Sila tiba di rumah dengan nafas memburu, campuran antara ngos-ngosan berlari dan megap-megap karena penjahat bibir hampir menyerangnya.
Dia heran, kenapa seorang pimpinan perusahaan terkenal, anak seorang dosen dengan prestasi cemerlang ternyata seorang penjahat bibir. Apakah bakat dari lahir? Mengingat saat kecil pun laki-laki itu sudah terlihat tukang sosor.
"Ikoooooo!" teriak Sila lantang memanggil adiknya yang sedang berbaring santai di depan televisi sambil memejamkan mata. Mendengar suara teriakan kakaknya yang mengerikan, seketika Iko membuka matanya.
Dan apa yang dibayangkan beberapa saat lalu oleh Iko dalam mimpi, terjadi juga. Kakaknya tiba-tiba saja menangkup pipi Iko dengan kedua tangannya. Sambil menatap penuh amarah, Iko hanya menelan ludah ketakutan sekaligus bingung.
Apakah kakaknya akan memperjakai bibirnya?
Pikiran konyol Iko langsung ditepisnya mengingat kakaknya tidak mungkin berbuat hal aneh barusan.
"Iko, kalau kamu sudah dewasa nanti, jangan sampai bibirmu menempel di sembarang gincu. Karena apa? karena efeknya sangat mematikan. Bisa-bisa otak kamu akan jauh dari kata waras. Oh, satu lagi, meskipun penasaran rasanya, cobalah untuk menahan. Oke, adikku sayang?" nasehat Sila berapi-api tepat di hadapan wajah Iko yang hanya berjarak satu centimeter saja. Selama Sila menasehati adiknya, Iko susah payah menahan sakit akibat remasan tangan kakaknya dan bau ikan asin dari mulut di depannya.
Sangat menyiksa.
Iko hanya mengangguk pasrah. Setelah Sila melepaskan tangkupan pada pipi adiknya, ia langsung melemparkan diri di karpet tebal tempat Iko tadinya berbaring.
"Mbak, kesel sama siapa sih kok aku yang jadi sasaran?" sungut Iko sambil mengelus pipinya yang terasa panas akibat tangkupan kakaknya yang sedang terbakar emosi.
"Sama penjahat bibir," jawab Sila sembari memejamkan mata. Iko yang mendengarnya hanya menggaruk kepalanya bingung dengan istilah baru dari kakaknya.
*******
Rey mengetuk-ngetukkan kepalanya pada pintu kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya. Ia merutuki kebodohannya yang sangat terlihat akhir-akhir ini, terlebih saat bertemu singa betina tetangganya. Bagaimana bisa rasa bibir itu selalu membayangi malam-malamnya dan kepalanya mendadak hanya berisi kejadian malam itu yang berputar seperti kaset.
Mulutnya, konyol sekali meminta singa betina mengulangi kejadian tak sengaja itu lagi. Sepertinya ia akan membawa gembok saja saat bertemu dengannya agar mulutnya tidak mengeluarkan kalimat konyol dan kepalanya aman dari benturan apapun.
"Kak...."
Suara Emil yang menggedor-gedor pintu kamarnya terdengar oleh Rey. Daripada adiknya semakin kencang bahkan merobohkan pintu kamarnya, Rey segera memutar tubuhnya membukakan pintu.
"Kenapa?" tanya Rey malas.
"Ih kakak kebiasaan deh. Pakai baju dulu gih, mana bau keringat lagi." Rey menatap tubuhnya yang tanpa mengenakan baju karena niatnya tadi ingin mandi.
"Kakak mau mandi, kamunya datang. Cepetan bilang ada apa?"
"Cuma mau ngasih tahu aja kalau aku sama Mama mau keluar. Nanti kalau Papa dateng bilangin cewek-cewek lagi jalan." Rey mendengus dengan ucapab adik semata wayangnya.
"Kenapa nggak bilang Papa sendiri?"
"Papa dari siang handphone nya nggak bisa dihubungi. Mungkin lembur di kampus. Udah ya, kakak sayang, bab ... bay ... muach!" Emil melambai pada kakaknya sambil berkedip manja.
Meskipun Rey jengah dengan adiknya yang manja, tapi dia sudah biasa menghadapinya. Lagipula hanya dia yang ia miliki sebagai saudara kandung.
Setelah Emil tidak terlihat lagi, Rey kembali menutup pintu dan segera melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Mengguyur otaknya dan menyikat bibirnya agar bayangan singa betina musnah.
Tetap saja tidak berhasil. Malahan ... bayangan singa betina seakan ikut terguyur air bersama dengannya. Menikmati sabun campuran bubuk mutiara yang semakin memancarkan bayangan Sila tepat di depannya.
Gila!
Rey benar-benar sudah gila dengan pikiran anehnya. Apa dia ikut bernyanyi dengan dua anak buah Ahmad Dhani yang kece dengan lagu 'Kuingin amnesia' agar ia benar-benar lupa sejenak.
Esoknya di kantor, seperti biasa ia menceritakan ketololan dan ketergesa-gesaan tindakannya pada Derry yang mampir ke ruangannya.
"Masak satu cewek aja kamu nggak sanggup sih?" ejek Derry yang duduk di sofa ruangan Rey.
"Masalahnya ... dia bukan cewek. Dia lebih pantas disebut singa betina." Derry tertawa melihat sahabatnya yang menceritakan sosok Sila sangat mengusik pikirannya.
"Akhirnya ... seorang Reyhan bisa mikirin cewek juga. Kukira kamu penikmat 'anggar," ujar Derry terkekeh. Dengan geram Rey melemparkan bolpoin di atas meja ke arah Derry. "Sialan!" geramnya.
Suara pintu yang diketuk pun membuyarkan gurauan keduanya. Seorang perempuan berwajah cantik dengan pakaian kerja yang terlihat seksi seketika membuat mata Derry membelalak tanpa kedip. Seperti biasa, Riska, sekrtaris Rey sangat menyegarkan mata playboynya.
"Permisi, Pak Rey." Riska menyerahkan beberapa dokumen ke meja. Sementara Rey memeriksa dengan teliti, Derry bersiul sambil berkedip genit ke arah p****t penuh milik Riska yang sejak tadi sengaja menundukkan sedikit badannya agar belahan dadanya yang terbuka kancing kemeja atasnya, terlihat oleh Rey yang sedang duduk.
Rey yang terbiasa dengan kelakuan karyawan perempuan lainnya di kantor dengan segala macam godaan, sedikit pun tak tertarik atau lebih tepatnya berusaha tidak tertarik jika tidak ingin sifat turunan dari Tuan besar Aldari tiba-tiba menyeruak keluar.
"Kapan pertemuan dengan Pak Hamdan?" 5anya Rey seraya menyerahkan berkas-berkas yang sudah ditanda tanganinya.
"Besok siang, Pak," jawab Riska dengan suara serak menggodanya.
"Baik, kamu boleh pergi." Riska tersenyum kecut. Lagi-lagi usahanya mematahkan gosip bahwa atasan mereka masih pecinta perempuan, gagal. Mau seberapa cantik dan seksinya dia berdandan, tidak sekalipun atasannya melirik.
"Baik, Pak."
"Dan satu lagi, berkas yang saya minta untuk dibawa ke Bandung sudah siap?"
"Sudah, Pak." Rey mengangguk dan Riska segera pamit.
Sepertinya pertemuan dengan investor di Bandung untuk dua hari ke depan sekaligus mengunjungi kakek dan neneknya, akan menghilangkan sejenak pikiran singa betina di otaknya.
*****
Seminggu ini merupakan hari yang amat sibuk buat Sila dan juga hari tenangnya tanpa bertemu dengan penjahat bibir. Setelah beradu argumen dengan Rangga, papanya, Sila diperbolehkan berangkat ke kantor sendirian dengan mengendarai sepeda motor. Meskipun dengan berat hati dan tidak rela, Rangga pun menuruti.
Hari minggu yang ditunggunya pun tiba. Setelah tadi pagi jogging
bersama Iko dan juga Emil, kini siang harinya ia isi dengan merombak sandal jepit polos warna putih yang ia beli beberapa hari lalu.
Di sinilah dia, duduk dengan membawa peralatan seperti manik-manik, lem, gunting, pita juga sandal barunya untuk dirombak menjadi sandal dengan balutan pita agar terlihat lebih mewah. Tidak sampai satu hari, Sila berhasil menyelesaikan pekerjaannya, dengan tersenyum senang ia mengenakan sandal tersebut di kakinya.
"Kaki singa, mau dikasih berlian juga bentuknya sama dimana-mana. Cakarnya tajam," celetuk Rey yang berdiri menjulang di sampingnya. Mendengar suara orang yang dihindarinya selama ini tiba-tiba bergema di teras rumahnya, dengan gerakan menelusuri, diliriknya bulu kaki keriting yang terpampang jelas di sebelahnya duduk untuk memastikan bahwa yang sedang ia maksud adalah orang yang menyusahkan dirinya, di mana pun berada.
Sila menelan ludah susah payah. Bulu kaki keriting yang dilihatnya sangat lebat. Tiba-tiba timbul pikiran ngeri membayangkan bulu di tempat lain apakah selebat ini?
Ditepisnya pikiran aneh, dengan cepat ia mendongakkan kepala. Di sana, seringai licik memenuhi wajah sialan tampan milik penjahat bibir.
"Terpesona ya?" tanya Rey penuh percaya diri menatap Sila dengan menundukkan wajah karena posisi singa betina memang duduk di dekat kakinya.
"Aku? terpesona? Mimipi aja sana!"
"Aww! Sialan, sakit woi! Dasar singa gila." Dientak-entakkan kaki Rey karena Sila baru saja mencabut bulu kakinya dengan sangat kasar. Sila terpingkal sedangkan Rey mengelus cepat kakinya menghilangkan rasa gatal dan sakit.
Ditariknya hidung Sila membalas rasa sakit pada kakinya. Sila yang masih tertawa tidak siap dengan serangan mendadak Rey langsung membelalakkan mata.
"Nih nih ... sakit kan rasanya. Makanya nggak usah usil, tuh tangan!" Mata Sila berurai air mata akibat jari Rey yang semakin menjepit hidungnya. Tidak mau kalah, Sila menarik kerah kaos polo Rey kuat-kuat. Karena posisi tubuh Rey yang menunduk, keseimbangannya kurang terjaga.
Brukkkk!
Tubuh Rey jatuh menimpa tubuh Sila yang terlentang sambil tetap mencengkeram kerah kaos Rey.
Hidung Rey terantuk kening Sila, membuatnya sontak melepas jepitan pada hidung Sila. Kini wajah keduanya teramat dekat.
"Berat..." cicit Sila yang suaranya tenggelam di ceruk leher Rey. Nafas hangat Sila pun terasa mengusik kulit leher Rey, membuat bulu kuduk laki-laki itu menegang.
"Kak!"
Suara kaget Emil yang berdiri mematung di depan pintu sambil menutup mulutnya tak percaya membuat kedua anak manusia yang saling menindih itu menoleh seketika.
"Kayaknya di dalam kamar aja deh, daripada di teras dilihat tukang bakso ntar," celetuk Iko menimpali dari balik punggung Emil.
Dan untuk kesekian kali, keduanya selalu terjerat keadaan yang ambigu.
________________