Bagian 08 - Bertemu dan Berbincang

1075 Kata
Seorang pemuda turun dari lantai dua dan berjalan santai menuju ke lantai satu. Saat ia melintasi dapur ia melihat seorang pramusaji yang hendak mengantarkan makanan. “Hei! Tunggu!” teriak seorang pemuda kepada seorang pramusaji tersebut. Pramusaji itu berhenti dan menoleh ke seseorang berteriak kepadanya. “Ada apa, Tuan Muda?” tanya pramusaji lelaki itu. “Kemana kau akan mengantarkan makanan tersebut?” “Saya akan mengantarkan ini ke penjara bawah tanah, Tuan.” “Berikan padaku nampan itu! Aku saja yang akan membawanya.” Pramusaji itu nampak kebingungan dengan perintah dari pemuda yang memiliki posisi tinggi di tempat ini. “Tapi ini adalah pekerjaanku, Tuan.” “Tidak apa. Ada hal yang ingin kubicarakan dengan orang yang ada di penjara itu. Kau lakukan saja pekerjaanmu yang lain, makanan ini biar aku saja yang membawakannya.” Pramusaji itu tidak dapat membantah perintah dari majikannya tersebut. “Baiklah, Tuan.” Pramusaji itu memberikan nampan yang berisi satu piring makanan dan satu gelas air. “Kau bisa kerjakan urusanmu yang lain.” “Baik, Tuan. Permisi.” Nampan itu sudah ada di tangannya. Pemuda itu berjalan dari ruang dapur menuju penjara bawah tanah yang ada di tempat tersebut. Ini kali kedua bagi pemuda tersebut untuk membawakan makanan dan minuman kepada perempuan yang berada di penjara bawah tanah. Pemuda itu sama sekali belum pernah melihat langsung wajah dari perempuan itu. Ia juga belum mengetahui siapa namanya dan mengapa ia berada di penjara. Tidak ada satupun orang di tempat itu yang memberikan penjelasan kepadanya. Maka dari itu pemuda tersebut berinisiatif mencari tahu siapa sosok di balik jeruji besi tersebut dan mengapa ia bisa berada di tempat tersebut. *** Tidak butuh waktu yang lama bagi pemuda itu untuk bisa berada di penjara bawah tanah yang ada di tempat tersebut. Seperti biasanya, ruangan tersebut sangat sunyi dan gelap. Ia bahkan tidak mungkin bisa hidup dengan keadaan yang seperti ini. Pemuda itu berjalan mendekat ke arah di mana ruangan perempuan itu berada. Sesampainya di depan ruangan milik perempuan itu, pemuda itu melihat perempuan itu sedang tertidur. Lagi-lagi wajah dari perempuan itu tidak terlihat oleh pemuda itu karena posisi perempuan itu yang membelakanginya. Pemuda itu berdeham. “Halo?” sapanya. “Halo? Apakah kau sedang tertidur? Ini sudah pagi menjelang siang. Sebaiknya kau bangun karena aku membawakan makanan untukmu.” Perlahan badan yang membelakanginya berubah menjadi posisi terlentang. Setelah itu perempuan tersebut terduduk dengan melihat sekelilingnya. Butuh beberapa detik baginya untuk sadar akan keberadaan dari pemuda yang berada di depan jeruji besi. “Kau siapa?” tanya Elswyth. Kesadarannya belum pulih seratus persen. Bahkan matanya masih sedikit buram sehingga ia tidak dapat melihat dengan jelas sosok yang berada di depan jeruji besi tersebut. “Aku salah satu orang yang tinggal di tempat ini. Namaku Theodore. Kau bisa memanggilku Theo,” jawab pemuda yang bernama Theodore itu. Theodore tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah dari perempuan tersebut karena kurangnya penerangan di tempat ini. Penerangan hanya berasal dari lampu petromak yang Theodore tinggalkan di tempat ini kemarin. “Apakah kau penjaga di sini?” “Tidak.” “Lalu kenapa kau datang kemari?” “Aku hanya ingin membawakan makanan dan minuman kepadamu.” Tidak ada jawaban dari perempuan itu. Theodore berpikir jika perempuan itu sedang tidak ingin diganggu atau kesadarannya belum kembali pasca tidur. Namun Theodore memiliki rasa ingin tahu yang tinggi akan perempuan tersebut. “Siapa namamu?” tanya Theodore. “Aku Elswyth, kau bisa memanggilku Elsie.” Entah kenapa Elswyth memberi tahu kepada Theodore nama aslinya. Padahal sebelumnya ia memberikan nama panggilannya kepada penjaga yang sebelumnya datang ketempat ini. “Hanya Elswyth?” Elswyth menggeleng. “Tidak. Elswyth Willow.” Theodore berpikir sejenak dan mengingat apakah ada penduduk Arshville yang memiliki nama tersebut. “Sepertinya tidak ada penduduk di kota ini yang bernama Elswyth Willow. Darimana asalmu?” “Suku pedalaman,” jawab Elswyth singkat. “Apa nama suku tersebut?” Elswyth tidak tahu apa saja nama suku pedalaman yang ada di Arshville atau di pulau Esther. Ia memilih diam untuk tidak menjawab pertanyaan dari Theodore. “Baiklah. Sepertinya kau tidak mau menyebutkan nama suku tempatmu berasal. Sepertinya kau berasal dari salah satu suku pedalaman di pulau Esther,” tebak Theodore asal. Elswyth mengangguk. “Baiklah. Sebentar.” Theodore beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju tempat di mana lampu petromak yang ia bawa kemarin berada. Ia mengambil lampu petromak tersebut kemudian menaruhnya di depan jeruji besi. “Kemari. Mendekatlah.” Elswyth yang sedang bersandar di dinding penjara itu ragu untuk mendekat ke arah jeruji besi. Namun Theodore terus menyuruhnya untuk mendekat. “Kemarilah! Aku hanya ingin berbincang-bincang denganmu. Aku tahu kau sangat kesepian di tempat ini.” Elswyth akhirnya menuruti perintah dari Theodore untuk mendekat. Kini mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Mereka kini duduk saling berhadapan dan terhalang oleh jeruji besi yang berada di depan mereka. Theodore kini mampu menatap wajah Elswyth dengan sedikit penerangan dari lampu petromak yang berada di depannya. Theodore mengakui dalam hatinya jika Elswyth memiliki wajah yang cantik dan parasnya berbeda dengan perempuan-perempuan yang berada di Arshville. Ia bahkan menatap wajah Elswyth cukup lama. Elswyth yang ditatap oleh Theodore merasa tidak nyaman dengan tatapan tersebut. “Ada apa?” tanyanya untuk menghentikan tatapan Theodore. Theodore yang sadar jika ia sudah menatap Elswyth langsung tersadar dengan sedikit perasaan canggung. “Tidak. Hanya saja kau nampak asing bagiku. Mungkin karena kau bukan berasal dari Arshville.” Keadaan menjadi canggung dan tidak ada perbincangan dari mereka. Bahkan Theodore lupa akan maksudnya datang ke tempat ini. “Apakah itu makanan untukku?” tanya Elswyth. Ia merasa sangat lapar dan haus saat ini. “Astaga! Aku lupa jika aku membawakan makanan dan minuman untukmu.” Theodore memberikan makanan tersebut kepada Elswyth. “Makanlah!” Theodore memberikan nampan tersebut melalui celah kecil yang berada di bawah jeruji besi yang diperuntukkan untuk menyalurkan makanan atau barang yang ukurannya lumayan besar. Elswyth mengambil sedikit demi sedikit makanan tersebut lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Elswyth memakan makanan tersebut dengan sangat lahap karena ia sangat lapar. Theodore hanya menyaksikan perempuan yang ada di hadapannya ini sedang makan. Ada sedikit rasa bahagia di dalam hati Theodore karena melihat seseorang yang makan makanan dengan lahap. Itu artinya makanan tersebut tidak sia-sia. Elswyth tiba-tiba sadar jika Theodore sedang menatapnya. “Kenapa kau terus menatapku, Theodore?” Theodore menjadi sedikit malu karena sudah menatap Elswyth terus menerus. “Tidak, hanya saja aku penasaran.” Elswyth menghentikan aktivitas makannya dan fokus kepada Theodore. “Apa yang membuatmu penasaran, Theodore?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN