Setelah mendapat kabar dari Agus mengenai keadaan Raka, Nara lantas pergi menemui Raka di Apartemen nya diantar oleh Davi. Karena kondisi Raka yang mulai membaik, dia diperbolehkan untuk pulang kemarin. Sementara Agus tidak ikut ke Apartemen karena masih harus mengirim beberapa pesanan lagi.
Sesampainya dipintu Apartemen Raka, Nara lalu menekan kata kunci Apartemen milik Raka. Dan untungnya kata kuncinya masih sama seperti sebelumnya. Dia lalu berjalan memasuki kamar Raka yang untungnya tidak dikunci. Dilihatnya Raka yang terbaring lemah ditempat tidurnya dengan beberapa luka memar yang masih terlihat akibat kecelakaan itu. Nara pun menghampiri Raka dan duduk di sebelah Raka yang masih tertidur. Diusapnya wajah Raka dengan lembut.
Merasa ada yang seseorang yang menyentuh wajahnya, Raka pun membuka matanya. Hatinya berdesir hangat ketika melihat wajah Nara di hadapannya. "Kamu disini?" Tanya Raka dengan suara lemah. Nara pun lalu menghambur kedalam pelukan Raka.
"Maafin Nara Om.. huhu.. Nara udah jahat sama Om. Gara-gara Nara Om jadi kecelakaan gini. Maafin Nara ya.." Ucap Nara sambil menangis dalam pelukan Raka. Senyum pun lalu terbit dari sudut bibir Raka melihat Nara yang begitu mengkhawatirkannya. Raka lalu membalas pelukan Nara dengan sangat erat
"Harusnya aku yang minta maaf Na. Kemarin aku udah berlaku kasar sama kamu. Ga seharusnya aku berlaku seperti itu. Maaf telah membuat kamu takut." Ujar Raka sambil mengelus rambut Nara dengan lembutnya. Namun senyuman Raka seketika meredup ketika melihat sosok Davi yang berdiri diambang pintu kamarnya dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Lari kamu kenceng banget sih Na. Aku cape tau ngejarnya. Untung aja pintu Apartemen nya belum ketutup kalau udah ketutup gimana cara aku masuknya coba." Gerutu Davi dengan kesalnya. Nara pun melepaskan pelukannya pada Raka dan berjalan kearah Davi.
"Hehe.. maaf Dav aku lupa. Aku kira tadi ga ada kamu." Melihat kedekatan Nara dan Davi membuat emosi Raka mulai tersulut kembali.
"Kalau mau pacaran diluar aja. Aku mau istirahat." Ujar Raka dengan nada ketus.
"Kita ga pacaran ko Om. Davi ini sahabat Nara yang pernah Nara ceritain sama Om." Ucap Nara sambil berjalan lagi kearah Raka. Namun Raka malah membuang wajahnya kearah lain tak mau menatap Nara. Melihat emosi Raka yang mulai tersulut kembali lantas membuat Davi tertawa cekikikan. Nara pun menatap wajah Davi yang sedang tertawa dengan tatapan menghunus tajam.
Melihat situasi yang mulai terasa memanas, membuat Davi angkat bicara. "Tenang aja Om. Om ga perlu cemburu sama aku. Aku itu cuma sahabatnya Nara bukan pacarnya. Lagipula aku udah tau kelakuan Nara yang absurd dari oroknya sampai sekarang Om. Jadi aku ga mungkin punya perasaan lebih sama dia. Jadi Om tenang aja. Ok?" Jelas Davi dengan panjang lebarnya.
Raka pun bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan kearah Davi. Lalu dia pergi menyeret Davi keluar dari kamarnya. "Om, kok aku diseret gini sih? Emang aku kambing apa diseret-seret gini?" Teriak Davi tak terima.
"Kamu ganggu istirahatku. Jadi sebaiknya kamu pulang." Ujar Raka sambil manarik tangan Davi agar mau keluar. Merasa bingung Nara pun hanya berjalan mengikuti mereka.
"Terus kenapa Nara ga disuruh keluar juga?" Tanya Davi ketus.
"Nara bakal tidur disini lagi. Dia harus ngerawat dan jagain aku yang lagi sakit. Jadi sebaiknya kamu pulang. Karena keberadaan kamu disini cuma bikin aku jadi tambah sakit." Jawab Raka sambil mendorong Davi keluar dari Apartemennya lalu setelah itu menutup pintu Apartemen.
"Om kenapa nyeret Davi keluar gitu? Kan kasian dia Om. Dia itu sahabat baiknya Nara." Ujar Nara merenggut kesal. Raka lalu melangkah mendekati Nara. Direngkuhnya pinggang Nara agar mendekat. "Aku ga suka kamu peduli dan perhatian dengan lelaki lain. Kamu hanya boleh melakukannya kepadaku. Hanya kepadaku." Bisik Raka dengan suara parau. Lalu Raka melumat bibir Nara dengan lembut.