Karan mendekati Qizvy dan mengamati dengan seksama wajah dari sahabatnya itu. Ada cairan yang terlihat keluar dari kedua sudut mata Qizvy, hidungnya dan sudut bibirnya. Karan seketika menjadi sangat ketakutan. Temannya seperti tidak bernapas lagi. Karan menyentuh pipi Qizvy dan lendir yang seringkali membuat orang begitu jijik pada Qizvy, semakin banyak dan mengental. Dingin yang pasti, tidak ada kehangatan pada tubuh Qizvy. Karan meletakkan jemarinya di bawah lubang hidung Qizvy dan tidak ada hembusan napas di sana. Karan menatap bagian depan dari tubuh sahabatnya dan tak ada detak apa pun juga di sana. “Qizvy! Qizvy! Ayo, bangun!” seru Karan menggoyangkan tubuh temannya tetapi tidak ada reaksi, malahan tubuh itu merosot turun dari kursi tempat Qizvy bersandar dan ia anggap sebagai

