Sinar matahari menyelinap masuk lewat jendela apartemen. Veanna yang merasa terganggu dalam tidurnya pun menarik selimut tebal itu untuk menutupi wajahnya. Aroma yang begitu familiar menyeruak dalam indra penciumannya, lalu dia pun segera bangun dan menyadari jika tempat ini bukanlah kamarnya. Tampak jelas jika ada sentuhan gold di dalam kamarnya, sedangkan ini terlihat polos dengan warna hitam khas seorang pria. Apa mungkin dia tidur bersama dengan Briand?
Tunggu!!!
Semalam ….
Veanna pergi dari rumah setelah bertemu dengan kakek. Dia menelepon Christopher untuk menjemputnya di ujung jalan. Dan dia itu datang, Veanna masih ingat betul ketika wanita itu mengajak pria itu hnyuknlergiy ke tempat tinggalnya dan sesampainya disini dia mabuk. Apa yang dia katakan dua lupa, yang dia ingat hanyalah sebuah adegan intim yang cukup menguras energi Veanna sampai pinggangnya sakit.
Ya, malam itu terjadi dengan amat terpaksa dia mengakui pada Christopher jika dia terpaksa melakukan hal ini karena suatu hal. Dia harus tidur dengan Christopher untuk sebuah anak, jika dia berhasil hamil mungkin apapun yang pria itu akan Veanna berikan sebagai imbalan. Jangan sampai dia tahu jika alasan sebenarnya hanya karena kakek.
Dan dia bahkan masih setengah ingat bagaimana ekspresi Christopher yang berada di bawahnya yang terus menyebut nama Veanna berkali-kali. Desahan pria itu masih terekam jelas di pikiran Veanna hingga membuat rona merah di kedua pipi Veanna tercetak jelas. Sumpah demi apapun, malam itu dia cukup mampu membuat Veanna puas dan kelelahan. Demi Tuhan … otot sekuat itu ternyata maniak juga, dia bahkan tidak bisa berhenti menyentuh tubuh Veanna sampai menjelang pagi.
“Sudah bangun?” Ucapan itu membuat lamunan Veanna buyar. Disana Christopher berdiri di dekat pintu dengan baju tanpa lengan berwarna hitam dan juga celana hitam. Ditambah lagi handuk yang masuk menggantung di leher pria itu hingga membuat Veanna kembali sesoa nafas. “Kenapa?”
Veanna menggeleng, dia memalingkan wajahnya ke arah sampingan menggosong ujung hidungnya. Menandakan jika dirinya sedang salah tingkah, kenapa jadinya seperti awkward begini ya?
“Tidak.”
Pria itu duduk di samping Veanna dan menatap wanita itu dengan lekat. “Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan semalam?”
Veanna mengangguk. “Sadar, dan maafkan aku Christ. Aku benar-benar terpaksa.”
“Kamu sudah menikah?”
Pertanyaan itu membuat d**a Veanna sesak, dia tidak bermaksud menyembunyikan identitasnya. Mungkin dalam keadaan mabuk kemarin malam, wanita itu menceritakan semua masalah yang mengganggu dalam pikirannya sehingga Christopher tahu jika statusnya sudah memiliki suami.
“Aku—”
“Jadi Costa itu satu keluarga suamimu?” Porong Christopher cepat dan mendapat anggukan dari Veanna. “Satu hal yang harus kamu tahu Nona, malam itu terjadi karena kamu yang memaksa, aku tahu tujuanmu. Tapi ingat satu hal!!” Christopher menatap Veanna lekat-lekat membuat bulu kuduk Veanna berdiri seketika. “Apa yang sudah ku sentuh dan menjadi milikku, tidak akan pernah aku biarkan siapapun itu untuk memilikinya!!! Itu kenapa aku selalu bilang sesuatu yang sudah aku genggam tidak akan pernah aku lepaskan.”
Veanna menarik nafasnya panjang, lalu mengangguk. Ini hanya sementara dia tidak mungkin bersama terus menerus dengan Christopher. Yah, meskipun ini pertama bagi Veanna tapi wanita itu berharap jika setelah ini sikap Christopher tidak akan berubah padanya dan menganggap jika Veanna adalah w************n.
“Tidak!! Aku bahkan berterimakasih karena kamu mau tidur denganku. Mungkin kita membutuhkan dua atau tiga kali dalam tidur bersama.”
“Jadi semalam kamu sengaja?”
Veanna tertawa kecil. “Sedikit. Tapi terima kasih atas bantuannya.”
Wanita itu bangkit dari duduknya untuk membersihkan diri. Tapi hal pertama yang menarik perhatian Christopher adalah. Noda merah di atas sprei putihnya yang cukup ketara. Lalu, dia pun menatap punggung Veanna yang sudah hilang di balik pintu kamar mandi.
“Jadi … empat tahun menikah dan dia masih perawan?” Gumamnya dan tersenyum kecil.
***
Veanna baru saja turun satu mobil ketika Christoper menghentikan mobil mewahnya di depan kediaman Costa. Wanita itu meremas tangannya dengan gugup, tapi sebisa mungkin wanita itu sudah menyiapkan alasan yang tepat ketika ada pertanyaan aneh dari kakek maupun suaminya.
Menoleh ke arah sampingnya, Veanna menatap Christopher yang enak tadi diam di sampingnya. “Terimakasih sudah mau mengantarku pulang.”
Pria itu mengangguk dan melirik rumah besar di hadapannya. “Sama-sama Nona.”
Veanna tersenyum tipis. “Hati-hati di jalan.” katanya dan membuat Christopher mengangguk kecil.
Ketika melihat mobil itu sudah melesat menjauh dari rumahnya, Veanna pun menarik nafasnya panjang dan mengusap dadanya singkat. Entah kenapa kali ini dia benar-benar gugup, seolah dia adalah maling yang akan ketahuan mencuri barang berharga dari sesuatu. Tapi nyatanya dia hanya tidak pulang satu malam. Bukannya sebelum itu dia juga begitu?
Memasuki halaman rumah, baru juga beberapa langkah pandangan Veanna langsung tertuju pada Briand dan juga Sherly. Briand keluar lebih dulu dengan jas yang sudah rapi dikenakan. Di belakangnya, Sherly berjalan sambil merapikan rambutnya. Sepertinya mereka hendak berangkat bersama. Langkah Veanna terhenti sesaat, sedangkan Briand hanya melirik sekilas ke arahnya.
“Kamu baru pulang eh?” katanya tersenyum miring.
Veanna menghela nafasnya pelan. “Iya.”
“Semalam kemana?”
Nada bicaranya cukup tenang, tidak ada curiga, tidak ada nada marah, ini hanya pertanyaan biasa tapi mampu membuat jantung Veanna berdebar kencang sambil merapikan rambutnya yang semoga saja tidak acak-acakan.
“Ada persiapan tour selama satu Minggu ke depan. Mungkin aku akan sibuk sekali.”
“Harus menginap?”
Sejujurnya tidak, tapi karena ada rapat dadakan sampai harus terjun ke lokasi tour pertama membuat Veanna mau tidak mau harus terlibat. Dari segi panggung, koreo, dsn juga penampilan yang harus bagaimana dia harus mempersiapkan sedetail mungkin. Veanna tidak mau ada celah atau apapun itu, atau mungkin ada satu hal yang dimana Kuang dan kurang prepare. Itu sebabnya dia harus ikut dan harus menginap di salah satu hotel dekat dengan tour nya besok.
Mendengar jawaban itu Briand nampak biasa saja, dia seolah percaya dengan apa yang Veanna katakan. Apalagi dia juga mengakui jika istrinya itu adalah artis papan atas yang dimana akan banyak sekali jadwal tour, endorse, iklan dan apapun itu yang memang melibatkan dia. Dan bekas memaklumi hal itu karena dari awal menikah dia sudah meminta Veanna untuk di rumah tapi tidak mau.
Sherly yang sejak tadi diam saja ternyata diam-diam memperhatikan gerak gerik Veanna yang mencurigakan. Tidak seperti biasanya yang Sherly liat setiap hari.
“Kamu terlihat lelah, Veanna.” Komentar Sherly.
Karena tidak mau ada perdebatan, Veanna pun tersenyum tipis. “Kurang tidur.”
“Kalau memang sesibuk itu, banyak banyak istirahat sih Veanna.”
“Aku akan berusaha.”
Brian mirip jam tangannya dan mengajak Sherly untuk segera pergi ke kantor. Mereka ini satu kantor Briand sebagai bos dan Sherly sebagai sekretaris. Sudah lengkap bukan? Itu sebabnya mereka sering bersama.
Sebelum pergi Sherly masih menyempatkan diri untuk melirik Veanna yang masih berdiri di sampingnya. “Semoga tournya lancar.”
“Terimakasih.”
Setelah kepergian Briand dan Sherly, Veanna pun menghela nafasnya lega. Tidak ada yang menanyakan lebih jauh tentang semalam. Diamelangkah masuk ke dalam rumah sambil menggenggam tasnya semakin erat. Sekarang dia hanya berharap, kebohongan yang baru saja diucapkan tidak akan terbongkar dalam waktu dekat.
Memastikan mereka benar-benar pergi, Veanna pun segera masuk ke dalam kamarnya untuk packing. Kali ini banyak sekali barang yang harus dia bawa, ada dua koper besar yang sudah tersusun tapi disana. Satu koper berisi baju stylish selama manggung dan juga kebutuhan tour seperti sepatu, in ear monitor, album untuk sesi tanda tangan, vitamin dan juga dokumen lainnya. Sedangkan satunya akan Veanna ini dengan baju sehari-hari. Karena tidak mungkin juga kan jika dia harus pulang pergi dari ke rumah ke tempat tour selanjutnya yang akan memakan banyak waktu di jalan dan membuat Veanna lelah.
Veanna mengambil satu persatu baju dari lemarinya, mulai dari baju santai, celana panjang dan pendek, jaket dan juga beberapa kemeja yang akan dikenakan jika dibutuhkan. Dia melipatnya dengan rapi SMA menatapnya di dalam koper besar itu. Tak lama ponsel wanita itu berdering Shandra sedang menelepon.
“Hmmm, kenapa?” Tanya Veanna tanpa basa basi.
“Sudah prepare? Besok kita berangkat jam tujuh ya. Christopher akan menjemputmu jam enam pagi mungkin.”
Veanna terkekeh geli. “Oke aku ingat itu.”
“Jangan lupa bawa obat-obatan mu. Aku tidak mau ya salama tour kamu mengeluh tidak enak badan.”
Veanna tertawa kembali, dia bukan anak kecil yang selalu diingatkan. Apa yang harus dia bawa dan apa yang harus disiapkan dia sudah lebih dari tahu. Seharusnya Shandra tidak perlu khawatir tentang hal itu, tapi hampir setiap show yang akan Veanna bintangi wanita itu selalu mengingatkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh Veanna bawa. Bahkan setelah show jika ada waktu senggang dia pasti mengajak Veanna untuk membeli beberapa potong baju baru untuk show berikutnya. Menurut Shandra artis itu harus punya modal, jangan hanya mengandalkan endorse atau meminjam baju Dari desainer, lebih baik dia membeli gaun untuk diri sendiri, anggap saja apresiasi untuk sesuatu pencapaian.
****