Aruna bangun dari tidurnya ketika jam baru menunjukkan pukul lima pagi, Aruna menangis dan rasanya dia hanya ingin pulang kerumahnya sendiri. Suaminya bahkan tidak menjelaskan sama sekali kesalahpahaman ini, Aruna hanya bisa diam dan mulai mengikhlaskan semuanya jika memang dia bukan sumber kebahagiaan suaminya dia bisa apa? Dia akan mundur demi suaminya bahagia. “Sayang, kamu udah bangun? Mau minum?” Tanya Diandra baru bangun dari tidurnya. “Iya Mah,” jawab Aruna, Ah rasanya bahkan ARuna tidak mampu merelakan mamah mertua sebaik ini Diandra sudah seperti orang tuanya sendiri dan rasanya sangat berat untuk melakukan semua ini. “Syukurlah, mamah sangat khawatir sayang mamah takut kamu kenapa kenapa” ucap Diandra tulus. “Dia nggak papa kan mah?” Tanya Aruna yang kini mengusap perut bun

