"Si Om udah pergi ke cafe belum ya?" Nara berbicara pada dirinya sendiri. Daritadi Nara hanya berjalan mondar-mandir tak kunjung keluar dari kamarnya. Dia belum siap kalau harus bertemu Raka. Nara masih merasa malu atas kejadian semalam. Karena penasaran, Nara pun membuka sedikit pintunya. Lalu dia celingak-celinguk di depan pintu untuk memastikan apakah ada tanda-tanda Raka sudah berangkat apa belum. Melihat Apartemen yang sepi membuat Nara yakin kalau Raka sudah berangkat ke cafe. Dia pun lalu bernafas lega.
Nara berjalan menuju meja makan. Sarapan pun sudah tersaji disana. Karena semenjak Nara tinggal di Apartemen Raka, Raka lah yang sering memasak makanan untuk mereka berdua. Nara segera mengambil piring lalu mulai menyendok nasi dan lauknya dengan porsi yang cukup besar. Hari ini dia benar-benar kelaparan. Setelah itu dia melangkah ke arah ruang TV untuk menonton film kartun kesukaannya yang selalu tayang setiap pagi sambil memakan sarapannya.
Karena keasyikan dengan kartun kesukaannya, Nara tak menyadari saat ada seseorang yang masuk dalam Aparteman. "Kamu baru bangun, Na?" Tanya seseorang yang ternyata adalah Raka. Tubuh Nara pun seketika membeku. Dia menelan saliva nya susah payah. Sial, ternyata Raka belum berangkat ke cafe batin Nara dalam hati. Nara pun menolehkan kepalanya secara perlahan sambil nyengir kuda.
"Eh, iya Om. Nara baru bangun ini." Jawab Nara gugup.
"Oh ya udah kamu lanjutin aja sarapannya." Ucap Raka sambil berjalan menuju dapur mengambil jus jeruk kemasan botol dalam kulkas lalu menegaknya hingga habis.
"Om habis darimana? Kenapa ga berangkat ke cafe?" Tanya Nara ragu-ragu.
"Ini kan hari minggu, Na. Ya abis lari pagi lah. Kamu tau kan kebiasaan aku kalau hari minggu ya lari pagi. Paling aku ke cafe nanti aja agak siangan. Memang kenapa, Na?" Raka balik bertanya.
"Eh ga apa-apa ko Om. Cuma nanya aja." Jawab Nara. Nara pun segera memakan makanannya dengan cepat-cepat agar bisa balik lagi ke kamar. Dia benar-benar ga sanggup ketemu Raka sekarang ini. Jantung nya dag dig dug terus. Raka yang melihat tingkah Nara yang lain dari biasanya pun mengernyitkan alisnya.
Setelah sarapannya habis, Nara pun segera berjalan menuju westafel di dapur untuk mencuci piring dan gelas yang telah dipakainya.
"Kamu kenapa sih, Na? Ko kayak gugup gitu?" Tanya Raka sambil mengekori Nara ke dapur.
"Ga apa-apa ko Om." Jawab Nara kikuk sambil menundukan kepalanya. Raka pun mulai tersadar apa yang terjadi dengan Nara. Lalu dia tersenyum geli melihat tingkah Nara. Raka mendekatkan wajahnya pada Nara lalu membisikan sesuatu ditelinga Nara.
"Apa kamu gugup karena teringat kejadian semalam?" Tanya Raka sambil tersenyum menyeringai.
"Ih ngga ko kata siapa? Nara ga gugup ko." Jawab Nara dengan wajah meronanya
"Terus itu kenapa wajah kamu jadi memerah begitu? Persis kepiting rebus tau ga." Bisik Raka lagi . Karena merasa tak nyaman berada didekat Raka, Nara pun memukul lengan Raka.
"Ih.. Om awas dulu ih.. Jangan menghalangi Nara. Nara mau masuk ke kamar ini." Ucap Nara sedikit ketus.
"Ngga mau." Tolak Raka.
"Ih Om.. awas dulu." Ucap Nara masih dengan menundukan kepalanya dan memukul lengan Raka yang tegap.
"Coba lihat dulu wajahnya. Ga sopan bicara sama orang yang lebih dewasa dengan menunduk seperti itu Nara." Ujar Raka tegas. Nara pun lalu mendongkakkan wajahnya menatap Raka. Raka pun tersenyum dengan tingkah Nara yang terlihat menggemaskan dimatanya. Lalu dia mengecup bibir Nara sekilas.
"Ih Om kenapa malah nyium Nara?" Tanya Nara kesal.
"Loh memangnya kenapa?" Raka balik bertanya.
"Jorok tau Om. Nara baru beres makan ini. Belum sikat gigi." Jawab Nara polos yang sontak membuat Raka terkekeh geli.
"Jadi kalau habis sikat gigi mau dicium lagi?" Raka bertanya menggoda.
"Ih ga gitu juga Om. Maksud Nara itu bukan gi.." Ucapan Nara pun terhenti saat Raka melumat bibirnya dengan tiba-tiba. Lalu memebelit lidah Nara dengan gencarnya. Nara pun mencoba memberontak, tapi tenaganya kalah dengan Raka. Lama kelamaan, Nara pun mulai tergoda dengan ciuman yang Raka berikan padanya. Lalu Nara membalas ciuman yang dilakukan oleh Raka serta mengalungkan tangannya di leher Raka. Raka pun hanya tersenyum dalam ciumannya.
Raka memperdalam ciumannya pada Nara dengan menekan tengkuk Nara sambil memeluk pinggangnya. Karena merasa kurang puas, Raka manaikkan kedua kaki Nara di pinggangnya lalu menggendong Nara bagai koala. Raka menggendong Nara menuju meja makan sambil terus menciumnya. Sesampainya di meja makan, Raka mulai turun menciumi leher Nara dan memeberikan beberapa tanda kepemilikannya disana. Hingga terdengar suara desahan Nara yang membuat Raka lebih bersemangat.
"Ah Om.. Aku.. aku.." Ucap Nara terputus. Raka pun melihat mata Nara yang sayu dan dipenuhi oleh gairah. Benar-benar menggodanya batin Raka
"Yes Baby.. why?" Tanya Raka sambil terus mencium leher Nara.
"Om.. Nara.. Nara."
"Yah.. Kenapa Na?" Tanya Raka lagi yang sedang diselimuti oleh gairahnya.
"Nara ga kuat Om. Kebelet pengen pipis." Jawab Nara lalu melompat dari meja makan dan berlari menuju kamarnya. Tidak lupa dia mengunci pintu kamarnya. Raka pun dibuat cengo oleh tingkah Nara. Dia pun lalu mendengus kesal.
"Ah sial.. sepertinya aku harus mandi ini buat ngeredamnya. Padahal udah mau sampai puncaknya." Ucap Raka frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.