuk pergi ke Arshville. Ini merupakan hal terburuk yang tidak pernah terpikirkan oleh Elswyth selama hidupnya. Ia bahkan tidak mengetahui apa yang akan terjadi di penjara yang mereka maksud dan bagaimana hukum di sana berjalan.
***