Bab-02

1137 Kata
Suasana makan pagi ini begitu memuakkan bagi Veanna. Dengan bangganya Briand mengajak Sherly, kekasihnya satu meja makan dengannya. Sejujurnya tidak masalah bagi Veanna tapi di ujung meja makan ini ada kakek Briand yang terus menatap ke arah Veanna dan Sherly secara bergantian. Bahkan kakek tua itu terus meminta Veanna untuk segera hamil, pernikahan mereka sudah cukup lama untuk apa terus-terusan menunda kehamilan? Bukannya itu tidak baik? Ditambah semua teman kakek Brian sudah menggendong cucu mereka masing-masing. “Kakek kenapa terus membahas hal itu? Aku—” “Kakek tenang saja, setelah ini pasti aku akan hamil.” Potong Veanna cepat. Semua orang menatap wanita itu kaget, bahkan kedua orang tua Briand pun tahu hubungan mereka tidak seharmonis yang kakek lihat. Dan hari ini dengan percaya dirinya Veanna bilang jika dirinya akan hamil? Apa yang terjadi? Apa mereka sudah tidur bersama setelah pesta itu? Sherly yang tidak terima pun langsung menatap Briand dengan marah, dia sudah berjanji jika dia tidak akan menyentuh Veanna sedikitpun. Dan pagi ini dia harus mendengar berita jika Veanna akan hamil dalam waktu dekat? Hal apa yang terlewatkan oleh Sherly? Sedangkan kakek terlihat bahagia, dia sampai memberikan satu gelang peninggalan istrinya dan dia berikan pada Veanna sebagai tanda jika setelah ini dia akan memberikan cucu untuk dirinya. Tentu saja hal itu membuat Sherly terlambat emosi, dia terus menatap gelang itu dengan penuh amarah. Dia seorang tidak terima dengan sikap dan perlakuan kakek terhadap Veanna. “Kakek bukannya itu sangat berlebihan? Veanna belum hamil dan kenapa harus diberikan gelang peninggalan nenek?” Ucap Sherly, mencoba untuk membuat kakek berpikir dua kali. Kakek tersenyum geli. “Ini tidak berlebihan, aku memberinya gelang karena setelah ini dia akan mengandung pewaris keluarga ini. Dan aku pikir itu bukanlah hal yang berlebihan. Itu wajar, Sherly.” Sherly hanya bisa diam setelah mendengar hal itu, tatapannya begitu marah dengan perlakuan Veanna. Yang dimana Sherly selalu menganggap keluarga Briand tidak pernah memperlakukan dirinya seperti Sherly, dia merasa tersingkirkan disini. Dia mengenal mereka sudah cukup lama, bahkan dari mereka kecil itu sebabnya Briand sangat mencintai Sherly karena setiap hari mereka bersama. Mereka pernah berpisah untuk dua tahun sebelum akhirnya Briand memilih menikah dengan Veanna. Jelas-jelas dulu Briand pernah berjanji pada Sherly untuk menikahinya setelah mereka dewasa. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Sherly tersenyum masam dan memuji gelang itu. “Cantik.” Briand yang melihat hal itu pun langsung berisik, “Aku bisa membelikan gelang seperti itu jika kamu menginginkannya, sayang.” Hal itu tak luput dari pandangan kakek. Dia menatap curiga pada dia orang di samping kirinya yang berbicara saja harus berbisik. Seolah dia tidak boleh tahu apa yang sedang mereka bicarakan, meskipun tidak penting tapi kakek yakin ada sesuatu diantara mereka yang belum selesai. “Sudahlah, aku mau istirahat dulu.” Setelah kepergian kakek, Veanna juga ikut undur diri dari meja makan ini. Dia sudah menahannya selama satu jam dan hal itu membuat dirinya benar-benar muak. Langkah demi langkah untuk menuju kamarnya terhalang oleh seseorang yang secara tiba-tiba menarik tangannya. Veanna mendengus seolah tahu siapa yang menahan tangannya agar Veanna tidak masuk ke kamarnya. Dengan elegannya wanita itu membalik badannya dan menatap Sherly yang berdiri di depannya dengan amarah yang memuncak. Tapi setelah itu, wanita itu tersenyum kecil sambil menatap Veanna dengan rendah. “Sejujurnya aku hanya ingin bilang jika gelang itu hanya pantas jika aku yang memakai.” Katanya. Veanna tersenyum geli dan menatap gelang yang baru saja dia pakaikan oleh kakek. “Sama, aku juga berpikir seperti itu. Jika gelang ini memang pantas untuk kamu pakai. Sayangnya … aku yang lebih dulu memakainya, jika kamu ingin ambil saja.” Sherly merasa terhina dia menepis yang Veanna dengan kesal. Apa maksudnya? Dia ingin memberikan barang bekas yang dia pakai untuk Sherly? Apa dia gila!! Apa dia tidak tahu siapa Sherly selama ini!! Jika saja menghancurkan karir Veanna, Sherly adalah jagonya. Terlihat tenang dan tersenyum manis Sherly menarik tangan Veanna dan mengusap gelang itu pelan. Terlihat jelas jika Sherly sangat menginginkan gelang perak itu. “Ambil saja. Aku bisa membeli lagi yang baru, jika kamu benar-benar ingin gelang ini, Sherly.” sindir Veanna dan tersenyum begitu manis. Sehingga membuat Sherly sangat sangat menahan amarahnya. Wanita itu tersenyum kecil, entah pikiran dari mana tapi dia benar-benar ingin memotong tangan itu sampai putus. “Tidak Veanna … ini adalah gelang pemberian kakek dan peninggalan nenek. Gelang ini memang seharusnya dipakai oleh menantu keluarga Costa, rasanya tidak pantas jika orang lain memakainya.” “Kalau begitu lepaskan tanganmu dari gelang itu, Sherly.” Dengan pelan Sherly melepasnya, dia menatap kepergian Veanna dengan amarah yang memuncak. Sehingga yang bisa Sherly lakukan hanyalah pergi dari tempat ini. Sedangkan Veanna yang merasa puas pun tersenyum geli sambil memasuki kamarnya. Gelang ini sama sekali bukan yang dia inginkan, tapi karena dia menantu di keluarga ini sehingga mau tidak mau dia harus memakai gelang ini kan? Setidaknya membuat kakek yakin jika setelah ini Veanna akan hamil. Tapi … dengan siapa? *** Pertemuan dadakan membuat Veanna muak, dia terus menatap Shandra yang tersenyum di ujung kursinya. Sedangkan seseorang sedang membacakan isi kontrak untuk tour satu Minggu kedepan. Itu waktu yang cukup lama sih, tapi kakek akan curiga jika dia tidak ada dirumah dan lebih sering bekerja, Veanna akan susah cepat hamil. Lagian dia juga tidak boleh kecapean untuk memulai bayi tabung yang dia inginkan. Dia juga harus memiliki benih bayi yang bagus, tampan atau cantik, berkulit putih, tanpa penyakit dan apapun itu. Jika satu Minggu kedepan dia disibukkan oleh tour yang ada semua rencananya akan gagal. Dan tentu saja hal itu mampu membuat Veanna pusing setengah mati. “Veanna.” Panggil seseorang Veanna mendongak menatap Shandra yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapannya. Wanita itu tersenyum kecil sambil memberikan map hijau pada Veanna. Mesti dalam keadaan bingung Veanna menerimanya, apalagi tatapan dari banyaknya orang yang mulai kebingungan dengan sikap Veanna. Wanita itu tersenyum kecil sambil menundukkan kepalanya kecil. Shandra membungkukkan badannya dan mulai berbisik, “Apa yang sedang kamu pikirkan Veanna? Aku melihatmu sejak tadi sepertinya sedang gelisah?” “Selesaikan rapat sialan ini Shandra!!!” Ucap Veanna menggeram dan membuat Shandra tertawa kecil. Rapat akhirnya diselesaikan lima belas menit kemudian. Veanna menatap Shandra dengan tajam, sehingga membuat wanita itu duduk di samping Veanna, dan meminta penjelasan apa yang sudah mengganggu pikiran Veanna kali ini. Dia tahu betul kehidupan Veanna, tapi jika hal itu benar-benar berat mungkin wanita itu bisa berbagi. “Ada apa?” Tanya Shandra yang mulai serius. “Kakek memintaku untuk cepat hamil, karena pernikahan kita sudah berjalan selama empat tahun terakhir ini. Dan kamu tahu, aku sama Briand tidak pernah tidur bersama. Lalu bagaimana aku bisa hamil? Aku berpikir untuk bayi tabung, tapi tour sialan mu ini benar-benar membuatku tidak bisa bergerak!!” Ucap Veanna. Shandra mengangguk. “Lalu?” “Lalu pikirkan bagaimana caraku selama tour berjalan aku pulang dalam keadaan hamil!!!” ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN