“Capek, Sayang?” tanya Lian saat menoleh pada istrinya. Gadis itu tersenyum senang. Dia terlihat bahagia meskipun keringat di dahinya sudah sebesar biji jagung. Vega menggeleng pelan sebagai jawaban. Lian terkekeh kecil. Pria itu melepas sarung tangannya dan menghampiri sang istri. Dia mengambil sapu tangan dari dalam sakunya. Lalu memakainya untuk mengelap keringat di wajah Vega dengan lembut. “Kalau capek istirahat aja. Biar aku yang terusin,” ujarnya. Vega menggeleng cepat. “Aku masih kuat, kok.” “Yakin?” tanya Lian sangsi. Sebenarnya dia ragu saat mengajak Vega bekerja di sawah seperti sekarang. Tapi istri cantiknya itu terus merengek dan memaksa ikut. Dia tidak mau ditinggal Lian sendirian di rumah. “Yakin!” balas Vega mantap. Senyum manisnya mengembang sempurna dan membuat Lian

