Sudah lebih dari seminggu Raka mencari keberadaan Nara di Surabaya. Namun Nara masih sulit diketahui keberadaannya. Awalnya Raka fikir tak akan sulit mencari keberadaan Nara karena dia mengetahui alamat Nara bersekolah dulu. Tapi ternyata mencari tau alamat tempat tinggal Nara dari sekolah nya begitu sulit karena pihak sekolah yang menolak untuk memberitahu. Raka tentu saja mengetahui bahwa hal itu pasti terjadi. Pihak sekolah pasti ingin menjaga data siswa siswi di sekolah nya. Namun Raka masih tetap ingin berusaha.
Setelah pihak sekolah menolak, Raka tak berhenti berjuang disitu saja. Dia mencoba mencari tau tentang Nara dari siswa siswi yang bersekolah disana. Namun hasil nya tetap nihil. Tak ada info yang Raka dapatkan. Raka dibuat heran karena mulai dari pihak sekolah, para siswa siswi bahkan orang-orang yang berjualan disana kompak dengan jawabannya yang mengatakan bahwa mereka tak mengenal sosok Nara. Raka berfikir mana mungkin tak ada yang mengenal sosok Nara satupun disana.
Karena tak mendapat jawaban satupun dari sekolah Nara akhirnya Raka dan Rafi pun memutuskan untuk mencari keberadaan Nara di tempat lain yang masih berada di sekitaran sekolah.
"A, hari ini kita cari kemana lagi ya?" Rafi bertanya sambil menyeruput jus mangga nya. Saat ini Raka dan Rafi sedang berada di salah satu rumah makan padang untuk mengganjal perut nya yang tengah kelaparan setelah mencari informasi mengenai keberadaan Nara.
"Entahlah aku juga bingung. Aku merasa pencarian kita seminggu disini sia-sia. Karena orang-orang di sekolah yang kita temui terlihat menyembunyikan informasi tentang Nara." Raka menghela nafas nya dengan berat. Dia jadi teringat akan ucapan Davi saat itu yang mengatakan bahwa jalan Raka untuk menemui Nara takkan mudah. Apakah ini yang Davi maksud.
"Apa kita sebarin selebaran info orang hilang gitu, a?" Usul Rafi yang langsung mendapat sentilan tajam dari Raka tepat mengenai kening nya tersebut.
"Ngaco kamu. Kalau sampai diliat orang tua nya atau keluarga Nara bisa panjang masalah nya." Raka mendengus kesal mendengar usul Rafi yang terdengar asal tersebut.
"Lalu harus bagaimana dong a? Masa pencarian kita disini selama seminggu harus berakhir sia-sia."
"Ya gimana lagi atuh, Raf. Kayak nya kita harus pulang dulu aja ke Bandung. Nanti disana kita fikirkan lagi caranya." Obrolan Raka dan Rafi pun terhenti saat salah satu pegawai rumah makan padang tersebut menghampiri mereka.
"Maaf mas, ini ada titipan." Ujar pegawai tersebut sambil menyerahkan sepucuk surat pada Raka.
Raka mengernyitkan kening nya keheranan setelah menerima titipan surat dari pegawai tersebut. "Surat? Surat dari siapa ya Mas?"
"Kurang tau saya, Mas. Tapi yang ngasih surat nya ini cewe. Masih pake seragam SMA." Jawab pegawai tersebut.
"Terus cewe nya kemana, Mas?" Tanya Rafi bersemangat sambil bangkit dari duduk nya. Dia celingukan ke kanan dan kiri mencari cewe tersebut.
"Cewe nya udah pergi, Mas. Tadi setelah ngasih surat ini dia langsung buru-buru pergi. Kalau gitu saya permisi dulu." Pegawai tersebut lalu pergi meninggalkan Raka dan Rafi.
Rafi lalu menggerutu kesal karena tak sempat bertemu dengan cewe tersebut. Sementara Raka tampak tertegun membaca isi surat itu. Karena penasaran, Rafi pun merebut surat tersebut dari tangan Raka dan membaca isi pesan nya.
Saya hanya ingin memberitahu bahwa wanita yang tengah kalian cari akan berangkat ke Paris. Dan dia mengambil penerbangan jam tiga sore hari ini.
"A Raka, hayu kita berangkat ke bandara sekarang. Bisi ga keburu sampai disana. Ini sebentar lagi mau jam tiga." Teriak Rafi dengan heboh nya pada Raka. Namun Raka masih tertegun dalam lamunannya. Rafi menepuk bahu Raka mencoba menyadarkan Raka yang masih tertegun. Raka lalu tersadar dan segera menarik tangan Rafi. Mereka lalu berlari keluar dari rumah makan padang tersebut dan segera menghentikan sebuah taksi yang akan membawa mereka berdua ke Bandara.
"Semoga aja masih keburu ya a." Rafi mencoba menyemangati kakak sepupu nya tersebut.
"Aamiin Raf. Kita berdoa aja supaya masih keburu ketemu Nara."
****
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya Raka dan Rafi tiba di Juanda International Airport. Mereka lalu berlari sekencang mungkin mencari ruang tunggu keberangkatan internasional. Karena ini pertama kali mereka menginjakan kaki disini, mereka terlihat kelimpungan mencari ruang tunggu tersebut. Mereka lalu bertanya pada petugas bandara dimana letak ruang tunggunya. Setelah mendapat informasi mengenai ruang tunggu mereka lalu berlari kembali.
"A Raka, itu teh Nara bukan sih?" Tanya Rafi memastikan. Raka lalu menolehkan kepalanya mengikuti arah yang Rafi maksud. Dan benar saja orang itu adalah Nara. Tapi tunggu, Nara sedang berjalan ke arah pintu masuk keberangkatan Internasional. Disana Nara terlihat sedang berjalan bersama seorang pria paruh baya yang Raka yakini adalah Papa nya Nara. Namun Raka tak begitu jelas melihat wajah Papa Nara. Selain Papa Nara disana juga terlihat beberapa orang berbadan tegap yang pernah Raka lihat sewaktu di Ciwidey. Mereka berjalan di belakang mengikuti Nara beserta Papa nya. Raka segera berlari menghampiri Nara. Namun langkahnya dihentikan oleh petugas bandara disana.
"Maaf Pa, bisa tunjukan tiket beserta paspor nya?" Tanya petugas bandara tersebut pada Raka dan Rafi.
"Kita ga punya tiket sama paspor, Pa. Kita kesini cuma buat nemuin pacar kakak saya ini, Pa." Jawab Rafi sambil menarik Raka agar berhadapan dengan petugas bandara tersebut. "Pacar kakak saya ini mau berangkat ke Paris. Dan kakak saya pengen ketemu sama pacar nya dulu. Sebentar aja, Pa. Bisa ya Pa." Sambung Rafi dengan memasang tampang memelasnya.
"Mohon maaf ya, Mas. Tapi tetap ga bisa. Prosedur nya harus seperti itu. Mas sama kakak nya harus punya tiket dan paspor dulu kalau ingin masuk ke dalam." Ujar petugas bandara tersebut dengan sopan.
"Sebentar aja ko pa. Kalau gitu gini aja deh pa, kakak saya biarin masuk ke dalam ketemu pacar nya. Dan sebagai jaminan nya bapak bisa tahan saya aja." Ide Rafi namun petugas bandara tersebut menggelengkan kepala nya menolak usul Rafi. "Tetap tidak bisa, Mas. Kembali lagi pada prosedur nya yang mengharuskan seperti itu. Tak bisa masuk kalau tidak memiliki tiket dan paspor." Tolak petugas bandara tersebut dengan tegas.
"Yaudah kalau gitu terima kasih, Pa. Mohon maaf kalau kami telah mengganggu waktunya. Permisi." Pamit Raka lalu menggandeng Rafi yang sudah menekuk wajah nya karena kesal tak diizinkan masuk.
****
"Gimana Vin? Kamu udah atur semua nya?" Tanya Pa Soeprapto pada Kevin anak nya. Saat ini mereka sedang berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka menuju Paris.
"Sudah Pah. Kevin sudah meminta pihak sekolah dan yang lainnya untuk menyembunyikan identitas Kinar dan tempat tinggal kita." Jawab Kevin dengan suara pelan. Dia takut suara nya terdengar oleh Nara yang sedang tertidur.
"Apa menurut kamu ini yang terbaik, Vin? Bagaimana jika Kinar tau kalau kita mengajak dia ke Paris karena ingin menjauhkan dia dari laki-laki bernama Raka itu."
"Ini yang terbaik untuk sekarang, Pah. Papa ga perlu khawatir. Kinar pasti mengerti kalau apa yang kita lakukan sekarang untuk kebaikannya juga. Kevin ga mau kalau sampai adik Kevin satu-satunya disakiti lagi sama laki-laki itu, Pah." Kevin berusaha meyakinkan Papanya.
Pa Soeprapto lalu menghela nafas nya dengan berat "Lalu sampai kapan Kinar akan tinggal disana? Papa ga sanggup kalau harus jauh dari anak gadis Papa lagi Vin. Papa khawatir dengan dia."
"Sampai keadaannya memungkinkan, Pah. Mungkin sampai laki-laki bernama Raka itu lelah dan menyerah mencari Kinar. Setelah itu kita minta Kinar untuk pulang lagi ke Indonesia. Papa harus bersabar ya. Semua ini demi kebaikannya Kinar." Kevin menggenggam tangan Papa nya yang mulai terlihat keriput tersebut guna meyakinkan Papa nya bahwa cara ini merupakan yang terbaik untuk adiknya.
"Baiklah kalau begitu. Papa percayakan semua nya pada kamu, Vin."
****
Setelah melihat Nara pergi lagi meninggalkannya membuat perasaan Raka saat ini begitu sesak dan sakit. Padahal tinggal sedikit lagi dia bisa bertemu dengan Nara dan mengatakan semua kebenarannya. Mengenai pertunangannya dengan Andini yang telah berakhir. Dan mengenai perasaan cinta nya untuk Nara yang telah tumbuh.
Raka juga ingin mengatakan seluruh isi hati nya pada Nara. Bahwa dia merindukan Nara nya dan ingin Nara kembali lagi pada pelukan nya. Dia benar-benar membutuhkan Nara untuk selalu di sampingnya. Tapi mengapa takdir seolah tak mendukung dan seakan mempermainkan dirinya. Raka berfikir apa ini hukuman untuknya karena dulu telah menyakiti Nara? Mengapa disaat dia menyadari perasaannya untuk Nara dan ingin berjuang untuknya, Nara malah pergi meninggalkan dia. Lalu bagaimana Raka menjalani hari-harinya ke depan tanpa Nara. Sementara dia sudah terbiasa hidup bersama Nara.
Raka bukan tak ingin menyusul Nara kesana. Kalau pun Raka menyusul Nara pergi ke Paris belum tentu dia dapat menemukan Nara disana. Raka pun memutuskan untuk pulang kembali ke Bandung. Dan saat ini Raka dan Rafi tengah berada di kereta yang akan membawa mereka menuju Bandung.
Raka mengusap wajah nya dengan kasar saat mengingat kembali pertemuan dan kebersamaan dia bersama Nara dulu. Dia yang awalnya menolak mati-matian kehadiran Nara dalam hidup nya justru saat ini begitu menginginkannya. Apalagi saat Raka mengingat kemesraan nya bersama Nara juga dosa termanis yang pernah mereka lakukan bersama membuat Raka ingin segera menjadikan Nara pendamping hidupnya.
Raka mengeluarkan ponsel dan headset miliknya dari dalam tas lalu membuka aplikasi Radio. Dia menyambungkan headset pada ponsel nya dan mulai mendengarkan salah satu saluran radio favoritnya.
Air mata nya tak mampu dia cegah ketika saluran radio tersebut memainkan salah satu lagu yang menggambarkan perasaannya saat ini pada Nara. Lagu Hampa milik Ari lasso mewakili suasana hati nya saat ini.
"Apakah disana kau rindukan aku.. Seperti diriku yang selalu merindukanmu.. Selalu merindukanmu.." Raka menyanyikan beberapa bait lagu tersebut dengan lirih sambil menatap keluar jendela yang saat itu tengah hujan.
~flashback off~