Aku baru saja pergi dari kediaman Sena setelah menumpang sarapan disana karena keponakanku yang lucu terus bertanya kapan aku datang untuk memberikan hadiah ulang tahun yang sebelumnya aku janjikan. Melihat adikku akhirnya bahagia dengan pasangan dan hidupnya, aku merasa sangat lega. Dan karena sekarang sudah ada yang melindunginya, aku jadi bisa fokus mengurus urusan yang sebelumnya aku tunda karena khawatir dengan keselamatannya.
"Boss, sesuai prediksi anda, Tuan Hanara sudah bertemu beberapa kali dengan Miss Judy di Singapore. Kemungkinan, kontrak mereka akan diselesaikan dalam waktu dekat." ucap Asistenku.
"Baguslah, perangkap kita kali ini, akan menjeratnya sampai ke dasar jurang." balasku sambil tersenyum simpul. Selama ini, aku dijuluki Raja Balas Dendam, karena dendam dan masalah semua teman-temanku, aku yang menyelesaikannya dengan rapih. Tapi dendam atas kematian ibuku, baru bisa aku urus sekarang karena sebelumnya aku mengkhawatirkan keselamatan Sena.
"Apa yang akan anda lakukan selanjutnya jika Tuan Hanara berhasil di jerat oleh Miss Judy?" Steven, Asistenku kembali bertanya. Dia memang tipe orang yang selalu ingin tahu.
"Balas dendam itu, baru akan terasa lezat jika kita nikmati pelan-pelan, Steven. Kerja samanya dengan Judy, tidak akan langsung membuatnya bangkrut dan hancur. Dia akan menikmati kesuksesan kecilnya lebih dulu. Karena menjatuhkan seseorang saat dia berada di posisi paling tinggi, rasa sakit yang dia terima akan semakin besar. Jadi kita harus bersabar sambil mengurus masalah lain." ucapku sambil menyunggingkan senyuman licik.
"Boss, ponsel anda berdering. Tuan Adrian memanggil anda." ucap Steven kemudian menyodorkan ponsel pribadiku yang di pegangnya.
"Kenapa lagi? Aku sudah bilang padamu kalau aku mengajukan cuti untuk beberapa tahun kedepan karena aku butuh mengurus masalahku sendiri, Adrian!" balasku ketus. Laki-laki itu justru terkekeh di seberang sana.
"Kabarnya kamu sedang mengincar keluarga Hanara? Aku hanya memberi saran, sebaiknya kamu selidiki istrinya. Dia terlihat terlalu berani di depan istriku, padahal dia bukan siapa-siapa." ucapan Adrian memiliki arti yang sederhana. 'Melinda Hanara sudah menganggu Lisa, karena itu aku juga harus membereskannya seperti biasa.' Tapi karena kebetulan sekali hal ini berhubungan dengan masalah yang sedang aku selesaikan, maka tidak ada yang perlu aku ributkan meskipun aku sedang cuti.
"Aku akan mengurusnya." balasku kemudian langsung mematikan sambungan telponku. Sahabatku yang cerewet itu, baru saja mendapatkan seorang putri yang sudah lama dia idam-idamkan. Karena itu dia jadi sangat sensitif jika ada yang berani mengganggu keluarganya.
Perjalanan kami menembus kemacetan Jakarta akhirnya berakhir di Bandara. Siang ini aku harus bertolak ke Singapore untuk mengurus bisnisku disana. Tapi baru setengah perjalanan menuju Gate Pribadiku, ponselku kembali berdering. Kali ini bukan dari Adrian si cerewet itu, tapi dari orang Rumah. Mereka tidak akan menghubungiku jika tidak ada sesuatu yang genting.
"Ada apa, Haikal?"
"Boss, ada seorang gadis yang mengalahkan semua penjaga di depan dan memaksa masuk. Dia mengaku sebagai calon istri anda." ucapan Haikal membuat dahiku mengerut. Calon istri apanya? Aku jelas tidak dekat dengan siapapun karena sedang Fokus mengurus keluarga Hanara.
"Urus dia seperti biasanya Haikal! Apakah untuk penganggu kecil seperti itu saja kamu harus menghubungiku?" balasku jengkel.
"Yang jadi masalah, dia adalah putri bungsu dari Tuan Hanara. Karena itu kami tidak bisa macam-macam. Dia juga mengancam akan mengiris pergelangan tangannya jika tidak bisa bertemu dengan ada." jawaban Haikal membuat aku mendesah berat.
"Katakan padanya aku sedang ada di Luar Negri."
"Saya sudah mengatakannya Boss, tapi dia tidak percaya."
"Berikan ponselnya pada si pengganggu itu!" Dengusku kesal. Tidak lama kemudian sebuah suara yang terdengar kekanakan terdengar di telingaku.
"Om, aku memiliki penawaran yang pasti akan membuat kamu tergiur. Karena itu..."
"Enyah dari kediamanku, anak kecil!" potongku cepat. Gadis itu terdengar mendesah kecil.
"Om, kamu akan menyesal kalau menolakku. Btw kapan Om akan pulang ke Indonesia? Bagaimana kalau kita bertemu di dekat sekolahku? Aku benar-benar akan memberikan Informasi yang sangat bagus." ucapnya banyak bicara. Tapi aku terganggu dengan panggilannya padaku.
"Siapa bilang kamu boleh memanggilku Om huh? KIta tidak ada hubungan darah apapun, jadi jangan memanggilku seolah kita sedekat itu, Kutu kecil sialan?"
"Aku baru berusia tujuh belas tahun, sementara kamu sudah tiga puluh lebih. Lalu aku harus memanggil apa om? bukankah panggilan kakak sedikit berlebihan, untuk jarak usia kita yang terpaut jauh?" ucapannya semakin menyebalkan. Aku yakin sekali dia adalah tipe orang yang akan membuatku darah tinggi jika terlalu lama aku tanggapi.
"Enyah dari rumahku, atau aku akan memanggil polisi agar kamu di seret keluar dengan paksa?" Ancamku sudah kehabisan kesabaran.
"Aku memiliki bukti keterlibatan keluargaku dengan kematian ibu kamu, beberapa tahun lalu." balasan gadis pengganggu itu, membuat langkahku terhenti. "Ka-karena itu, temui aku di sekolah saat om pulang. Bai-bai!" tambahnya lagi kemudian langsung menutup telpon. Aku mengumpat kesal kemudian menghubungi Haikal lagi, tapi gadis itu kabarnya langsung pergi setelah berbicara denganku.
"Dasar gadis licik sialan!" umpatku jengkel.
"Apakah anda akan menemuinya, Boss?" Steven bertanya dengan penasaran.
"Kamu pikir dia benar-benar memiliki bukti yang bahkan aku sendiri masih belum bisa menemukannya Steven? jangan bercanda!" balasku ketus. Steven diam saja dan kami melanjutkan perjalanan kami ke Singapore, tapi entah kenapa aku terus kepikiran dengan semua ucapan gadis itu. "Minta Al untuk menyelidiki lebih jauh tentang pengganggu dari keluyarga Hanara itu!" ucapku pada Steven, sebelum masuk ke dalam kamar untuk istirahat. Dua hari kemudian, bertepatan dengan selesainya urusanku di Singapore, hasil penyelidikian gadis licik itu dikirim oleh Al ke dalam ponselku.
Sebelumnya aku tidak terlalu peduli dengannya, karena dia hanya anak haram dari keluarga Hanara yang posisinya dalam hal pewaris sangat rendah. Namanya Amanda Aurora Hanara, seorang gadis pendiam yang masih duduk di bangku SMA. Kegiatannya sangat monoton, karena hanya pergi ke sekolah dan pulang. Tidak memiliki kegiatan di luar seperti kakak-kakaknya yang dibekali dengan berbagai kelas tambahan. Dianggap anak tidak berguna karena prestasinya di sekolah biasa saja. Memiliki seorang kekasih bernama Wildan yang aku ketahui sebagai salah satu putra dari pemilik bisnis Mini Market yang berkoalisi dengan Setyo Aji. Tapi pendiam? aku tidak percaya dengan kalimat ini karena dia jelas sangat cerewet ketika menghubungiku sebelumnya.
"Hanya begini saja?" ucapku entah kenapa sedikit kecewa. Karena untuk seseorang yang sampai berani membuat onar di kediamanku, seharusnya dia memiliki sesuatu yang mengesankan.
"Apa anda akan menemuinya Boss?" Steven bertanya lagi. Saat ini kami sudah sampai di Indonesia dan sudah berada di dalam Mobil.
"Sekolahnya dekat sini bukan?" tanyaku membuat raut wajah Steven sedikit terkejut. Jujur saja aku memang lebih suka membuang orang-orang yang menurutku tidak berguna dan bergaul dengan orang-orang yang bisa aku manfaatkan saja. Biasanya, pengganggu seperti Amanda tidak akan membuatku ingin bertemu, tapi entah kenapa firasatku mengatakan hal lain.
"Benar Boss, kami akan mampir?" tanya Steven lagi memperjelas.
"Ayo kita lihat-lihat sebentar." balasku tanpa menoleh.
"Baik Boss!" ucap supir yang menjemputku dan Steven ke Bandara.
Ketika Mobil kami sampai di depan sebuah Sekolah yang terlihat sangat megah itu, aku tersenyum simpul. "Seorang bebek dengan sangkar emas seperti ini, berani sekali dia mengganggu kediamanku. Apakah dia pikir, ayahnya akan bisa melindunginya dariku?" ucapku dengan nada tidak suka. Tapi aku tetap turun dari mobilku dan bersandar disana sambil melihat-lihat. Tidak ada tanda-tanda kehadirannya karena sebelumnya kami memang tidak membuat janji yang pasti. Aku sendiri bingung kenapa aku mengarahkan anak buahku untuk membawaku sampai ke sekolah si pengganggu itu.
"Ternyata Om benar-benar datang! Sesuai dug..." ucapannya terhenti ketika aku berbalik menatapnya yang datang dari arah belakang. Matanya membulat dengan sempurna, entah kenapa aku bisa melihat pipinya memerah dan ekspresinya seperti terkejut. Apakah dia belum pernah melihat orang dengan tubuh besar sepertiku sebelumnya?
"Kamu tentunya tidak akan berpikir aku tidak membuat perhitungan denganmu setelah kamu datang ke rumahku dan membuat keributan kan, Amanda?" aku sengaja bicara dengan penuh penekanan agar dia takut. Sejujurnya setelah melihat gadis lemah dengan semua barang mahal yang melekat di tubuhnya itu, aku jadi malas untuk berurusan dengannya lagi. Selain itu ada bau yang lumayan menggangguku. Bukan bau parfum mewah seperti yang aku bayangkan, tapi gadis ini memiliki bau seperti Athena keponakanku. Perpaduan minyak telon dan Parfum aroma Apel yang tercium sangat menggoda di hidungku. Aku jadi merasa seperti laki-laki b******k karena bau ini terasa seksi di hidungku.
"Om, ayo kita menikah! Nikahi aku Om! Tolong rebut aku dari ayahku, setelah itu aku akan pastikan om mendapatkan apapun yang om inginkan dari keluargaku. Bagaimana? bukankah ini tawaran yang menggiurkan? Selain mendapatkan gadis cantik seperti aku, om juga akan dapat banyak informasi. Ini adalah tawaran paling mengun..."
"Kamu gila yah?" potongku dengan ekspresi yang aku yakin tidak enak dipandang. Apa-apaan gadis berisik ini? Tiba-tiba saja dia memintaku menikah dengannya setelah keributan yang terjadi sebelumnya? Apakah otaknya tidak waras? Tapi sejujurnya informasi yang dia miliki tentang balas dendamku pada keluarga Hanara, sejujurnya lumayan membuatku terkejut. Karena sejauh ini Hanara sendiri tidak mungkin mengetahui aku mengincarnya. Dia juga seharusnya tidak tahu kalau aku adalah putra dari mantan pembantu Rumah Tangga yang dulu mati di kediamannya karena dibunuh. Dari mana Amanda mengetahui hal ini? Apa jangan-jangan Hanara sudah mengetahui identitasku? Jadi banyak pertanyaan di kepalaku karena gadis kecil yang berisik ini, terlalu banyak tahu.
"Kalau aku gila, aku tidak akan menawarkan ini pada Om tampan." ucapnya dengan senyuman yang mencurigakan.
"Justru karena kamu menggangguku, maka kamu cocok disebut orang gila." balasku penuh penekanan. Aku mendesah dan merasa membuang waktu berhargaku hanya untuk menemui gadis remaja tidak penting yang berisik ini. Tapi ketika aku berbalik hendak pergi, sebuah botol plastik terbang dan mengarah ke arahnya. Reflek tanganku menangkapnya dan mataku langsung menemukan sumber dari lemparan ini. Seorang gadis dengan ekspresi sombong menatapku dengan menantang.
"Sebaiknya anda jauhi pembawa sial itu. Dia hanya akan membuat hidup anda sulit." ucapnya padaku. Aku langsung menoleh ke arah Amanda dan detik itu aku langsung memahami satu hal. Gadis itu di bully di sekolahnya. Tapi bukan kapasitasku untuk ikut campur. Karena itu aku melempar kembali botol plastik itu ke tong sampah yang ada di belakang gadis pelempar itu. Dia sedikit berteriak kaget karena dia pikir benda itu mengarah padanya. Matanya menatap nyalang ke arahku dengan kemarahan.
"Setidaknya dia tidak dengan sengaja ingin menyakiti orang lain seperti orang-orang rendahan yang berpikir dirinya hebat karena memiliki orang tua yang berkuasa." ucapku kemudian masuk ke dalam Mobil dan menyuruh supirku untuk meninggalkan tempat itu.
"Saya sedikit terkejut Boss mau ikut campur urusan orang seperti tadi." ucap Steven berkomentar. Aku tahu nadanya sedikit meledek. Apalagi bibirnya menyunggingkan senyuman yang menyebalkan.
"Kamu pikir seleraku gadis SMA seperti dia Steven? Jangan bercanda!" balasku jengkel.
"Siapa yang membahas selera anda Boss? Atau jangan-jangan..."
"Jangan berisik atau aku sumpal mulutmu yang selalu ingin tahu itu!" potongku cepat. Steven menahan senyumnya sambil membuat gerakan seperti mengunci bibirnya dengan menyebalkan. Setelahnya dia diam, tapi aku tahu otaknya sedang memikirkan hal yang tidak-tidak. Untung saja kinerjanya sebagai Asisten sangat bagus, jika tidak, aku pasti sudah memukul laki-laki kepo itu.
***
Dua bulan berlalu sejak kejadian itu dan aku tidak lagi menemui Amanda meskipun beberapa kali dia datang ke rumah ingin menemuiku. Aku sejujurnya lumayan terganggu dengan informasi yang dia miliki tentang balas dendamku. Tapi aku tidak memiliki alasan untuk menerima permintaanya karena tanpa bantuannya pun, aku tetap bisa menghancurkan Hanara.
"Mungkin Boss tidak ingin tahu, tapi sebagai asisten yang baik, aku tetap akan memberitahu berita tidak penting yang mungkin tidak akan membuat anda tertarik." ucap Steven dengan ekspresi mencurigakan.
"Katakan!" perintahku sambil menatapnya penasaran. Asistenku yang nakal itu tersenyum lebar.
"Ini tentang Nona Amanda, sebenarnya dia..."
"Berhenti! Aku tidak ingin tahu apapun tentang gadis pengganggu itu." potongku cepat sambil kembali fokus pada pekerjaanku.
"Tapi Boss!"
"Diam Steven! Aku mempekerjakanmu bukan untuk..."
"Jika Boss tidak menyelamatkannya, dia akan dijual pada situa bangka yang menyebalkan itu."
"Apa kamu bilang?" aku langsung menoleh tanpa berpikir dengan terkejut.
"Saya mendengar kabar kalau dia hendak dinikahkah dengan Tono setelah pendidikannya di SMA elit itu selesai. Pernikahan yang menjadi syarat kerja sama bisnis." ucapan Steven membuatku kehilangan kata-kata selama beberapa detik. Semua orang tahu sebusuk Apa Hartono itu, tapi Hanara sialan itu mau menjual putrinya sendiri padanya demi sebuah bisnis? Apakah dia layak disebut manusia? Aku benar-benar tidak habis pikir.
"Dasar b******n gila sialan!" umpatku keras. Aku paling membenci orang-orang yang menyakiti keluarganya sendiri hanya demi sebuah keuntungan. Karena itu kebencianku pada Hanara semakin besar setelah mendengarkan informasi ini.
Sekarang aku jadi mengerti kenapa gadis itu nekad datang ke tempatku dan membuat keributan. Bukan hanya itu saja, dia juga dengan berani menawarkan sebuah pernikahan padaku yang jelas-jelas memiliki selisih umur sangat jauh dengannya. Amanda pasti bukan hanya dibully di sekolah, tapi dia juga dibully atau mungkin disiksa oleh keluarganya sendiri. Sejujurnya luka di pergelangan tangannya yang sempat aku lihat sedikit ketika seragam lengan panjangnya sedikit tersingkap, lumayan menggangguku. Gadis itu jelas tidak baik-baik saja. Apakah aku akan diam saja? Benarkah aku tidak akan peduli dengan hal itu? Entah kenapa beberapa bulan ini gadis itu lumayan membuatku pikiranku terganggu.
"Boss akan diam saja?" Steven kembali bertanya.
"Memangnya apa hubungannya denganku? Itu bukan urusanku dia mau menikah dengan siapapun." jawabku reflek menggigit bibir sambil menatap ke luar jendela kantorku. Sejujurnya hal ini menjadi sangat mengganggu kepalaku sekarang. Tapi jika aku peduli padanya, maka hal ini akan tidak sesuai dengan kebiasaanku dan Steven akan meledekku.
"Boss, bukankah akan menguntungkan jika anda mengambilnya sebagai tawanan?"
"Tawanan? Apa maksudmu?" tanyaku penasaran.
"Meskipun Tuan Hanara tidak terlalu mempedulikannya, dia tetap memiliki nama belakang Hanara. Itu artinya dia tetap memiliki peluang sebagai pewaris. Jika anda menghancurkannya di masa depan, Hanara tetap akan di rugikan. Atau anda bisa saja menjadi pendukungnya untuk posisi pewaris sehingga mengusik putra pertama Hanara yang sombong itu. Ketika dia berhasil mendapatkan hak waris untuk semua harta Hanara, anda akan lebih mudah menghancurkannya bukan? Lagipula membiarkan dia yang tahu rencana balas dendam anda berada di pihak lain, bukankah ini akan merugikan?" ucapan Steven masuk akal. Tapi aku tahu kalau merebutnya dari Hanara tidak akan semudah itu.
"Tapi dia masih anak kecil Steven! Bukankah aku akan ditangkap polisi kalau menikahinya?" pertanyaanku membuat Steven tersenyum meledek.
"Saya menyarankan anda untuk menjadikan dia tawanan, kenapa anda langsung membahas pernikahan? Apakah anda ingin menikahinya Boss?"
"Diam Steven! Kamu keluar dan urus masalah itu!" teriakku jengkel. Laki-laki itu keluar dari ruanganku sambil terkikik menyebalkan. Dan entah kenapa aku cukup malu dengan situasi tadi.
***